Minggu, 22 Agustus 2010

TINGKAT KEAMANAN OBAT TRADISIONAL DAN TANAMAN OBAT

TINGKAT KEAMANAN OBAT TRADISIONAL DAN TANAMAN OBAT

ABSTRAK
Penggunaan bahan alam, baik sebagai obat maupun tujuan lain cenderung meningkat, terlebih dengan adanya isu back to nature serta krisis berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat. Obat tradisional dan tanaman obat banyak digunakan masyarakat menengah kebawah terutama dalam upaya preventif, promotif dan rehabilitatif. Sementara ini banyak orang beranggapan bahwa penggunaan tanaman obat atau obat tradisional relatip lebih aman dibandingkan obat sintesis. Walaupun demikian bukan berarti tanaman obat atau obat tardsional tidak memiliki efek samping yang merugikan, bila penggunaannya kurang tepat. Agar penggunaannya optimal, perlu diketahui informasi yang memadai tentang kelebihan dan kelemahan serta kemungkinan penyalahgunaan obat tradisional dan tanaman obat. Dengan informasi yang cukup diharapkan masyarakat lebih cermat untuk memilih dan menggunakan suatu produk obat tradisional atau tumbuhan obat dalam upaya kesehatan.

PENDAHULUAN
Setiap manusia pada hakekatnya mendambakan hidup sehat dan sejahtera lahir dan batin. Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, disamping kebutuhan akan sandang, pangan, papan dan pendidikan, karena hanya dengan kondisi kesehatan yang baik serta tubuh yang prima manusia dapat melaksanakan proses kehidupan untuk tumbuh dan berkembang menjalankan segala aktivitas hidupnya. Maka tidak terlalu berlebihan, jika ada selogan “Kesehatan memang bukan segala-galanya, tetapi tanpa kesehatan anda tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan segala-galanya itu mungkin akan sirna”.
Bertolak dari hal itu maka upaya kesehatan terpadu (sehat jasmani, rokhani dan sosial) mutlak diperlukan baik secara pribadi maupun kelompok masyarakat untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010. Keterpaduan upaya kesehatan tersebut meliputi pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) serta peningkatan kesehatan (promotif). Berbagai cara bisa dilakukan dalam rangka memperoleh derajat kesehatan yang optimal, salah satunya dengan memanfaatkan tanaman obat yang dikemas dalam bentuk jamu atau obat tradisional.
Adapun yang dimaksud dengan obat tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan galenik atau campuran bahan-bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Pada kenyataannya bahan obat alam yang berasal dari tumbuhan porsinya lebih besar dibandingkan yang berasal dari hewan atau mineral, sehingga sebutan obat tradisional ( hampir selalu identik dengan tanaman obat karena sebagian besar obat tradisional berasal dari tanaman obat. Obat tradisional ini (baik berupa jamu maupun tanaman obat) masih banyak digunakan oleh masyarakat, terutama dari kalangan menengah kebawah. Bahkan dari masa ke masa obat tradisional mengalami perkembangan yang semakin meningkat, terlebih dengan munculnya isu kembali ke alam (back to nature) serta krisis yang berkepanjangan. Namun demikian dalam perkembangannya sering dijumpai ketidak tepatan penggunaan obat tradisional karena kesalahan informasi maupun anggapan keliru terhadap obat tradisional dan cara penggunaannya. Dari segi efek samping memang diakui bahwa obat alam memiliki efek samping relatif kecil dibandingkan obat modern, tetapi perlu diperhatikan bila ditinjau dari kepastian bahan aktif dan konsistensinya yang belum dijamin terutama untuk penggunaan secara rutin.
Berdasarkan hal itu, makalah ini mencoba memaparkan beberapa aspek obat tradisional atau tanaman obat, terkait dengan manfaat dan keamanannya untuk menambah informasi tentang tanaman obat/obat tradisional.

Kelemahan Produk Obat Alam / Obat Tradisional
Disamping berbagai keuntungan, bahan obat alam juga memiliki beberapa kelemahan yang juga merupakan kendala dalam pengembangan obat tradisional (termasuk dalam upaya agar bisa diterima pada pelayanan kesehatan formal). Adapun beberapa kelemahan tersebut antara lain : efek farmakologisnya yang lemah, bahan baku belum terstandar dan bersifat higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme. Menyadari akan hal ini maka pada upaya pengembangan obat tradisional ditempuh berbagai cara dengan pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga ditemukan bentuk obat tradisional yang telah teruji khasiat dan keamanannya, bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah serta memenuhi indikasi medis; yaitu kelompok obat fitoterapi atau fitofarmaka Akan tetapi untuk melaju sampai ke produk fitofarmaka, tentu melalui beberapa tahap (uji farmakologi, toksisitas dan uji klinik) hingga bisa menjawab dan mengatasi berbagai kelemahan tersebut.
Efek farmakologis yang lemah dan lambat karena rendahnya kadar senyawa aktif dalam bahan obat alam serta kompleknya zat balast/senyawa banar yang umum terdapat pada tanaman. Hal ini bisa diupayakan dengan ekstrak terpurifikasi, yaitu suatu hasil ekstraksi selektif yang hanya menyari senyawa-senyawa yang berguna dan membatasi sekecil mungkin zat balast yang ikut tersari. Sedangkan standarisasi yang komplek karena terlalu banyaknya jenis komponen obat tradisional serta sebagian besar belum diketahui zat aktif masing-masing komponen secara pasti, jika memungkinkan digunakan produk ekstrak tunggal atau dibatasi jumlah komponennya tidak lebih dari 5 jenis tanaman obat. Disamping itu juga perlu diketahui tentang asal-usul bahan, termasuk kelengkapan data pendukung bahan yang digunakan; seperti umur tanaman yang dipanen, waktu panen, kondisi lingkungan tempat tumbuh tanaman (cuaca, jenis tanah, curah hujan, ketinggian tempat dll.) yang dianggap dapat memberikan solusi dalam upaya standarisasi tanaman obat dan obat tradisional. Demikian juga dengan sifat bahan baku yang higroskopis dan mudah terkontaminasi mikroba, perlu penanganan pascapanen yang benar dan tepat (seperti cara pencucian, pengeringan, sortasi, pengubahan bentuk, pengepakan serta penyimpanan).

EFEK SAMPING TANAMAN OBAT/OBAT TRADISIONAL
Dari definisi Obat Tradisional yang telah direkomendasikan Depkes (sebagaimana disebutkan pada awal tulisan ini) terdapat kalimat “…yang secara tradisional digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman”. Pada kata ‘secara tradisional’ tersirat makna bahwa segala aspeknya (jenis bahan, cara menyiapkan, takaran serta waktu dan cara penggunaan) harus sesuai dengan warisan turun-temurun sejak nenek moyang kita. Penyimpangan terhadap salah satu aspek kemungkinan dapat menyebabkan ramuan obat tradisional tersebut yang asalnya aman menjadi tidak aman atau berbahaya bagi kesehatan. Pada hal jika diperhatikan, seiring perkembangan jaman banyak sekali hal-hal tradisional yang telah bergeser mengalami penyempurnaan agar lebih mudah dikerjakan ulang oleh siapapun. Misalnya tentang peralatan untuk merebus jamu, dulu masih menggunakan kwali dari tanah liat sekarang sudah beralih ke panci dari aluminium, untuk menumbuk sudah menggunakan alat-alat dari logam dan tidak lagi menggunakan alu dari kayu atau batu, dan lain sebagainya.
Disamping itu perlu disadari pula bahwa memang ada bahan ramuan obat tradisional yang baru diketahui berbahaya, setelah melewati beragam penelitian, demikian juga adanya ramuan bahan-bahan yang bersifat keras dan jarang digunakan selain untuk penyakit-penyakit tertentu dengan cara-cara tertentu pula. Secara toksikologi bahan yang berbahaya adalah suatu bahan (baik alami atau sintesis, organik maupun anorganik) yang karena komposisinya dalam keadaan, jumlah, dosis dan bentuk tertentu dapat mempengaruhi fungsi organ tubuh manusia atau hewan sedemikian sehingga mengganggu kesehatan baik sementara, tetap atau sampai menyebabkan kematian. Suatu bahan yang dalam dosis kecil saja sudah menimbulkan gangguan, akan lebih berbahaya daripada bahan yang baru dapat mengganggu kesehatan dalam dosis besar. Akan tetapi bahan yang aman pada dosis kecil kemungkinan dapat berbahaya atau toksis jika digunakan dalam dosis besar dan atau waktu lama, demikian juga bila tidak tepat cara dan waktu penggunaannya. Jadi tidak benar, bila dikatakan obat tradisional/tanaman obat itu tidak memiliki efek samping, sekecil apapun efek samping tersebut tetap ada; namun hal itu bisa diminimalkan jika diperoleh informasi yang cukup. Ada beberapa contoh, antara lain mrica (Piperis sp.) pada satu sisi baik untuk diabetes, tetapi mrica juga berefek menaikkan tekanan darah; sehingga bagi penderita diabet sekaligus hipertensi dianjurkan tidak memasukkan mrica dalam ramuan jamu/obat tradisional yang dikonsumsi. Kencur (Kaempferia galanga) memang bermanfaat menekan batuk, tetapi juga berdampak meningkatkan tekanan darah; sehingga bagi penderita hipertensi sebaik-nya tidak dianjurkan minum beras-kencur. Demikian juga dengan brotowali (Tinospora sp.) yang dinyatakan memiliki efek samping dapat mengganggu kehamilan dan menghambat pertumbuhan plasenta.
Walaupun demikian efek samping tanaman obat/obat tradisional tentu tidak bisa disamakan dengan efek samping obat modern. Pada tanaman obat terdapat suatu mekanisme yang disebut-sebut sebagai penangkal atau dapat menetralkan efek samping tersebut, yang dikenal dengan SEES (Side Effect Eleminating Subtanted). Sebagai contoh di dalam kunyit terdapat senyawa yang merugikan tubuh, tetapi di dalam kunyit itu juga ada zat anti untuk menekan dampak negativ tersebut. Pada perasan air tebu terdapat senyawa Saccharant yang ternyata berfungsi sebagai antidiabetes, maka untuk penderita diabet (kencing manis) bisa mengkonsumsi air perasan tebu, tetapi dilarang minum gula walaupun gula merupakan hasil pemurnian dari tebu.
Selain yang telah disebutkan diatas, ada beberapa tanaman obat/ramuan yang memang berefek keras atau mempunyai efek samping berbahaya terhadap salah satu organ tubuh. Selengkapnya tanaman obat tersebut seperti tersaji pada tabel berikut :

Tanaman Obat/Ramuan Obat Tradisional yang berefek keras/efek samping berbahaya

NO EFEK TERHADAP CONTOH TANAMAN OBAT
1. Jantung Daun digitalis, daun oleander, daun senggunggu
2. Susunan syaraf otonom Umbi gadung, biji saga, daun dan buah kecubung, daun gigil, biji jarak, daun tuba
3. Susunan Syaraf Pusat Daun koka
4. Sistem Pencernaan Biji ceguk, daun widuri
5. Saluran Pernafasan Kulit buah jambu monyet
6. Sistem Reproduksi Wanita (Abortivum) Jungrahap, jarong, daun maja, akar kelor, buah nanas muda
7. Sistem Reproduksi Pria Penurun libido, biji kapas
Melemahkan spermatozoa, biji pare
8. Saluran Kencing Diuretik kuat, daun keji beling, meniran
Memacu batu ginjal, bayam, kubis, nenas

9. Hati/Lever Konfrei, arak, daun imba
10. Meningkatkan kadar asam urat darah Mlinjo, kacang-kacangan
11. Menurunkan Jumlah Sel Darah Putih Ochrosia spp.
Vinca rosea (daun tapak dara)


Demikian juga dari suatu hasil percobaan toksisitas dan kandungan senyawa kimia yang berbahaya yang pernah dipublikasikan pada suatu artikel, antara lain menyebutkan sebagai berikut :
a. Beberapa tanaman yg telah diketahui mengandung bahan yang berbahaya
1. Dari suku Euphorbiaceae :
• Phylanthus sp. : mengandung ester phorbol yang dinyata-kan dapat merangsang virus Epstein-Borr (dalam waktu lama menyebabkan karsinoma)
• Recinus comunis : bijinya mengandung protein risin, yang apabila diabsorpsi dalam bentuk asli, akan meng-hambat sintesis protein, karena dapat mengacaukan proses metabolisme)
• Croton tiglium L. : bijinya mengandung crotin (suatu protein fitotoksin),
Fraksi resinnya menyebabkan radang kulit
• Minyak croton mengandung suatu zat karsinogenik yang dapat merangsang karsinogen lemah, sehingga memacu terjadinya kanker

2. Dari suku Rutaceae :
• Ruta graveolens L. : mengandung glukosida kumarin (rutarin/marmesin)
Mengiritasi kulit (bagi yang peka) menyebabkan lepuh-lepuh dan demam
Jika infusa terminum kemungkinan bisa menimbulkan peradangan usus

Tanaman yang dianggap berbahaya (LD 50 : kecil, tetapi belum diketahui kandungan mana yang mengakibatkan gejala negatif

NO BAHAN BAKU DAN TANAMAN ASAL FAMILIA LD-50
1. Majakan (proses reaksi daun Quercus lusitanica Roxb.) Fagaceae 16,45 mg/kg. BB
2. Nagasari (bunga Mesua ferae L.) Guttiferae 20,93 mg/kg. BB
3. Sukmadiluwih (buah Gunera macrophyla Bl.) Halorrhagidaceae 21,91 mg/Kg.BB
4. Sidowayah (bunga Woodfor-dia floribunda) Litraceae 24,22 mg/kg.BB
5. Kulit buah delima (Punica granatum L.)
28,0 mg/kg.BB


Tanaman yang bersifat oksitosik ( merangsang uterus), tetapi belum diketahui zat penyebabnya
1. Jungrahap (daun Beachea frutescen L. familia Myrtaceae)
2. Majakan (eksudat daun Quercus lusitanica Lamk. Familia Fagaceae)
3. daun kaki kuda (Centela asiatica Urb.familia Umbeliferaeae)
4. Meniran (Phyllathus niruri L.familia Euphorbiaceae)
5. Umbi Angelica sinensis L. ramuan yang menyebabkan cacat

Kelima bahan tersebut disusun berdasarkan urutan paling kuat sifat oksitosiknya. Walaupun baru merupakan informasi percobaan pada hewan, tetapi telah memberikan petunjuk paling tidak bahwa Jungrahap yang digunakan bersamaan dengan daun sembung dan beluntas serta daun kaki kuda, mengakibatkan kematian pada induk hewan percobaan, pendarahan pada uterus dan usus, kematian janin, pertumbuhan janin tidak normal (lambat); meskipun dosis yang diberikan baru 10 kali lebih kecil dari dosis lazim pada manusia. Memang tidak begitu jelas adanya adisi, potensiasi atau inhibisi antara bahan-bahan diatas bila diberikan bersama.
Tetapi setidak-tidaknya dari informasi tersebut kita perlu mewaspadai terutama bila digunakan untuk sesuatu yang berkaitan dengan sistem reproduksi seperti terlambat bulan/haid, jamu hamil, keputihan, sari rapet dan semacamnya.


KESIMPULAN
Obat tradisional/tanaman obat dapat bermanfaat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, lebih-lebih dalam upaya preventif dan promotif bila dipergunakan secara tepat. Ketepatan itu menyangkut tepat dosis, cara dan waktu penggunaan serta pemilihan bahan ramuan yang sesuai dengan indikasi penggunaannya. Sebaliknya obat tradisional/tanaman obat pun dapat berbahaya bagi kesehatan bila kurang tepat penggunaannya (baik cara, takaran, waktu maupun pemilihan bahan ramuan) atau memang sengaja disalahgunakan. Oleh karena itu diperlukan informasi yang lengkap tentang tanaman obat/obat tradisional, untuk menghindari hal-hal yang merugikan bagi kesehatan.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2001, Jamu Campur Obat Keras dicabut Registrasinya, (Harian Umum, Kompas, Jakarta, Nov. 2001)
Anonim, 2002, Potensi Obat-obat Tradisional perlu Digali, Harian Umum, Suara Merdeka, Semarang, 26 Januari 2002.
Dzulkarnain B., 1989, Obat Tradisional Tidak Tanpa Bahaya,Cermin Dunia Kedokteran No.59 (hlm. 3-6)
Maheshwari H., 2002, Pemanfaatan Obat Alami : Potensi dan Prospek Pengem-bangan,http : //rudct.tripod.com./sem2_012/hera_maheshwari.htm
Pramono S., 2002, Reformulasi Obat Tradisional, Seminar Sehari “Reevaluasi dan Reformulasi Obat Tradisional Indonesia”, Majalah Obat Tradisional & Fak.Farmasi UGM, Yogyakarta
Santosa O.S., 1989, Penggunaan Obat Tradisional Secara Rasional, Cermin Dunia Kedokteran No.59 (hlm. 7-10)
Saptorini E., 2000, Efek Samping Tanaman Obat, Sisipan (Mudah, Murah, Manjur) SENIOR, No.58 (11-17 Agustus 2000)

‘Pandangan Amerika tentang Reaksi Merugikan Pengobatan Tradisional China’

‘Pandangan Amerika tentang Reaksi Merugikan Pengobatan Tradisional China’


Latar belakang
Pengobatan Tradisional China sangat popular di kalangan konsumen Amerika, Asia, maupun non-Asia yang menggunakan produk untuk pengobatan penyakit dan menjaga kesehatan. Banyak orang mengguankan produk untuk Pengobatan Tradisional China sehingga meningkatakn laporan mnegenai efek merugikan. Tinjauan ini akan lebih focus dalam membahas efek merugikan Pengobatan Tradisional China yang dilaporkan dalam literatur.
Kalifornia merupakan kota yang sangat luas di Amerika Serikat dan merupakan 50 besar ekonomi maju di dunia. Secara geografi, Kalifornia dianggap sebagai bagian dari pacific Rim dan merupakan populasi asia terbesar di Amerika dengan Irmpor terbesar melalui pelabuhan kalifornia. Banyak Obat Tradisional China dikirimkan melalui kalifornia sebelum didistribusikan ke Amerika. Banyak konsumen dan pasien menggunakan obat alternatif, khususnya obat tradisional China yang memberikan banyak informasi mengenai efek merugikan. Laporan ini akan lebih fokus dalam membahas efek merugikan Obat tradisional China yang dilaporkan dalam literatur.
Hukum regulasi produk Obat Tradisional China (OTC) di Amerika Serikat pada aturan atau undang-undang mengenai suplemen makanan kesehatan dan pendidikan tahun 1994.suplemen kesehatan merupakan makanan kategori baru dan dibuat ketentuan atau syarat untuk spesifikasi kesalahan dari Badan pengawas obat dan Makanan Amerika. Suplemen Makanan terdiri vitamin, mineral, asam amino, protein, bahan alam dan hasil pertanian lainnya. Hukum Regulasi pada Badan Pengawas Obat dan Makanan membangun sebuah metode pembuatan dan pabrikasi yang bagus sebagai pedoman dalam suplemen makanan, meskipun sekarang ini tidak ada regulasi yang dipublikasikan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan dalam bentuk metode Pembuatan dan Pabrikasi yang baik. Dalam Perkembangannya, aturan dari Badan Pengawasa Obat dan Makanan untuk mengambil beberapa aksi perlawanan terhadap suplemen makanan, pemenrintah akan bertanggung jawab memberikan bukti yang memuaskan untuk menunjukkan bahwa suplemen makanan pada kenyataannya riskan untuk umum. Baru- baru ini, penggencaran
Untuk melawan Amerika, Keamanan terhadap kesehatan umum dan aturan persiapan dan penyikapan terhadap penggencaran terhadap isu-isu kehidupan telah dibuat undang-undang. Hukum yag diharapkan untuk melindungi sumber-sumber makanan di Amerika. Tahun 2002 hukum membutuhkan banyak bahan-bahan yang dipesan untuk penyediaan makanan di Amerika yang harus didaftarkan di Badan pengwas Obat dan Makanan. Sejak suplemen makanan dan Obat Tradisional China menjadi bagian dari makanan yang telah diakui dibawah hukum. Pemakaian bahan-bahan di dalam maupun luar negeri akan mempengaruhi semua bahan-bahan dan proses pabrikasi pembuatan obat tradisional China.
Penyebab reaksi merugikan yang berkaitan dengan obat tradisonal China bermacam-macam. Pemasukan zat aktif dalam komposisi dapat menumbuhkan kondisi dimana pemakaian bahan alam yang toksik dapat menyebabkan keracunan, overdosis obat bahan alam, terjadi interaksi obat kimia dengan bahan alam khususnya secara farmasetik mempunyai indeks terapi yang sempit, reaksi idiosyncratic penyebab alergi, hepatitis dan anfilaksis. Efek samping yang lain dalam masalah pembuatan dan kualitasnya adalah masalah pencampurannya, ketidaktahuan dalam identifikasi, bahan pengganti bahan alam yang lainnya, variasi komponen penyusun zat aktif dalam komposisi, penggunaan metode farmasetik tanpa identifikasi dalam label, ketidakpatutan proses, penyiapan dan kontaminasi.

METODE
Artikel ini didasarkan atas sebuah literature yang didapatkan menggunakan MedLine yang merupakan referensi dan sumber materi yang layak dan ternama. MedLine berisi database referensi yang dipublikasikan dari tahun 1966 sampai sekarang ( Januari 2003). Pencarian dengan kata kunci yang digunakan adalah: herbs, herbal, obat tradisional China dengan toksisitasnya, efek samping, angka kematian, interaksi obat dan farmakokinetik. Dalam perkembangannya, pencarian secara spesifik ditunjukkan dengan menggunakan kata kunci diatas dengan nama lazim dan nama ilmiah tanaman.

HASIL
Dari total 186 paper yang di dapatkan dari sumber MedLine. Kebanyakan artikel dalam Bahasa Inggris kecuali 5 artikel dari China dan Perancis. Kira-kira 50% artikel dari pengunjung yang berlokasi di luar Amerika.

DISKUSI
Tidak semua obat tradisional China dari bahan alam itu aman. Di China sejak 1993 hingga tahun 1994, terdapat 1133 laporan efek samping merugikan di setiap literature China. Total 59 (9,1%) kematian berhubungan dengan bahan alam obat tradisional China dan 6 (1,2 %) kematian karena sifat paten obat China, berakhir pada produknya. Drai tahun 1951 hingga 1990, terdapat 2788 kasus efek samping merugikan dalam 460 bahan alam yang berbeda dilaporkan dari Jurnal kesehatan China. Untuk tahun 1950, hanya 26 kasus efek samping merugikan dilaporkan, dari tahun 1950-1969, 147 kasus, tahun 1970-1979, 398 kasus dan di tahun 80-an, 2217 kasus. Dari total kasus efek samping merugikan dilaporkan in literature China, konstituen bahan alam kira-kira 40 % dari semua produk (bahan alam, dan farmasetik). Banyak bahan alam yang berhubungan dengan efek merugikan dengan akar aconite (576 kasus), diikuti oleh Tripterygium wilfordiiHook f. (90 kasus) dan Isatic tinctoria L(38 kasus). Di tahun 1990, terdapat 46 kasus akar aconite yang berhubungan dengan efek merugikan dan 16 kasus pada Isatic tinctoria L.

Pencampuran produk Herbal

Dilaporkan bahwa 23,7% (618 sampel) dari 2609 sampel obat tradisional China dikoleksi di Taiwan telah terkontaminasi saat proses pencampuran. Dari proses pencampuran ini dimasukkan kafein, asetaminofen, indometasin, hidroklorotiazid, prednisolon, klorzoksazon, dan etoksibenzamid. Banyak klaim terapi yang biasa terjadi yaitu indikasi efek rematik, analgesik, dan antiinflamasi. Hal yang sama di Kalifornia, 260 produk Obat Tradisional China telah dikoleksi dan telah dianalisis. Paling sedikit terdapat 83 (32%) pada komposisi sampel tidak dinyatakan secara farmasetik atau kadar logamnya, dan 23 lebih banyak pencampuran. Sisa produk, dimana kandungan tidak terdeteksi saat pencampuran, tidak dapat diasumsikan sudah aman dan bebas dari bahan toksik, konsistensi pemcampuran yang ditunjukkan dari tempat satu ke tempat yang lain, merupakan parameter yang layak dijadikan sebagai metode deteksi. Efek farmasetik yang ditemukan dalam produk bahan alam sering dipercaya melalui klaim pada label. Sebagai contoh, kapsul ‘Tongyi Tang Diabetes Angel Pearl Hypoglycemic’ diklaim pembuatannya dari bahan-bahan alam yang ditemukan terdapat kandungan gliburid, sejenis senyawa sulfonilurea yang berfungsi untuk menurunkan kadar gula darah.

Baru-baru ini dicontohkan sebuah proses pencampuran produk bahan alam adalah ‘ Prostate Cancer Hope’ (PC SPES). PC SPES diklaim sebagai obat herbal yang menghasilkan fungsi penting yang bahannya berasal dari China. Perlakuan pembedaan dari 8 konsistensi bahan herbal dan dicampurkan di Amerika menunjukkan sesuai harapan untuk efek kanker prostat. Selain itu, adanya laporan dalam literature kedokteran bahwa PC SPES mempunyai efek aktivitas estrogenic, dan menyebabkan pendarahan yang berlebihan. Departemen Kesehatan Kalifornia mengadakan uji PC SPES dan menemukan bahwa didalamnya terdapat warfarin, indometasin, dietilstilbestrol dan etinilestradiol. Dalam analisis campuran bahan-bahan pengisinya dalam PC SPES juga dideteksi adanya campuran tersebut. Produk ini telah ditarik dari peredaran dan diberhentikan aktivitas pabrikasinya pada Juni 2002. Perusahaan di Amerika banyak yang tidak memenuhi criteria penatalaksanaan komposisi bahan atau produk akhirnya, data komposisi bahan yang telah diuji, sesuai Prosedur Pembuatan barang yang baik atau prosedur kualitas kontrol yang sesuai dan baik. Banyak pasien secara tidak langsung merasa dirugikan adanya PC SPES yang mengalami interaksi obat secara farmasetis melalui penulisan resep pada pengobatan dan kegagalan mencari kondisi yang tepat untuk pengobatan kanker prostat. Pencampuran produk herbal yang salah ternyata telah tersebar luas dan menyebabkan kerugian dan kematian sebagai hasil dari pasien yang tidak mengetahui efek farmasetis campuran bahan-bahan suatu produk herbal. Meskipun sedikit yang melaporkan adanya pencampuran obat tradisional China dalam literature, masalahnya boleh jadi ada sesuatu selain yang dilaporkan dan adanya kelanjutan untuk uji klinik dan perhatian dari hukum dan aturan setempat. Alasan pencampuran agar didapatkan produk yang kompetitif sesuai harapan yang diinginkan dalam obat herbal dan atau integrasi obat tradisional China dengan bahan asing (bahan kimia obat) dapat meningkatkan efek terapi bagi pasien. Selain itu, jika secara farmasetis tidak dicantumkan dalam label, maka dapat dengan mudah dikonsumsi oleh konsumen, pasien yang riskan, sehingga dokter tidak dapat memberi keputusan menjadikannya sebagai pilihan untuk pengobatan. Perhatian lebih lanjut,karena tingginya availabilitas produk obat tradisional China pada toko- toko besar di luar negeri, pasien tidak dapat menghindari penggunaan Obat Tradisional China dari dokter mereka.

SUBSTITUSI /KURANGNYA PENGETAHUAN IDENTIFIKASI

Pengganti bahan alam dan tidak tahunya kandungan saat identifikasi dalam bahan alam sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kematian, khususnya pada bahan alam yang beracun. Toad venom (Chan Su) dari Bufo bufo gargarizans atau B. Melanosticus terdiri dari Bufotoxins yang mempunyai struktur molekul yang sama dan efek farmakologi seperti digoxin, dapat menyebabkan aritmia dan kematian. Hal ini dilaporkan bahwa Chan Su merupakan kesalahan atas Gelatinum asini, yang merupakan tanaman alam yang tidak berbahaya, namun dapat menyebabkan kematian janin hamil muda pada wanita. Chan Su ditemukan dalam obat paten China, Lu Shen Wan untuk pengobatan saluran pernafasan dan preparasi efek farmasetis Jepang, Kyushin untuk pengobatan kerusakan hati. Hal yang sama, Departemen Kesehatan Kalifornia menginvestigasi sebuah tempat yang telah teracuni saat perebusan diduga mengandung Wei ing Xian (Clematic chinensis) yang telah terkontaminasi Phodophyllum emodi, yaitu senyawa podophyllotoxin. Pasien bisa menderita neuropati periferal permanen. Senyawa Podophyllotoksin menyebabkan efek toksik yaitu mual, muntah, diare, sakit perut, pegal-pegal, enkelopati, fungsi hati yang tidak normal, trombositopenia dan leucopenia. Ba jiaolian, akar Dysoma pleianthum, merupakan tanaman obat yang mengandung podophyllotoksin yang digunakan di Taiwan untuk sakit perut dan gigitan ular dan kelebihan dosis obat herbal akan menyebabkan keracunan podophylotoksin juga. Stephania tetandra digantikan dengan Aristolochia fangchi yang diasosiasikan dengan sakit pinggang karena asam aristolochic. Meskipun, mengikuti literature China, hal ini merupakan bentuk latihan untuk membuat formulasi 2 bahan alam tanpa efek merugikan.
Dalam perkembangannya, banyak pasien di Jerman yang menggunakan asam aristolochic sebagai agen imunomodulator tidak berkembang menjadi nefristis. Hal itu mungkin tidak pantas digunakan dan tidak cukup dengan proses bahan alam yang bisa menjadikan nefristis. Kemungkinan lain penjelasan tentang pemasukan variasi bahan asam aristolochic dalam produk pertanian, dan komponen lain dalam obat yang menjadikannya menjadi nefristis.

KETIDAKLAYAKAN PROSES

Pengolahan obat ( Pao Chih) merupakan komponen penting dalam penggunaan obat tradisiona China. Banyak obat yang mempunyai bahan-bahan toksik saat digunakan secara oral tanpa diolah. Meskipun, obat yang sama juga relatif tidak berbahaya jika digunakan sebagai pengobatan yang sesuai. Pengobatannya dapat meliputi perendaman, pemanasan, pendinginan, pemanggangan, pengeringan, dan memasaknya dengan atau tanpa bahan lain. Bisa ditambahkan untuk mengurangi toksisitas, proses pembuatan dapat meningkatkan efek terapi atau mengubah efek farmakologi suatu bahan obat dari alam atau formula. Bibit Strychnos nux-vomica digunakan oeh obat tradisional China untuk menunjukkan sirkulasi darah dan mengurangi sakit. Meskipun, komposisinya terdiri dari senyawa ekstrim seperti alkaloid, strichnin, dan bruchin yang termasuk senyawa konvulsan kuat. Secara tradisional, itu harus dilakukan atau diolah dengan pemanasan untuk mengurangi ketoksikan dari senyawa strichnin dan bruchin.
Kebanyakan obat herbal yang menyebabkan keracunan di China dan Hongkong adalah yang menggunakan aconite dari akar kering dari Aconitum carmichaeli dan A. Kusnezoffi. Keracunan aconite dapat menyebabkan pegal-pegal dan keracunan pada lambung yang diaktifkan oleh basa pada miokardium. Gejala awal adalah memasukkan paresthesia melewati oral dengan gerakan maju secara ekstrim. Efek samping merugikan yang lain adalah mual, muntah, perut sakit, dan hipotensi.kematian dapat terjadi pada aritmia dari bradikardia atau takiaritmia, memasuki saat denyut jantung atau fibrilasi. Masalah aconite yang meracuni biasanya tidak dilengkapi pengolahan obat herbal atau kelebihan dosis saat digunakan. Secara tradisional, dosis untuk A. Kusnezoffi (caowu) adalah 1,5-3 gram dan 3-15 gram untuk akar samping dari A. carmichaeli (fuzi). Aconite secara luas diproses sebelum terjual. Pengolahannya meliputi perendaman dan pendinginan daam air untuk mengurangi ketoksikan dari pemasukan alkaloid aconitin menjadi aconin dan benzolaconitin. Pasien kemudian diinstruksikan untuk menyiapkan rebusan dari pendinginan tanaman obat untuk selanjutnya dihitung periode waktunya. Variasi kandungan alkaloid menunjukkan tanaman tersebut bisa menyebabkan efek samping merugikan dari aconit.

KEANEHAN REAKSI

Reaksi yang aneh terjadi pada obat tradisional China dapat menyebabkan alergi, hepatitis dan anafilaksis. Untuk keadaan yang lain ada ancaman reaksi anafilaksis, hepatitis disebabkan karena adanya obat tradisiona China yang bisa menyebabkan luka yang serius dan kematian. Obat Alam yang bertujuan untuk mengobati hepatitis secara langsung, bergantung dosis hepatotoksik (veno-penyakit teah menyebar atau fibrosis) atau banyak kasus terjadinya hipersensitifitas atau reaksi idiosinkratik. Untungnya, diagnosis obat herbal secara hepatotoksik menyisakan sebuah area penanda yang menarik. Hal ini terjadi untuk mengurangi penyingkapan pasien dalam menggunakan obat herbal dan menghindari faktor riskan jika ditemukan sesuatu yang tidak bagus. Levo-tetrahidropamatin adalah zat aktif dari Corydalis decumbens dan digunakan sebagai sedatif dan efek anagesik. Ha itu juga ditemukan dalam produk An Shu Ling dan Jin Bu Huan, keduanya berasosiasi dengan hepatitis. Hepatitis banyak disebabkan karena hipersensitifitas kimia. Dalam kasus Jin Bu Huan, pasien yang mengalami hepatitis diharapkan kembali mencoba dengan produk yang sama. Masalahnya, komplikasi selanjutnya saat formula obat tradisional China (dimana terdiri dari bermacam-macam bahan) digunakan dan sulit untuk diidentifikasi respon terhadap komponen dengan formulanya. Meskipun, 1 gen pada tanaman, Paeonia, menerangkan adanya paling sedikit ada 4 kasus hebat atau hepatitis fulminan. Obat tradisional China yang lain dari bahan alam diasosiasikan dengan pengobatan hepatitis dengan Ma Huang, Shou-Wu-Pian (terdiri dari Polygonum multiflorum), Dictamus dasycarpus (Bai Xian Pi), Dai-Saiko-to (nama China: Da-Cahai-Hu-Tang), yang terdiri dari Bupleurum chinensis DC, Scutellaria baicaensis, Citrus aurantium, Rheum officinale, Pinellia ternate, Paeonia lactiflora, Zingiber officinalle, Zizipus Jujuba dan Syo-saiko-to (nama China: xiao-chai-hu-tang) yang terdiri dari Bupleurum chinensis DC, Pinellia ternate, Scutellaria baicalensis, Ziziphus jujuba, gingseng, Glycyrrhiza uralensis dan Zingiber officinale.

PENYAKIT YANG BERDAMPINGAN

Penyakit yang berdampingan penting tidak hanya saat penyakit mengubah metabolisme obat herbal tapi juga dapat mempengaruhi efek farmakologinya. Coptis chinensis/ japonicum dan Artemisia scoparia mempunyai efektivitas yang tinggi dalam menggantikan bilirubin dari serum protein dan tidak seharusnya digunakan pasien yang mengalami kelebihan bilirubin. Kernicterus dalam mempengaruhi kematian bayi sebelum lahir, seperti penyakit kuning yang disebabkan karena Huang Lian (Coptis chinensis) yang kemungkinan terjadi paling sedikit sebagian saja, jika tidak semua, maka bahan-bahan yang aktif dan utama saja, seperti berberin, dimana efek keduanya kuat mengganti bilirubin dan sebuah pemacu metabolisme bilirubin.
KANDUNGAN LOGAM

Kandungan logam menjadi subjek perhatian di Amerika, pemakaian yang kecil metal dalam preparasi farmasetik dengan sedikit keterangan. Contohnya arsen, yang digunakan Amerika untuk pengobatan sifilis hingga antibiotik yang ditemukan pada tahun 1940an. Meskipun, kandungan logam diteruskan untuk memainkan aturan mengenai obat tradisional China, tapi harus menggunakan

00000000

Di Kalifornia, Departemen Kesehatan melayani analisis dari total 251 produk utama, arsen dan merkuri. Duapuluh empat produk terdiri dari bahan utama yang didalamnya terdapat kurang lebih 10 bagian per juta (ppm)(rentangnya , 10-319; nilai tengah 29,8; rata-rata 54,9). Tga puluh enam produk terdiri dari arsen (rentang 20,4-114000 ppm; median 180,5; nilai rata-rata 14,553). Tiga puluh lima produk terdiri dari merkuri (rentang 22,4-5070 ppm; median 329; rata-rata 1046); 2 dari 35 label yang diidentifikasi komposisi bahan secara farmasetisnya. Farmakope Amerika membatasi kandungan logam dalam diet makanan suplemen hingga 20 ppm, kadang lebih rendah dari zat utama, arsen dan merkuri.

INTERAKSI BAHAN KIMIA OBAT-BAHAN ALAM
Penggunan beberapa bahan secara bersama-sama suatu bahan secara farmasetik bisa jadi menjadi semakin besar efeknya, baik sama atau saling bertentangan efeknya. Hal ini didapat informasi yang terbatas dari literature akan interaksi obat. Boleh jadi kombinasi ini justru malah menurunkan efeknya, sehingga sulit untuk melakukan uji klinik dan uji keamanan seperti bahan herbal yang digunakan. Interaksi bahan alam dengan bahan kimia obat tidak diketahui tetapi mungkin menjadi hal-hal yang dapat meningkatkan penggunaan obat tradisional China yang diproduksi dari populasi Asia maupun nonAsia. Dalam uji klinik, polifarmasi merupakan hal yang biasa dan dalam perkembangannya menjadi resep obat dokter, pasien menambah dengan mengonsumsi obat bebas, vitamin, obat alami, dan makanan. Semua berpotensi mengalami interaksi. Banyak bahan kimia obat-bahan alam terjdai interaksi yang teramati terjadi interaksi obat satu ke obat yang lainnya, secara farmakologi dan interaksi farmakokinetik. Dilihat dari segi bioavailabilitas dan farmasetis produk dari pengurangan absorpsi atau waktu jeda, (potongan waktu jeda obat pencahar), rangsangan dan hambatan enzim metabolic, eliminasi, kesesuaian dan pertentangan efek farmakologi.
Salah satu artikel yang menunjukkan obat bahan alam mempunyai interaksi yang potensial secara farmasetis. Meskipun, didapat dari informasi yang terbatas dalam interaksi potensial secara farmasetis dengan obat tradisional China, khususnya pada formula bahan alam. Danshen (Salvia miltiorrhiza) berinteraksi dengan warfarin yang hasilnya dimasukkan dalam rasio normalisasi internasional (INR) sebagai fitokumarin. Siberian Gingseng (Eleutherococcus senticoccus) bisa menambah efek antikoagulan dan sedatif. Korean gingseng (Panax gingseng) merupakan bahan yang digunakan dalam obat tradisional China. Dilaporkan berinteraksi dengan warfarin.Secara teori, penggunaan gingseng dan antiplatelet secara bersamaan bisa menambah tenaga tapi juga bisa pendarahan. Meskipun, efek ini tidak dijelaskan kepada pemakai. Panax gingseng dilaporakan berinteraksi dengan inhibitor monoamin oksidase, phenelzhine, menyebabkan sakit kepala dan demam. Dong quai (Angelica sinensis) terdiri dari kumarin dan bahan estrogenic. Hal ini akan menambah INR dan terjadi kontraindikasi dengan wanita penderita kanker payudara. Licorice (Glycyrrhiza glabra) mempunyai aktivitas mineral kortikoid dan interaksi yang potensial dengan obat antihipertensi yang bersifat sodium dan retensi terhadap air. Glycyrrhizin, merupakan licorise yang menghambat 11-beta hidroksisteroid dehidrogenase dan dapat mengubah aktivitas farmakokinetik steroid. Sejak licorice merupakan mineralkortikoid yang mempunya efek estrogenic dan antiestrogenik, pasien yang menggunakan kortikosteroid seharusnya mengehentikannya untuk menghindari efek merugikan. Ephedra (Ephedra sinica) yang terdiri dari efedrin, alkaloid efedrin, berfungsi sebgaai stimulan dan mempunyai interaksi farmasetis. Banyak interaksi antara bahan kimai abat dengan bahan alam menyebabkan pembekuan darah sehingga pengambilan darah harus selalu dimonitor (banyak tanaman herbal dicampur dengan fungsi antiplatelet, tidak ada lairan koagulasi, dan tidak mempengaruhi waktu protrombin, waktu tromboplastin sebagian, atau INR). Banyak contoh seperti obat tardisional China dimana terjadi interaksi bahan kimia obat dicampur bersama bahan alam yaitu Chinese rhubarb (Rheum officinale) yang terdiri dari antranoid, sebagai pencahar.

OBAT ALAM YANG TOKSIK

Ada kandungan bahan alam pada obat tardisional China yang mengandung racun dan memerlukan pengawasan berlebih. Mylabis phalerata merupakan Ban Mao atau kumbang China yang terdapat kandungan kantanidin. Hal ini menyebabkan kematian dengan kadar 60 mg. Tripterygium wilfordii hook f. dimana kebanyakan tanaman obat dengan frekuensi kedua merupakan racun di China. Dan dapat menyebabkan terapi hypovolemic dan kerusakan lambung. Bahan alam yang toksik biasanya karena adanya kandungan logam seperti sinabar(merkuri sulfit) , realgar (arsenic sulfid) atau litharge (oksida penting) yang merupakan bagian dari formula tradisional, borneol (sama seperti kamper) aconite, bufo secreta (hasil sekresi katak), mylabris, kalajengking, boraks dan Strychnas nux vomica (strychnin). Komposisi obat alam sangat kuat, sehingga Taiwan dan China selalu mengontrol penjualannya.

EVALUASI OBAT TRADISIONAL CHINA

Evaluasi produk obat herbal harus didasarkan atas resiko dan kemanfaatannya dimana banyak produk obat tradisional China yang mempunyai cerita panjang tentang penggunaannya yang sifatnya pengalaman empiris. Sehingga sangat sedikit uji klinik yang dibuat untuk uji ketoksikan obat tradisional China. Banyak produk obat tardisional China pasti menggunakan uji kontrol placebo random double-blind karena terlalu pendek, terlalu kecil, dan sederhana pembuatannya. Yang lain ditentukan dengan menunjukkan kenyamanan atas dasar uji klinik sesuai fakta yang diteliti. Uji kliniknya masih diperdebatkan karena obat tradisional China masih didasarkan atas criteria dan indikasinya saja. Poin-poin diagnosis yang masuk tidak hanya dari poin akhir uji klinik luar negeri namun juga poin akhir obat tradisional China. Jika kenyamanan tidak dapat ditunjukkan produk obat tradisional China, menyebabkan resiko berbahaya.
Hal tersebut mempengaruhi laporan mengenai efek merugikan pada produk obat tardisional China. Hal ini tidak dapat diartikan bahwa terjadinya efek samping merugikan ini bertambah, tetapi karena banyaknya penggunaan obat tradisional China. hal ini juga menambah kesadaran dokter dan konsumen bahwa tidak semua obat herbal aman dan terhindar dari ketoksikan. Dalam system survey di Amerika sesuai pengalaman bahwa banyak efek merugikan yang tidak dapat terdeteksi yang dilaporkan dari berbagai agen regulator dan pusat pengamatan racun. Dalam perkembangannya, banyak orang yang menggunakan obat tradisional China yang mengandung campuran BKO-bahan alam, sehingga terjadi kenaikan interaksi yang bisa menambah efek merugikan. Untuk menurunkan efek merugikan dari produk TCM ini dapat memakai pasien yang tidak teridentifikasi dan belum diketahui oleh ahli yang belum melakuakn percobaan tentang penggunaannya.

Banyak efek samping merugikan dari campuran produk, bahan alam yang tidak teridentifikasi, dan proses yang tidak memenuhi syarat dapat menghentikan kelanjutan perusahaan karena tidak sesuai GMP dan GAP. Badan Pengawas Obat dan Makanan China baru-baru ini mengatur proses pabrikasi TCM sesuai GMP dan GAP. Perusahaan yang memenuhi syarat dan telah menerima sertifikasi GMP tidak akan meneruskan pembuatan produk TCM. Hal ini dilakukan agar semakin baik kualitas produk TCM dengan efek samping merugikan yang kecil.

Untuk meminimalisir efek samping merugikan dari TCM dan melindungi umum, maka negara seharusnya mengaturnya dalam bentuk undang-undang dan regulasi untuk menjamin keberadaan industri TCM, khususnya para importir, pemilik pabrik, praktisi yang ahli dalam hal ini. Pemilik pabrik sebaiknya mendapatkan licensi dari agen regulasi dan sertifikat GMP. Produk TCM harus bisa menunjukkan keamanan sebelum dipasarkan dan survey sistemnya teramati untuk kemungkinan terjadinya efek merugikan. Hal ini diperlukan pada produk yang perlu diberi label dan ada usaha untuk menjaga kontinuitas dalam keamanan dan kenyamanan produk TCM dari alam. Implementasinya kebutuhan akan kualitas teramati, sehingga masyarakat terlindungi. Kemudian, modernisasi TCM akan semakin baik, sejajar dengan obat paten dan bisa digunakan sebagai uji pertama dalam pengobatan suatu penyakit.

Efek Samping dari Gingko biloba

SPONTANEOUS BLEEDING ASSOCIATED WITH Ginkgo biloba
A Case Report And Systematic Review Of The Literature
( PENDARAHAN SPONTAN YANG BERKAITAN DENGAN Ginkgo biloba
Laporan Kasus dan Analisis Sistematik Studi Literatur )


ABSTRAK
Latar belakang
Ginkgo biloba (ginkgo) adalah herbal yang digunakan lebih dari 2% populasi dewasa di Amerika. Beberapa artikel menyebutkan bahwa ginkgo dapat meningkatkan resiko pendarahan.
Tujuan
Untuk melaporkan kasus pendarahan yang berhubungan dengan penggunaan ginkgo, secara sistematik literature menyebutkan mengenai kasus yang sama serta untuk mengevaluasi apakah ginkgo merupakan penyebab yang berhubungan dengan pendarahan.
Sumber dana
MEDLINE, EMBASE, IBIDS, dan The Cochrane Collaboration Database dari 1966 sampai Oktober 2004 dengan tanpa restriksi bahasa.
Metode pelaporan
Pelaporan kasus dari peristiwa pendarahan pada orang-orang yang menggunakan ginkgo diseleksi. Dua pelapor yang independen menggambarkan standar informasi untuk menilai apakah ginkgo menyebabkan pendarahan.
Hasil
15 pelaporan kasus menguraikan hubungan antara penggunaan gingko dan pendarahan. Sebagian besar kasus meliputi kondisi medis yang serius, termasuk 8 episode pendarahan intracranial, bagaimanapun 13 dari pelaporan kasus mengidentifikasikan factor resiko pendarahan yang lain. Hanya 6 laporan yang menguraikan bahwa ginkgo harus dihentikan dan pendarahan tidak timbul lagi. Pada waktu pendarahan terdapat tiga laporan yang dievaluasi ketika pasien mengambil ginkgo.
Kesimpulan
Penilaian structural dari pelaporan kasus memberi kesan penyebab yang mungkin berhubungan antara penggunaan ginkgo dengan pendarahan. Banyak peggunaan herbal ini dan laporan mengenai efek sampingnya menyebabkan perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini. Pasien yang menggunakan ginkgo, khususnya yang memiliki resiko pendarahan, harus diberitahu mengenai peningkatan resiko pendarahan.
Kata kunci : obat herbal, obat alternative, pendarahan


METODE
Tinjauan umum
Ginkgo biloba merupakan empat dari herbal yang secara umum digunakan di Amerika Serikat, terhitung 4.3% dari seluruh herbal tungal yang terjual tahun 2001. Pada survey telepon secara nasional yang baru saja dilakukan, menunjukkan 2.2% dari populasi dewasa di Amerika Serikat, atau kira-kira 4.5 juta individu, dilaporkan menggunakan ginkgo pada minggu lalu.
Ginkgo umumnya digunakan untuk mengobati demensia, tapi dapat juga digunakan untuk meningkatkan memori, saraf otak dan arteri, tinitus, vertigo, asma, alergi dan beberapa kondisi yang lain. Saat belum diketahuinya mekanisme aksi secara sempurna, ginkgo dipercaya dapat meningkatkan aliran darah otak dan perifer melewati oksida nitrit setelah induksi vasodilator, memiliki aktivitas atioksidan yang dapat mencegah kerusakan seluler dan menghambat factor aktivasi platelet. Ada dua bentuk evaluasi analisis tersistematis yang menampilkan penggunaan ginkgo untuk pengobatan demensia disimpulkan bahwa penggunaan herbal secara signifikan lebih efektif daripada penggunaan placebo dalam menunda kemunduran kognitif. Sementara fakta dari adanya indikasi lain sangat sedikit, analisis terbaru menyebutkan bahwa ginkgo dapat menjadi alternative dalam pengobatan tinnitus dan intermittent claudication.
Beberapa artikel terbaru dan buku pegangan pengobatan herbal mengindikasikan bahwa ginkgo dapat meningkatkan resiko pendarahan. Riset awal mengidentifikasikan adanya mekanisme biologi pada peningkatan pendarahan karena ginkgo berdasarkan interaksi dengan factor activasi platelet dan kolagen yang merupakan awal dari penurunan agregasi platelet. Ginkgo berfungsi untuk menghambat agregasi platelet dengan meningkatkan konsentrasi dari endothelium-yang merupakan derivate dari trombolitik seperti oksida nitrit dan prostasiklin. Ginkgolida B, merupakan komponen dari ginkgo, dapat juga secara langsung menghambat ikatan dari factor aktivasi platelet ke reseptor di membrane platelet. Investigator lain percaya bahwa ginkgo terutama mempengaruhi interaksi antara platelet dan kolagen (daripada factor aktvasi platelet) untuk menghamabat agregasi. Bagaimanapun tiga artikel lain menyebutkan bahwa efikasi dari ginkgo untuk demensia tidak ditemukan adanya indikasi peningkatan resiko pendarahan.
Metode
Semua artikel yang potensial, terdapat dalam laporan dan manuskrip dan daftar referensi dari artikel yang di-scan untuk identifikasi laporan potensial yang berhubungan. Kemudian juga digunakan isian terstruktur untuk mencatat atau merekam terdiri dari nama pelapor dan tahun kasus pelaporan, umur, jenis kelamin dan riwayat pasien, dosis ginkgo dan durasi penggunaan, pengobatan terakhir, pemberian klinik, hasil laboratorium, analisis radiografi, kecenderungan tingkat pendarahan dan lima hal lain yang berkaitan. Saat tidak ada kesepakatan informasi yang spesifik untuk memutuskan sebab-akibat dari kasus, dibuat system yang berpedoman pada lima elemen data, yaitu :
1. Waktu relatif saat pemaparan obat.
2. Ada atau tidaknya factor lain yang mempengaruhi peristiwa ini.
3. Hasil penggantian obat (penghentian).
4. Hasil dari pemberian obat kembali (pemaparan kembali).
5. Data lain yang mendukung seperti kasus yang pernah terjadi.
Laporan kasus
Lelaki berkulit putih, 37 tahun, keluhan terhadap beberapa pendarahan spontan yang dialami. Dia memberitahu adanya pendarahan hidung pada 3 bulan awal, ekimosis(memar kecil) di tangan dan lengan setelah trauma ringan, seringnya pendarahan hemoroid dan pendarahan pada telinga setelah tertumbuk sisir tumpul.
Pasien merupakan seorang yang sehat, lansia. Tidak mempunyai riwayat pendarahan setelah penggunaan aspirin, kadangkala, pendarahan hemoroid ringan, dan hanya pernah 1-2 kali pedarahan hidung (mimisan). Pasien tidak mengalami pendarahan berlebih setelah operasi. Dia tidak mengambil resep obat tapi menggunakan vitamin A, C, D, E dan asam folat untuk pencegahan dan menggunakan ginkgo 75 mg/hari selama 6 bulan untuk menolong kepikunan. Suplemen ginkgo diproduksi secara besar oleh perusahaan manufaktur Amerika Serikat dan didistribusikan secara luas di supermarket besar, telah terstrandarisasi 27% ginkgo flavon glikosida dan 10% terpen lakton. Dia tidak pernah didiagnosis disfungsi kognitif, akan tetapi merasa ginkgo dapat meningkatkan memori dan kejelasan berpikir.
Dia menghentikan konsumsi ginkgo akan tetapi terus melanjutkan dengan suplemen dan ternyata pendarahannya berhenti. Karena pasien mengalami kemajuan yang signifikan dari penggunaan ginkgo maka dia memutuskan, setelah berdiskusi dengan terapis, untuk mengulangi pengobatan dengan monitoring tes laboratorium. Setelah 6 minggu waktu pengeliminasian, hasil tes laboratorium dasar, termasuk CBD (penghitungan darah keseluruhan), PT (waktu protrombin)/ INR (rasio normal internasional), waktu parsial tromboplastin, dan waktu pendarahan (5.5 menit, normal berkisar antara 2.5 – 9.5 menit), semua hasil mendekati normal. Petugas laboratorium mengadakan semua tes dengan metode blinded kepada karakteristik pasien, termasuk pengguna ginkgo.
Pasien kemudian mengulang suplemen ginkgo dengan dosis yang sama. Selama 10 minggu kedepan dia mencatat bahwa kadangkala terjadi ekimosis, tapi tidak terjadi pendarahan spontan. Analisis laboratorium 10 minggu setelah pemaparan ginkgo kembali menunjukkan bahwa nilai CBC normal dan analisis koagulasi. Walaupun demikian, waktu pendarahan terjadi lebih dari 15 menit. Dia menghentikan konsumsi ginkgo dan tidak terjadi pendarahan lebih lanjut. Selang beberapa tahun kemudian, pasien mempunyai pengalaman yang santai, penurunan fungsi kognitif seperti bagia dari delusi paranoid. Lebih jauh, evaluasi neurologi menunjukkan bahwa adanya variasi dementia Alzeimer.
Analisis sistematik terhadap laporan kasus
Kasus yang diidentifikasi dilaporkan terjadi antara tahun 1996 – 2003. Kasus yang paling banyak mengenai kondisi kesehatan serius, termasuk 8 kasus pendarahan intracranial (otak). Dalam hal ini, 2 pasien membutuhkan tindakan operasi darurat, 2 mengalami kerusakan saraf permanen, dan 1 orang meninggal. Pada 4 kasus terjadi pendarahan mata. Dalam hal ini 1 kasus membutuhkan tindakan operasi, dan penglihatan semuanya kembali normal.
Pendapat mengenai kausalitas
Delapan dari 12 kasus menyediakan informasi mengenai jangka waktu pengunaan, yaitu lebih dari 6 bulan sebelum pendarahan mulai terjadi. Dua kasus pendarahan intracranial (otak) menggunakan ginkgo kurang dari 2 bulan. Pada kedua kasus hyphema spontan, ginkgo dikonsumsi kurang dari 2 minggu sebelum terjadinya symptom.
Factor yang mungkin mempengaruhi pendarahan adalah usia, dimana semua pasien yang dilaporkan memiliki usia 56 – 78 tahun. Lima pasien mengkonsumsi obat-obatan yang meningkatkan resiko pendarahan. Factor resiko lain yang dapat menyebabkan pendarahan termasuk jatuh sebelum subdural hematoma, sirosis tingkat lanjut pada pasien pendarahan postoperative, dan intracerebral mass.
Dua pasien tidak memiliki factor resiko lain selain penggunaan ginkgo. Seorang wanita berusia 33 tahun menunjukkan peningkatan subdural hematoma, dan pria berusia 43 tahun menunjukkan peningkatan pendarahan hebat setelah laparoscopic cholecystectomy.
Hanya 6 dari 15 kasus yang melaporkan secara eksplisit bahwa konsumsi ginkgo dihentikan. Tidak satupun yang mengalami pendarahan berulang, akan tetapi memiliki waktu pemulihan 3 bulan hingga 4 tahun. Tiga kasus menunjukkan bahwa pendarahan yang terjadi lebih pendek dibandingkan saat pasien tidak mengkonsumsi ginkgo. Dua kasus melaporkan terjadi abnormalitas terhadap peningkatan pendarahan selama mengkonsumsi ginkgo.
Hanya beberapa kasus yang melanjutkan penggunaan ginkgo kembali setelah beberapa seri pendarahan (karena pendarahan alami yang ringan). Waktu pendarahan meningkat dari 5 menit sebelum pasien mengkonsumsi ginkgo menjadi lebih dari 15 menit ketika ginkgo dikonsumsi kembali. Pasien mengalami ekimosis ringan dengan pengkonsumsian kembali ginkgo.


DISKUSI
Walaupun banyak artikel dan buku acuan menyebutkan bahwa penggunaan ginkgo dapat meningkatkan factor resiko dari pendarahan akan tetapi bukti klinis mengenai hal tersebut sangat terbatas. Jurnal yang menggunakan teknik pengujian random terkontrol juga menyebutkan bahwa ada kecenderungan peningkatan resiko pada pasien. Walaupun demikian, karena kebanyakan pengujian dilakukan dalam waktu singkat dan dengan jumlah responden sedikit maka hal tersebut belum dapat dijadikan acuan dalam menyimpulkan adanya hubungan antara pemanfaatan ginkgo dan peningkatan resiko pendarahan pada pasien.
Peningkatan resiko terjadinya pendarahan berkaitan erat dengan waktu paparan ginkgo kepada pasien, dan factor lain yang memang dapat meningkatkan resiko terjadinya pendarahan seperti jatuh atau operasi. Beberapa kasus menunjukkan adanya factor resiko lain yaitu usia dan obat-obatan yang dikonsumsi. Walaupun jarang, kasus ini dapat juga terjadi pada usia muda dan orang sehat.
Pada laporan kasus peningkatan resiko pendarahan pada pasien, hanya 6 kasus yang dihentikan penggunaannya. Hasilnya tidak ada satupun yang mengalami pendarahan lagi dikemudian hari dengan masa pemulihan 10 minggu hingga 4 tahun. Walaupun demikian, jarangnya kasus pendarahan berat yang terjadi pada pasien maka tidak kaget jika hal ini tidaklah terlalu mendapat perhatian penting baik oleh pasien maupun oleh tenaga medis.
Pada 3 kasus menunjukkan adanya informasi tentang lamanya waktu pendarahan. Semua kasus menunjukkan bahwa peningkatan pendarahan terjadi pada saat pasien mengkonsumsi ginkgo, dua kasus lain menunjukkan terjadi keanehan yang jelas pada saat mengkonsumsi ginkgo dan kembali normal saat berhenti mengkonsumsi ginkgo.
Penelitian ini lebih dititik beratkan pada pencarian mengenai hubungan antara mengkonsumsi ginkgo dan peningkatan resiko pendarahan pada pasien, sangat terbatas oleh informasi yang ada dalam jurnal dan laporan kasus. Seperti yang telah didiskusikan sebelumnya, ada 5 elemen data dasar dalam menentukan hubungan kausalitas, 4 hal yang mengacu pada laporan kasus yang dilakukan secara pribadi (waktu, factor resiko lain, penghentian pengobatan dan pemaparan kembali setelah penghentian sementara). Pada banyak kasus, pemaparan kembali setelah penghentian sementara sangat beresiko berdasarkan pendarahan yang terjadi pertama kali pada pasien. Dilain pihak, pada kasus hubungan antara pengkonsumsian ginkgo dan resiko pendarahan menunjukkan hanya ada 3 hal yang menunjukkan kausalitas. Pada 15 kasus hal ini hanya tampak jelas pada 5 kasus. Lebih jauh lagi, peneliti lebih tertarik kepada hubungan reaksi yang mungkin terjadi antara ginkgo dengan obat-obatan lain, baik sintetik maupun alami, daripada merumuskan adanya hubungan kausalitas. Pada akhirnya, walaupun telah dilakukan secara hati-hati dan menggunakan data yang ada dengan sebaik-baiknya tanpa membedakan bahasa serta menggunakan data yang terhimpun secara komputerisasi pada 4 sumber data yang besar tidak tertutup kemungkinan bahwa ada laporanyang belum dipublikasikan telah terlewat.
Kesimpulannya, berdasarkan data yang ada maka kemungkinan ada hubungan yang erat antara penggunaan ginkgo dan peningkatan resiko pendarahan. Berdasarkan hasil uji laboratorium menunjukkan adanya peningkatan penghambatan agregasi platelet sehingga dapat disimpulkan bahwa ginkgo dapat meningkatkan resiko terjadinya pendarahan. Ginkgo digunakan secara luas dan telah dikonsumsi oleh sekitar 2.2% populasi dewasa maka perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai efek samping dan tingkat keamanan bahan obat tradisional ini. Kemudian kami percaya bahwa pasien yang mengkonsumsi ginkgo harus diingatkan mengenai resiko yang mungkin dari peningkatan terjadinya pendarahan terjadi pada pasien.

Efek Samping dari St. John Wort (Hypericum perforatum L.)

Efek Samping dari St. John Wort (Hypericum perforatum L.)

I. PENDAHULUAN
Penggunaan Hypericum perforatum telah ditemukan 2000 tahun yang lalu. Saat ini penggunaannya diaplikasikan untuk terapi depresi. Meta analisis yang telah dilakukan selama dua dekade menemukan bahwa St. John Wort lebih efektif dari pada placebo dan sama efektifnya dengan anti depresan trisiklik yang dalam jangka pendek mampu mengurangi depresi.
Baru-baru ini muncul kontroversi tentang hasil yang negative dari percobaan yang telah dilakukan. Kesemuanya menguatkan bukti mengenai efikasi dari St.John Wort.
St. John Wort digunakan secara luas di berbagai negara sebagai anti depresi. Sejumlah bukti menunjukkan adanya interaksi obat yang signifikan dengan obat-obat yang dimetabolisme oleh sitokrom P-450.
Konstituen aktif dari St. John Wort diketahui mengandung hyperforin dan adhyperforin, hypericin dan pseudohypericin, flavonoid, xanthonin, oligomeri, procyanidin, dan asam amino. Aktivitas anti depresan dari St.John Wort adalah penghambatan mediator SSRIs serotogenic (5-HT), noradrenergic, dan sistem dopaminergik sama halnya dengan reseptor GABA (gamma-aminobutiric acid) dan neurotransmiter asam amino glutamate. Aktivitas anti depresan dari St. John Wort berbeda dengan anti depresan lain. Aktivitasnya ini merupakan kombinasi dari mekanisme multiple.
Penggunaan St.John Wort direkomendasikan pada dosis yang tepat, sebab pada dosis yang tinggi dapat menghambat enzim monoamin oksidase.
Dalam uji klinik yang telah dilakukan dalam membandingkan St. John Wort dengan anti depresan lain diketahui bahwa efek samping dari St.John Wort lebih ringan hanya sekitar 2,4 persen. Efek samping yang umumnya timbul adalah gejala pencernaan, reaksi dengan kulit, fatigue dan sedasi, kecemasaan, pusing, mulut kering, dan fotosensitivitas. Dari sekian efek samping, kebanyakan kasus side effect yang terjadi adalah efek samping dermatologi dan psikiatrik. Itupun hanya pada penggunaan dengan dosis tinggi.

II. RUMUSAN MASALAH
Sejauh mana efek samping terhadap dermatologi dan psikiatrik yang sering ditimbulkan dari penggunaan St. John Wort.

III. PEMBAHASAN
Dalam penelitian dilaporkan penggunaan St. John Wort untuk dosis yang direkomendasikan untuk 1-3 bulan, efek samping yang biasa terjadi ialah gejala pencernaan, skin reaction, fatigue dan sedasi, kecemasan, pusing, dan mulut kering.Kebanyakan data meta analisis dan uji klinik menyimpulkan bahwa efek samping yang di timbulkan sedikit lebih tinggi dibandingkan placebo dan lebih rendah dibandingkan terapi anti depresan standar. Data hasil penelitian mengindikasikan hanya sekitar 1-3% dari pasien yang mengalami efek samping dari penggunaan St. John Wort.
Efek samping yang sering muncul pada penggunaan St. John Wort diantaranya efek dermatologi dan efek psikiatri.
Efek samping dermatologi yang sering timbul diantaranya alergi, fotosensitivitas, alopesia (kebotakan). Reaksi alergi yang ditimbulkan seperti ruam, gatal-gatal, dan pruritus telah dilaporkan oleh beberapa uji klinik tahun 1991-1999 terhadap penggunaan hypericin pada terapi dengan dosis 1,08 mg/hari yang menyertakan 8 juta orang, tercatat terjadi 27 kasus efek samping alergi pada kulit. efek samping dermatologi lain yang dilaporkan adalah berupa fotosensitivitas. Fotosensitivitas pada manusia dilaporkan bersifat reversible. Seorang pasien penderita itchy erythematosus lesion pada area terbuka dari kulit setelah menggunakan 240 mg/hari dari ekstrak hypericum selama 3 hari. Pada kasus lain, perasaan terbakar, erythematosus eruption terjadi 4 hari setelah terapi dengan 333 mg/hari ekstrak hypericum. Kasus lain adalah penggunaan St. John Wort secara topical dan oral menyebabkan fototoksis seperti erythematobollous dermatosis dan facial bullae yang berkaitan juga dengan ekspose sinar matahari dan UV B. Pada fase I mempelajari tentang intravena dan oral hypericin pada penderita infeksi HIV, tercatat banyak terjadi 11 kasus fototoksis pada kulit dari 23 subyek. Macam reaksi fotosensitivitas yang telah diteliti 14 dari 19 subyek penderita hepatitis C. Walaupun demikian, tidak terdapat korelasi antara fotosensitivitas dan total plasma konsentrasi hypericum pada human volunteer. Setelah mendapat single oral dengan dosis 900-3600 mg ekstrak hypericin. Laporan yang sama tercatat hanya kecil tetapi terjadi kenaikan sensitivitas yang signifikan pada sinar matahari dan UV A setelah 15 hari penggunaan 1800 mg/hari ekstrak hypericum. Efek samping dermatologi lain yang ditimbulkan adalah alopecia, atau yang sering disebut dengan gejala kebotakan. Kebanyakan terjadi pada wanita mulai usia 24 tahun dengan schizophrenia yang diterapi dengan antipsikotik olanzapine yang terjadi 5 bulan setelah augmentasi dengan 900 mg/hari St. John’s Wort.
Efek lain yang sering timbul adalah efek samping psikiatrik. Antara lain ansietas, mania, serotononin sindrom, dan psychosis. Ansietas, ketidaktenangan, insomnia telah dilaporkan merupakan efek yang ditimbulkan dari 14 efek samping psychiatric yang telah dilaporkan dalam data base WHO pada tahun 1998. Delapan laporan dari ansietas terjadi dalam sampel yang terdiri dari 3.250 subyek. Dalam uji setelah pemasaran dari 2.404 pasien, 5 pasien dilaporkan mengalami nervousness dan ansietas. Mania, mania kemungkinan diinduksi oleh St. John’s Wort telah dideskripsikan pada beberapa laporan, kebanyakan yang dibuat tiap-tiap individu ialah penyakit afektif, termasuk depresi mayor dan bipolar disorder. Barbenel et al. menjelaskan terjadinya sebuah episode mania pada seseorang berusia 28 tahun setelah 5 minggu diberi St.John’s Wort dan sentraline SSRI (50mg/hari). Fahmi mengemukakan bahwa mania diinduksi oleh StJohn’s Wort dosis tinggi pada wanita berumur 28 tahun yang tidak memiliki history mania atau hypomania dan tidak sedang menggunakan obat antidepresan. Efek lain yang mungkin terjadi ialah, serotonin syndrome. Adanya laporan mengenai kemungkinan terjadinya serotonin syndrome pada kelompok yang menjalani monoterapi dengan St.John’s Wort antara lain transient flushing, diaphoresis, hipertensi, dyspnea dan tremor pada pria dengan usia 40 tahun. Seorang wanita melaporkan terjadinya nausea, diaphoresis, kejang otot, lemah, dan naiknya denyut nadi beserta tekanan darah setelah pemberian kombinasi St.John’s Wort, kava kava dan akar valerian dosis tunggal. Efek yang juga dilaporkan ialah psikosis. Psychosis decompensation dilaporkan terjadi pada 2 orang penderita skizofrenia yang mengkonsumsi St.John’s Wort. Namun kedua pasien menghentikan pengobatan dengan antipsikotik sebelum mereka relaps atau kambuh. Pelaporan kasus yang lain menjelaskan psikotik dan kegilaan pada wanita berusia 76 tahun dengan penderita Alzheimer yang telah menggunakan St.John’s Wort selama 3 minggu.

IV. KESIMPULAN
1. St.John’s wort telah digunakan sejak 2000 tahun yang lalu sebagai antidepresan
2. Konstituen aktif dari St.John’s Wort diketahui mengandung hyperforin dan adhyperforin, hypericin dan pseudohypericin, flavonoid, xanthonin, oligomeri, procyanidin, dan asam amino.
3. Penggunaan St.John Wort direkomendasikan pada dosis yang tepat, sebab pada dosis yang tinggi dapat menghambat enzim monoamin oksidase.
4. Efek samping yang umumnya timbul adalah gejala pencernaan, reaksi dengan kulit, fatigue dan sedasi, kecemasaan, pusing, mulut kering, dan fotosensitivitas.
5. Kebanyakan kasus side effect yang terjadi adalah efek samping dermatologi dan psikiatrik. Itupun hanya pada penggunaan dengan dosis tinggi.

Keracunan Akut Yellow Oleander (Thevetia peruviana)

Keracunan Akut Yellow Oleander (Thevetia peruviana): aritmia jantung, gangguan elektrolit, dan konsentrasi serum glikosida Pada Rumah Sakit


Yellow oleander (Theventia peruviana) adalah suatu tanaman hias dari suku Apocynaceae yang umumnya terdapat didaerah tropis dan subtropics. Getahnya mengandung glikosida jantung yang toxic terhadap otot jantung dan system syaraf otonom. Biji yang tercerna menunjukkan gambaran klinik mirip dengan overdosis digitoxin. Keracunan parah dapat menyebabkan pasien meninggal pada shock resistant ventricular fibrilation. Banyak pasien dengan keracunan ”sedang” menunjukkan perpanjangan interval PR dan peningkatan terhadap dissosiasi atrioventricular (AV).
Kejadian keracunan secara kebetulan di seluruh penjuru tropis sebagian terjadi pada anak-anak, orang dewasa meninggal setelah mengkonsumsi daun oleander pada teh herbal. Bahkan penggunaan biji yellow oleander yang diminum secara langsung menjadi metode bunuh diri yang populer di sri langka bagian utara. Ada ribuan kasus tiap tahun dengan kasus fatal rata-rata sedikitnya mencapai 10%. 40% diantaranya memerlukan penanganan khusus dan dipindahkan dari rumah sakit sekunder di utara ke Institut Kardiologi di Colombo untuk langkah sementara.
Kami telah melakukan study selama 3 tahun terakhir sebagai usaha untuk mengembangkan pengatasan dari keracunan ini. Diwaktu yang sama, kami juga mencoba untuk mencatat kenampakan elektrocardiograph dan biokimia dari kondisi ini dan membandingkannya dengan artikel tentang overdosis digoxin.

Metode
Pasien dan study site
Pasien yang diamati adalah pasien yang menjalani pemeriksaan di naungan terpisah RS umum Anuradhapura selama bulan Juni-September 1995 dan Desember-Maret 1997, dan di Coronary Care Unit (CCU) Institut cardiologi Colombo, selama Maret-Oktober 1997. RS umum Anuradhapura merupakan RS utama pusat kesehatan untuk kota Colombo dan daerah di daerah sekitarnya. RS itu juga merupakan RS sekunder untuk 750.000 orang yang tinggal di distrik Anuradhapura, menerima semua pasien keracunan oleander yang terjadi di berbagai klinik dan rumah sakit melintasi distrik tersebut. CCU di Colombo merupakan pusat kardiologi ke-3 dengan fasilitas untuk langkah sementara untuk semua pulau.
Di Anuradhapura, ECG diambil selama ”standar work up” masing-masing pasien atau ketika mesin ECG ada, ritme jantung direkam dari 3 monitor utama.
Pasien yang diamati di Colombo adalah bagian dari uji poliklonal antidigoxin Fab pada keracunan oleander. Tiap pasien yang diperbolehkah masuk di CCU dengan kasus keracunan oleander, diamati oleh tim peneliti dan ECG nya direkam. Pasien dengan tingkat AV blok kedua atau ketiga, sinus bradikardia sinus atau exit block atau takiaritmia atrial dianggap sebagai keracunan parah dan diterima untuk study ini.

Biokimia
Sampel darah diambil dari masing-masing pasien dalam pengawasan di Anuradhapura dan dari Colombo pasien direkrut untuk kemudian dipilih sebagai kontol percobaan acak. Semua sampel disentrifugasi selama 60 menit serum akan terlepas dan disimpan pada suhu -20°C. Sampel segera dipindah dalam dry es dan dicairkan hanya sekali segera sebelum analisis.
Gambaran biokimia diselesaikan di lab kimia RS Homerton London menggunakan teknik standar otomatis. Digoxin yang dicampur dengan serum glikosida jantung diukur menggunakan polarisasi pengujian fluoroimuno untuk digoxin (innofluordigoxin Assay sistem, Oxis International Inc., Portland, Oregon, USA on Abboti TDx machine).

Hasil
Level perawatan primer dan sekunder (RS umum Anuradhapura)
Sampel ECG dan darah diambil dari 118 pasien yang ada di RS umum Anuradhapura dengan riwayat mengkonsumsi biji yellow oleander. Pasien muda (rata-rata umur 23,9 th): 57%nys adalah wanita. Hampir semua sebelumnhya dalam keadaan sehat; hanya 1 dilaporkan dalam pengobatan., yaitu gadis 17 tahun dengan penyakit reumatik jantung yang mengkonsumsi 0,25 mg digoxin/hari.
ECG normal ditemukan sebanyak 43%. Banyak dari pasien lain menunjukkan kondisi abnormal pada sinus node/AV node. Beberapa pasien yang dipindahkan ke Anuradhapura menitikkan isoprenalin dan takikardik dalam pengawasan.
Dokter Anuradhapura mengirim semua pasien dengan tingkat AV blok ke-2/ke-3, menandai sinus brakikardia, atau atrial takikaritmia kepada CCU di Colombo. Tingkat potassium tidak diukur sebelum transfer, semua keputusan diambil hanya berdasar pada ritme jantung.
Rata-rata Serum digoxin dicampur dengan glikosida jantung reaktif dan konsentrasi potasium ditinggikan secara signifikan pada pasien yang dipindah: 3,00 nmol/l, glikosida jantung 1,49 nmol/l dan 5,4nmol/l potasium 4,3mmol/l (keduanya p
Gambaran biokimia ditunjukkan dalam subset, dari 53 pasien. Kreatin kinase (CK) meningkat pada 14 pasien (rentang 203-1124 IU/l). Meskipun ini tidak berhubungan dengan keparahan kardiotoksisitas (CK 201,3 IU/l pada pasien yang dipindah/meninggal. 202,8 IU/l pada pasien yang meninggal tanpa penanganan khusus).
Enzim hati normal pada 49 pasien: 3 mengalami sedikit kenaikan harga sewaktu harga γ glutamyl transferase 1112 IU/l dan aspartat transainase 101 IU/l. Kreatin dan urea meningkat pada seorang pasien (kakek 70th), urea sendiri meningkat pada 3 pasien. Glukosa darah acak lebih besar dari 11 mmol/l dalam 6 pasien (rentang 11,2-38,3 mmol/l). Serum protein terdapat normal dalam ke 53 pasien.

Outcomes
2 pasien meninggal dan 52 membutuhkan dipindah ke CCU Colombo. Sedikitnya seorang meninggal selama menunggu. 64 pasien lainnya dirawat sesuai dengan gejala-gejalana dan dinyatakan sembuh. 4 pasien meninggal ketika sampai di RS sebelum sampel darah maupun ECGnya dapat diambil, dan data tersebut tidak dibahas disini. Sampel serum diambil dari 2 pasien yang meninggal di RS dan dari pasien yang meninggal dalam perjalanan ke Colombo. Kedauanya menunjukkan tanda gangguan elektrolit.
KD 019 adalah seorang perempuan 16 tahun yang dilaporkan 5 jam setelah makan 8 biji oleander memiliki gangguan hari tingkat 3 dan konsentrasi glikosida jantungnya adlaah 22 mmol/l, serum potasium 8,3 mmol/l dan serum magnesiumnya 1,34 mmol/l.
KD 025 adalah seorang lelaki yang dilaporkan 3 jam setelah makan 5 biji dengan kerusakan AV node dan konsentrasi glikosida jantungnya 5,91 nmol/l, serum potasium 10,8 mmol/l dan serum magnesium 1,05mmol/l. Paien tersebut meniggal dalam perjalanan menuju Colombo.
KD 046 adalah seorang pemuda berumur 17 tahun yang dilaporkan 8 jam setelah makan 2 biji dengan gangguan AV node tingkat kedua, konsentrasi glikosida jantungnya 4,93nmol/l, serum potasium 5,9nmol/l, dan serum magnesium 0,84nmol/l.

Tingkat Ketiga dari Health Care (CCU Colombo)
2023 pasien dengan riwayat keracunan oleander dapat ditemukan di CCU Colombo setelah dipindahkan dari RS sekunder di daerah utara pulau. Sebagian besar pasien adalah orang muda (rata-rata berusia 24,6 th, antara 10-67th) dan sebelumnya sehat. 59% dari pasien tersebut adalah wanita. Riwayat kesehatan medis sebelumnya diambil dari pasien yang akan diuji: 1 pemuda berumur 16 th memiliki diagnosa asma namun tidak menjalani perawatan, seluruh pasien yang lain sehat.
Detak jantung pasien yang akan diuji klinik terdapat di tabel 1 (Terlampir). Walaupun kebanyakan pasien menunjukkan aritmia tertentu (tipikal) di peripheral hospital, 40% nya telah kembali ke detak sinus regular, seperti saat mereka tiba di CCU. Sedikit pasien menunjukkan tanda kardiotoksisitas, tetapi bebrapa kemajuan dari ECG normal ke gangguan AV aatau sick sinus sindrom melebihi jam selanjutnya kemungkinan karena melanjutkan absorpsi glikosida jantung dari saluran gastrointestinal.

Pasien dengan beberapa cardiotoxisitas
89 pasien yang direkrut pada percobaan memiliki kardiotoksisitas yang keras. Kebanyakan aritmia yang biasa terjadi mempengaruhi sinus node (sinus brakikardia 25%, sinus arrest atau exit blok 62%) atau AV node (gangguan hati tingkat kedua atau ketiga sebanyak 53%). 30% pasien ditandai dengan kondisi baik sinus dan AV node (tabel 3).
Elektrolit dan konsentrasi serum glikosida jantung dari 88 pasien (sampel darah tidak dapat diambil dari pasien yang meninggal dunia). Nilai rata-rata untuk digoxin berbanding terbalik dengan glikosida jantung, potasium, dan magnesium (tabel 2).

Ritme jantung dan serum glikosida jantung dan konsentrasi elektrolit
Untuk memeriksa hubungan antara tingkat serum glikosida konsentrasi elektrolit dan detak jantung, 50 pasien diamati di Anuradhapura dengan ECG normal dibandingkan dengan 63 pasien dengan tanda aritmia yang dirawat i Colombo. Konsentrasi serum glikosida jantung diplotkan berlawanan dengan serum potasium (gambar 2.a) dan magnesium (gambar 2.b) untuk anggota tiap kelompok.
Disana dapat dilihat dengan jelas hubungan antara serum glikosida jantung dan konsentrasi potasium. Hubungan antara glikosida jantung dan konsentrasi potasium memiliki nilai r=0,70; pasien yang dianalisis dengan detak normal memiliki nilai r=0,68 dan pasien yang detaknya tidak normal memiliki r=0,79 (nilainya tidak berbeda signifikan). Untuk semua pasien yang diambil bersamaan atau untuk dua kelompok, tidak ada hubungan antara serum magnesium dan glikosida jantung.
Pasien dengan tanda aritmia kemudian dikelompokkan menurut apakah aritmianya karena ketidaknormalan AV node (20 pasien) atau keduanya (18 pasien). Rata-rata serum glikosida jantung, potasium dan konsentrasi magnesium kemudian dihitung (tabel 4). Tingkat serum glikosida jantung diplotkan berlawanan dengan konsentrasi serum potasiu (gambar 3.a) dan magnesium (gambar 3.b) untuk anggota-anggota kelompok tersebut.
Disana tidak menunjukkan hubungan antara sisi blok penghubung dan serum glikosida atau nilai elektrolit. Namun rata-rata konsentrasi serum glikosida jantung pada pasien dengan gangguan AV node dan sinus node lebih tinggi dibanding pasien dengan gangguan hanya pada masing-masing sinus node (p=0,016, ANAVA).



Diskusi
Penyakit yellow oleander yang sangat cepat menyebar di Sri langka bagian utara merupakan suatu kesempatan untuk mempelajari lebih detail tentang peristiwa keracunan yang tidak umum terjadi di bagian belahan dunia tropis lain. Salah satu dari semua jurnal yang telah dilaporkan lebih dari 13 kasus, salah satunya melaporkan bahwa ada 170 kasus termasuk tanpa data ECG atau biokimia. Study terbaru dari 351 pasien adalah penelitian pertama yang memberikan informasi mengenai penyakit yellow oleander ini.
Keracunan yellow oleander mirip dengan kasus digoxin. Namun rata-rata umur pasien yang mengalami overdosis digoxin secara tidak sengaja lebih tua dibandingkan pasien yang menggunakan biji oleander: 75 tahun di salah satu penelitian dari 219 pasien di amerika dibanding 24,8 tahun dari 415 pasien oleander di Sri lanka. Diantara pernah juga di percobaan bunuh diri di Prancis dengan digoxin, satu pasien diduga lebih muda, hanya 29% yang lebih sedikit dari 40 tahun, dan 39% yang lebih tua dari 60 tahun.
Kebanyakan pasien kami dalam keadaan sehat sebelum memakan biji oleander. Ini yang membedakan kami dari pasien keracunan digoxin dimana 66 pasien membahayakan dirinya sendiri dengan sengaja menurut penelitian di Perancis, lebih dari 90% kondisi hatinya telah lebih dulu bermasalah. Persamaannya adalah mayoritas pasien yang mengalami overdosis secara tak sengaja menjalani prngobatan dengan macam-macam obat (penggunaan obat yang beraneka ragam): 58% pasien di salah satu penelitian, menggunakan 3/lebih obat (sebagai tambahan) pada saat sebelumnya sehat. Sebagai hasilnya, arimia jantung ditingkatkan oleh racun oleander menjadi tak seperti kondisi sebelumnya.
Kebanyakan gejala pasien memiliki efek penurunan sinus/AV node, dalam 30% dari kasus yang ada kedua node benar-benar mengalami efek signifikan (tabel 2). Karakteristik detak Mobitz tipe II gangguan AV, walaupun jarang dilaporkan pada keracunan digoxin, terjadi pada beberapa pasien yang keracunan oleander (gb. 3). Fibrilasi atrial dan ’flutter’ (menggelepar) tidak biasa terjadi pada pasien kami, hal ini mungkin karena kondisi jantungnya yang bagus sebelumnya. Empat pasien pada seri pasien dengan aritmia, semuanya menunjukkan adanya respon ventrikular yang lambat karena melemahnya kerja AV, hal ini juga yang terjadi pada keracunan digoxin. Pasien diobati dengan atidigozin Fab yang mengembalikan detak sinus kembali ke normal. Dugaannya adalah aritmia atrial ini tidak pernah terjadi sebelum keracunan. Detak ’centricular ectopic’ adalah hal yang tak biasa terjadi pada pasien oleander.
Hiperkalaemia exacerbates glikosida jantung meningkatkan aritmia jantung, dan ini kemudian digunakan sebagai marker dari sedikit keluarnya racun glikosida jantung. Meski pun semua gejala pasien adalah muntah, beberapa jenis yellow oleander menyebabkan kardiotoksisitas yang berhubungan dengan hiperkalamia. Tingkat hiperkalamia berhubungan dengan serum digoxin, berbanding terbalik dengan konsentrasi glikosi dajantung.
Di Perancis study tentang kasus bunuh diri dengan digoxin overdosis, juga menemukan adanya hubungan antara hiperkalaemia dan kardiotoksisitas: rata-rata (SD) masuknya konsentrasi serum potasium untuk pasien yang meninggal adalah 6,15 (0,74) mmol/l dibandingkan dengan 4,2 (0,52) untuk pasien yang tersembuhkan. Penulis menyarankan serum potasium akan menjadi marker cepat pada pasien dengan sedikit gejala.
Konsentrasi seum glikosida jantung dan potasium meningkat secara signifikan pada pasien yang dipindahkan ke Colombo untuk perawatan khusus daripada mereka yang rawat jalan dari Anuradhapura. Sayangnya kami tidak menemukan seum potasium untuk dijadikan marker spesifik awal dari pasien yang akan membutuhkan pemindahan. 10 dari 54 pasien yang ditangani gejalanya di Anuradhapura tanpa dipindah, memiliki harga serum potasium > 5,0 mmol/l didalam tubuhnya. Tingkat potasium dan glikosida jantung pasien yang di rekrut pada percobaan tidak lebih tinggi pada daripada mereka yang membutuhkan pemindahan dari Anuradhapura ke CCY. Ini mungkin karena pasien dengan tanda kenaikan potasium atau glikosida jantung meninggal terlebih dulu sebelum mencapai Colombo.
Kecelakaan racun digoxin pada pasien berusia lanjut yang sedang dalam terapi digoxin menjadi complicated oleh hipokalaemia owing to kombinasi dengan penyembuhan diuretik. Ini adalah masalah yang tidak biasa dalam kedua racun yellow oleander dan overdosis digoxin.
Meski demikian, 3 pasien yang dibawa ke Colombo dengan berbagai racun mendapat konsentrasi serum kurang dari 3,0 mmol/l; satu dari mereka meninggal (eddleston M, et al, unpublished data, 1999). Study lebih jauh dibutuhkan untuk melihat apakah pengujian potasium lebih awal dan koreksi untuk meningkatkan pengeluaran.
Kekurangan magnesium mudah terjangkit racun digoxin. Kami menemukan tidak ada hubungan antara serum magnesium dengan artimia maupun konsentrasi glikosida. Ini berarti konsentrasi serum magnesium tidak diubah oleh racun yellow oleander, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ketidak normalan tinggi atau rendahnya tingkat magnesium sebelum keracunan mungkin dipengaruhi oleh pengeluaran. 2 dari 3 kefatalan dari mereka yang mampu mendapat sampel darah memiliki hipermagnesamia (1,08 dan 1,34 mmol/l). Satu pasien yang mana diobati di percobaan klinik tapi meninggal memiliki konsentrasi serum magnesium 0,46 mmol/l.
Kami tidak mampu untuk mengidentifikasi secara pasti hubungan antara aritmia pasien saat itu dan konsentrasi serum glikosida atau kerusakan elektrolit. Study dimasa mendatang sangat dibutuhkan untuk mengetahui relatif pentingnya tingkat glikosida jantung dan kerusakan elektrolit pada pasien yang mempunyai faktor kematian.

Senin, 16 Agustus 2010

Survei pemanfaatan tumbuhan secara tradisional

Mengenal Tumbuhan Obat dengan betul dan baik
Betul secara Taksonomi
Mengerti jenis tumbuhan dengan betul
Mengerti bagian yang dimanfaatkan
Betul secara kajian Farmasi
Mengerti khasiat tumbuhan
Mengerti cara pemanfaatan dengan betul

Mengenal dengan baik
Mampu mencandra
Mampu menggambarkan
Mampu membedakan ciri khas dengan jenis lain
Mengetahui lokasi biasanya terdapat tumbuhan obat
Modal :
Mempelajari morfologi tumbuhan
Menghafal lewat foto
Sering berkomunikasi dengan pakar taksonomi
Wisata dan punya kebun koleksi

Contoh etiket jenis tumbuhan :
Adas
Foeniculum vulgare Mill.

Bagian yang dimanfaatkan : Buah
Khasiat : Obat batuk, obat masuk angin

Temu lawak atau Curcuma xanthorrhiza Roxb.
Bagian yang dipakai : Rimpang
Memperkuat lever dan obat sakit kuning (hepatitis)
Obat kolesterol
Penambah nafsu makan
Aturan pakai :
Rimpang sebesar 2 jari dicuci bersih, diiris tipis-tipis, kemudian dicom dengan air panas satu gelas, diminum setelah dingin
Diulang sekali lagi untuk sore harinya

Seledri atau Apium graveolens L.
Obat tekanan darah tinggi
Cara : 2-3 tangkai daun seledri dicuci bersih kemudian dilalap untuk pagi dan sore hari

Jahe atau Zingiber officinale Roscoe
Bagian yang dipakai : rimpang
Obat masuk angin
Obat rematik
Cara : 2 rimpang sebesar ibu jari dicuci, dicom air panas, bila perlu ditambah sedikit gula aren (gula jawa)

Daun salam atau Syzygium polyanthum L.
Bagian yang digunakan : daun
Obat sakit tekanan darah tinggi
Obat sakit gula
Cara : 3 lembar daun salam dicom air panas satu gelas, diminum pagi ½ gelas sore ½ gelas
Penderita hipotensi tidak boleh minum rebusan daun salam

Tempuyung atau Sonchus arvensis L.
Daun untuk pelancar buang air seni
Cara : 2-3 lembar daun dicuci bersih, dipotong-potong dan dicom dengan air panas 2 gelas. Setelah dingin diminum 2x sehari maksimum 14 hari

Daun saga atau Abrus precatorius L.
Bagian yang dipakai : daun
Obat sariawan
Cara : segenggam daun saga dicuci dan dicom air panas satu gelas, ketika hangat diminum
Hati-hati : biji beracun
Tidak sama dengan saga pohon yang boleh dimakan bijinya

Bawang putih atau Allium sativum L.
Bagian yang digunakan : umbi lapis
Obat : timbunan kolesterol dan meningkatkan stamina tubuh
Cara : satu siung bawang putih dimakan mentah atau untuk lalab pagi-sore

Jati belanda atau Guazuma ulmifolia L.
Bagian yang dipakai : daun
Obat pelangsing
Cara : 3 lembar daun dan satu ibu jari kunyit dicuci, diiris-iris, ditambah sedikit asam jawa, dicom satu gelas air panas, diamkan sampai dingin. Diminum malam menjelang tidur

Kunyit atau Curcuma domestica Val.
Bagian yang dipakai : rimpang
Obat nyeri haid
Cara : dibuat kunyit asam
Dapat pula sebagai tabir surya, pelindung kulit dari kerusakan sinar matahari

Pace atau Morinda citrifolia L.
Bagian yang dipakai : buah
Obat diabetes dan penurun tekanan darah tinggi
Cara : dibuat semelak pace campuran antara segelas kunyit asam dengan satu butir buah pace masak di pohon

Patikan kebo atau Euphorbia hirta L.
Bagian yang dipakai : semua bagian tanaman kecuali akar
Obat batuk
Cara : satu batang patikan kebo, 2 lembar daun sirih, dicuci, dicom segelas air panas. Diminum selagi dingin, 3 x sehari

Bawang dayak atau Eleutherine palmifolia L.
Bagian yang dipakai : umbi akar
Obat disentri
Cara : 3 potong umbi, dicuci bersih, diiris-iris, dicom segelas air panas. Didiamkan setlah dingin diminum. Kerjakan 2 kali sehari

Alang-alang atau Imperata cylindrica Beauv.
Bagian yang dipakai : akar tinggal
Obat : panas dalam, menjaga stamina
Cara : akar tinggal dicuci bersih, dicom satu gelas air panas, setelah dingin ditambah jeruk nipis, diminum pagi dan sore

Pegagan atau Centella asiatica Rendl.
Bagian yang dipakai : daun
Peningkat stamina tubuh, obat gatal
Cara : 3-5 lembar daun dicuci dan dicom air panas satu gelas, diminum setelah dingin pagi hari

Wortel atau Daucus carota L.
Bagian yang dipakai : umbi atau akar pena
Sebagai antioksidan
Cara : satu umbi dicuci bersih, dikupas dan dibuat juice wortel. Diminum pagi hari. Bisa ditambah jeruk untuk menghilangkan bau “langu”

Adas atau Foeniculum vulgare L.
Bagian yang dipakai batang dan daun
Obat masuk angin bayi
Cara : batang dan daun didestilasi, minyak yang keluar (minyak telon) digosokkan di bagian perut dn tubuh bayi

Buah adas atau Foeniculum vulgare L.
Bagian yang dipakai : buah
Obat batuk
Cara : sejimpit buah adas dicom setengah gelas air panas, diminum ketika masih hangat. Diulang 3 kali sehari

Daun kumis kucing atau Orthosiphon aristatus
Bagian yang dipakai : daun
Obat pelancar buang air kecil
Cara : 7 lembar daun dicuci bersih, dicom segelas air panas. Diminum setelah dingin. Paling lama 14 hari

Daun katuk atau Sauropus androgynus L.
Bagian yang dipakai : daun
Obat pelancar ASI
Cara : segenggam daun katuk dicuci kemudian dibuat sayur ca

Buah merah atau Pandanus conidaeus
Bagian yang dipakai : buah/biji
Sebagai antioksidan
Cara : Sejimpit buah dicom air panas, ditunggu dingin kemudian diminum

Kepel atau Stelechocarpus burahol Hook.f.
Buah : penghilang bau badan. Cara: daging buah kepel dimakan
Daun : obat asam urat
Cara : 7 lembar daun dicuci, dipotong-potong dicom air panas 2 gelas, diminum setelah dingin

Cepokak atau Solanum nigrum L.
Bagian yang digunakan : buah
Obat penurun kadar gula darah
Buah yang telah setengah masak (masih hijau) dilalab

Tomat atau Solanum lycopersicum L.
Bagian yang dimanfaatkan : buah
Sebagai anti-oksidan, sumber vitamin A, C
Cara : buah yang masak dilalab atau dibuat juice buah

Bawang merah atau Allium cepa L.
Bagian yang dipakai : umbi lapis
Obat masuk angin dan antioksidan
Cara : untuk masuk angin, umbi lapis diparut dan ditapel
Untuk antioksidan : diiris dan dilalab

Bayam sayur atau Amaranthus tricolor L.
Bagian yang digunakan : daun
Sumber zat besi dan anti-oksidan
Cara : Direbus sebentar untuk lalab atau dibuat sayur bayam

Pepaya atau Carica papaya L.
Bagian yang dipakai buah untuk anti-oksidan, melancarkan buang air besar
Cara : buah masak dimakan/dibuat juice
Bagian lain : daun
Obat malaria, penambah nafsu makan

Kemangi atau Ocimum basilicum
Bagian yang dipakai : daun
Penghilang bau badan
Cara : daun dilalab

Beluntas atau Pluchea indica L.
Bagian yang digunakan : daun/tunas ujung
Penghilang bau badan
Cara : tunas ujung dipetik kemudian dipakai untuk lalab

Sirih atau Piper betle L.
Bagian yang digunakan : daun
Untuk antiseptik, penghilang bau mulut, obat batuk
Cara : 2 lembar daun dicom segelas air panas, setelah dingin diminum

Metode dalam kajian Etnobotani

Metode Dalam Kajian Etnobotani :
Anthropological Field Methods
Linguistic and Other Symbolic Analyses
Plant Collection and Taxonomy
Archaeobotanical Methods
Specialist Botanical Methods

Specialist Botanical Methods
Languages and Linguistics, contoh : dalam hal identifikasi jenis tumbuhan dalam sejarah peradaban manusia
Art history, suatu teknik untuk mengembangkan identitas dan kenyataan tumbuhan yang mewakili seni dalam keadaan sekarang, sejarah dan prasejarah
Agricultural science, berkaitan dengan jenis tumbuhan asli, cara becocok tanam, analisis tanah dan cara bercocok tanam secara tradisional
Ecology, pendekatan tentang cara kajian (penilaian) kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam
Phytochemestry, berbicara tentang metode analisis kandungan kimia tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat secara tradisional
Pharmacognosy, kajian tentang penggunaan ekstrak jenis tumbuhan yang mempunyai bioaktivitas dalam pengobatan secara tradisional
Molecular biology, teknik secara molekuler dalam pengertian yang luas. Contoh : teknik identifikasi secara modern untuk jenis tumbuhan atau materi fosil, menginvestigasi proses domestikasi tumbuhan, mendukung tujuan cara-cara tradisional dalam pengelolaan tumbuhan
Applied anthropology (economic anthropology and development anthropology), analisis secara nyata terhadap kerugian/keuntungan terhadap pilihan masalah yang berkembang, atau penerapan data etnobotani untuk memecahkan masalah yang berkembang.

Archaeobotanical methods
Paleobotany, adalah ilmu yang mengkaji hubungan antara tumbuhan dengan manusia pada masa lampau, termasuk penelusuran bukti-bukti yang tertulis dalam teks sejarah dan interpretasi tumbuhan dalam kehidupan jaman purba
Apa yang dijadikan bukti ?
Bagaimana cara mengambil (sampling)?
Peralatan pendukung untuk analisis ?
Bagaimana menginterpretasikan data ?

Anthropological Field Method
Qualitative approach : open ended and semi structured interview
Quantitative approach : structured interview and questionnaires, free listing, systematic survey (transects or hectare plots)