Senin, 16 Agustus 2010

lulur pengantin

laporan praktikum

LULUR PENGANTIN

A. DASAR TEORI
Keberadaan kosmetika tradisional yang dibuat dengan cara tradisional dari bahan baku alami, tidak dapat dipungkiri telah diakui dan dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Tidak diketahui kapan persisnya kosmetika tradisional mulai digunakan di Indonesia. Namun, hal itu berhubungan dengan sejarah kebudayaan bangsa Indonesia yang dahulu berpusat di keraton yang juga menjadi pusat pemerintahan. Perawatan kecantikan tradisional yang menjadi budaya para istri dan puteri keraton merupakan contoh teladan bagi masyarakat sekitarnya. Salah satu kosmetika tradisional yang telah lama digunakan adalah lulur pengantin.
Lulur pengantin digunakan sebagai perawatan tubuh tradisional yang sudah populer sejak dahulu. Lulur ini adalah versi tradisional dari bodyscrub. Tujuannya adalah menghilangkan lapisan kulit yang mati pada kulit tubuh, mencerahkan kulit sekaligus menghilangkan bau tak sedap, mengabsropsi kotoran dan sebagai abrasiver, peeling sel kulit mati pada lapisan tanduk, merangsang pertumbuhan sel kulit baru.
Berbagai bahan dasar disekitar kita merupakan bahan dasar yang dapat diolah menjdai kosmetika tradisonal. Talkum, tepung untuk kosmetika tradisional diperoleh antara lain dari tepung beras (Oryza sativa), bengkuang (Pachyrrus erosus), lidah buaya (Aloe vera), dan rimpang kunyit ( Curcuma domestica). Tepung diperoleh dengan cara menumbuk bahan baku sampai halus dan diayak melalui saringan halus.

B. RESEP
R/ Bunga kenanga 3 g
Daun Kemuning 3 g
Krangenan 2 g
Kulit jeruk purut 2 g
Temu giring 10 g
Beras yang ditumbuk 20 g
C. ALAT DAN BAHAN

Alat :
• Gelas ukur
• Cetakan
• Mortir dan stamper



Bahan :
• Bunga kenanga
• Daun Kemuning
• Krangenan
• Kulit jeruk purut
• Temu giring
• Beras yang ditumbuk


D. CARA KERJA
Timbang bahan-bahan yang diperlukan

Tumbuk dan saring dengan derajat halus yang sesuai

Campurkan bahan-bahan yang akan dipergunakan

Campuran dibagi menjadi 2 bagian

Tambahkan oil type binder dengan prosentase 70% (A)

Tambahkan oil type binder dengan prosentase 90% (B)


E. CARA ANALISIS
Amati morfologi sediaan (kestabilan bentuk dan pertumbuhan jamur) sebelum dan sesudah penyimpanan.





F. HASIL
a. Setelah pembuatan (15 Sept 2008)
• Oil type binder 70% (A)
Warna : Coklat bintik hitam
Cemaran : negatif
• Oil type binder 90% (B)
Warna : Coklat bintik hitam
Cemaran : negatif
b. Setelah 1 minggu (22 Sept 2008)
• Oil type binder 70% (A)
Warna : Kuning kecoklatan
Cemaran : negatif
Bentuk : Tetap
Lebih mudah rapuh
• Oil type binder 90% (B)
Warna : Kuning kecoklatan
Cemaran : negatif
Bentuk : Tetap
Sukar rapuh
c. Setelah 3 Minggu (14 Okt 2008)
• Oil type binder 70% (A)
Warna : Kuning kecoklatan (memudar)
Cemaran : negatif
Bentuk : Tetap
Lebih mudah rapuh
• Oil type binder 90% (B)
Warna : Kuning kecoklatan (memudar)
Cemaran : negatif
Bentuk : Tetap
Sukar rapuh

G. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini bertujuan untuk membuat sediaan kosmetik tradisional berupa lulur pengantin. Ramuan lulur pengantin ini diracik dan diramu khas secara tradisional dan merupakan tradisi turun-temurun. Lulur berfungsi membantu pengelupasan sel-sel mati, sehingga kulit menjdai lebih bersih dan halus, mencerahkan kulit sekaligus menghilangkan bau tak sedap. Bahan yang digunakan dalam pembuatan lulur ini berasal dari bahan alam. Bahan-bahan yang digunakan berupa bunga kenanga yang berfungsi memperbaiki kulit kering serta bersisik, mengecilkan pori-pori, menjaga kelembaban kulit serta menghaluskan kulit. Daun Kemuning yang berperan dalam membantu mengatasi kulit yang kasar sehingga kulit akan lebih halus.. Daun Krangean mengandung saponin yang dapat menimbulkan efek melicinkan kulit pada saat pemakaian. Kulit jeruk purut dapat bersifat antiseptik. Temu giring dapat dipercaya digunakan sebagai penghalus kulit.
Bahan-bahan yang digunakan berupa bahan yang dikeringkan yang selanjutnya diserbuk. Setelah itu bahan-bahan ditimbang dan dicampur menjadi satu dan digerus menggunakan mortir dan stamper hingga homogen. Selanjutnya bahan tersebut diayak dan ditimbang lagi yang selanjutnya dibagi menjadai dua bagian. Setelah dibagi menjadi dua bagian masing-masing bagian ditambahkan oil type binder dengan prosentase yang berbeda, yaitu sebesar 70% dan 90%. Setelah ditambahkan oil type binder kemudian dihomogenkan lagi dalam mortir dan stamper. Selanjutnya adonan dibentuk sesuai dengan keinginan. Kemudian lulur dijemur sampai kadar air didalam lulur berkurang. Setelah kering disimpan dalam wadah. Penambahan oil type binder sangat berpengaruh pada tingkat kerapuhan dari lulur yang dibuat. Jika oil type binder terlalu banyak, lulur akan sukar hancur jika terkena air. Dan sebaliknya jika terlalu sedikit akan membuat lulur menjadi mudah hancur.
Setelah satu minggu penyimpanan lulur dilihat kestabilan bentuknya dan ada atau tidaknya pertumbuhan jamur. Dari hasil pengamatan didapat tidak ada perubahan bentuk antara sebelum dan sesudah penyimpanan, atau dengan kata lain bentuknya tetap. Dari segi warna terdapat perubahan, yaitu yang semula berwarna coklat berubah menjadi kuning kecoklatan. Dari segi kerapuhan oil type binder dengan konsentrasi 90% lebih sukar untuk rapuh dibanding lulur dengan oil type binder 70%. Setelah tiga minggu lulur yang dihasilkan tetap tidak menujukkan perbedaan bentuk atau tetap. Dari segi warna, warnanya semakin memudar. Dari segi kerapuhan oil type binder dengan konsentrasi 90% lebih sukar untuk pecah dibanding lulur dengan oil type binder 70%. Dari hasil pengamatan juga tidak nampak adanya pertumbuhan jamur.
Kesulitan yang dialami pada saat pembuatan lulur ini adalah saat menggerus dan mencampur bahan-bahan yang berupa serbuk kasar dengan menggunakan mortir dan stamper karena bahan sangat keras sehingga sukar untuk dihaluskan.

H. KESIMPULAN
1. Lulur pengantin yang dihasilkan mempunyai stabilitas fisik yang baik. Namun dari segi warna, warnanya mudah memudar.
2. Penambahan oil type binder perlu diperhatikan agar diperoleh lulur yang baik.

I. SARAN
Perlu dilakukan penelitian untuk mendapatkan jumlah oil type binder yang tepat

J. DAFTAR PUSTAKA
Wasitaatmaja, SM, 1997, Penuntun Ilmu Kosmetik medik, UI Press, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ayo tulis komentar donk