Senin, 16 Agustus 2010

kosmetika

KOSMETIK
Adalah setiap bahan atau sediaan
yang dimaksudkan untuk digunakan pada seluruh bagian
luar tubuh manusia
(epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar)
atau gigi dan membran mukosa di sekitar mulut
terutama untuk membersihkan,
mewangikan,
mengubah penampilan dan atau
memperbaiki bau badan dan atau
melindungi atau memelihara tubuh pada
kondisi baik

BAHAN KOSMETIK
Adalah bahan atau campuran bahan yang berasal dari alam dan atau sintetik yang merupakan komponen kosmetik
Bahan pewarna adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk memberi dan atau memperbaiki warna pada kosmetik
Bahan pengawet adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk mencegah kerusakan kosmetik yang disebabkan oleh mikroorganisme
Bahan tabir surya adalah bahan yang digunakan untuk melindungi kulit dari radiasi sinar ultra violet dengan cara menyerap, memancarkan, dan menghamburkan

BAHAN DASAR KOSMETIK/BASE OIL
ARE VEGETABLE, NUT OR SEED OILS,
MANY OF WHICH THEMSELVES HAVE THERAPEUTIC PROPERTIES.
Soya bean oil
Sunflower oil
Olive oil
Carrot oil
Avocado oil
etc

PEMBERSIH / CLEANSER
Cocoa Butter Cleanser
R/ Cocoa butter 100 g
Grape seed oil 50 ml
Spring water 50 ml
Rose Maroc 1 drop
Sandalwood 1 drop
Cairkan lemak coklat di atas penangas air, tambahkan air mineral dan minyak biji anggur. Campurkan dengan menggunakan blender dan biarkan dingin. Tambahkan minyak mawar dan minyak cendana

FAKTOR PADA ANALISIS KOSMETIK
SIFAT ZAT AKTIF
- Polaritas – Kelarutan – Minyak atsiri – Non polar
- Struktur kimia – Gugus kromofor – Serapan maksimum –
Spektrofotometri, KCKT
- Gugus reaktif – Deteksi dg pereaksi –
KLT, spektrofotometri
- Derivatisasi- Menjadi volatil – Krom. Gas
- Stabilitas – Lakton, poly unsaturated,
alkaloid

Bentuk Sediaan
Cairan – Body lotion, parfum, shampo, cleanser

Semi padat – Conditioner, sabun cair, pasta gigi, minyak rambut

Padat – Sabun, deodoran, bedak, masker, lipstik

KELARUTAN BAHAN DASAR/TAMBAHAN
Bahan dasar yang berupa minyak atau lemak, vaselin, parafin tidak larut dalam air, larut dalam pelarut organik
Bahan dasar berupa amilum, talk tidak larut dalam pelarut organik, tersuspensi dalam air, menggumpal jika dipanaskan dengan air
Sediaan semipadat sering merupakan emulsi yang bercampur dengan pelarut organik maupun dengan air

BAHAN DASAR MINYAK
Jika zat kimia yang diuji bersifat ekstrem non polar, dapat dilakukan pengenceran dengan pelarut non polar seperti heksan atau bensen kemudian ditotolkan pada lempeng KLT yang diimpregnasi parafin.

Jika zat kimia yang diuji tidak ekstrem non polar, dapat digunakan etanol sebagai penyari yang akan melarutkan zat uji tetapi tidak melarutkan lemak pada keadaan dingin

BAHAN DASAR PADAT
Untuk sabun dan deodoran dapat digunakan pelarut mulai dari kloroform, etil asetat atau aseton, hingga etanol. Jika kesulitan melarutkannya karena konsistensi bahan yang lembek, dapat dilarutkan dulu dalam air kemudian digojog dengan kloroform atau etil asetat.

Untuk bedak tidak banyak masalah, langsung dapat dilarutkan dalam pelarut organik yang sesuai karena bahan dasarnya tidak larut

BENTUK SEDIAAN SEMIPADAT
Pasta gigi dan conditioner pada umumnya tidak banyak mengandung minyak lemak yang teremulsi maka dapat langsung dilarutkan dalam pelarut organik yang sesuai dengan kelarutan zat kimia uji
Sabun cair dan minyak rambut agak bermasalah karena terkandung minyak lemak yang teremulsi. Penambahan etil asetat atau kloroform sering tidak memecah emulsi, etanol lebih tepat tetapi akan diperoleh etanol yang terencerkan oleh kandungan air dari sabun. Jika zat ujinya non polar dapat dilakukan penyarian lanjut dengan heksan. Jika zat ujinya relatif polar maka harus sabar pada waktu menotolkan pada lempeng agar tidak melebar

Triclosan, Zn Pyrithion, TCC
Bahan uji
A. Triclosan
B. Zn pirition
C. TCC
Fase diam – Silika gel 60 F254
Fase gerak - heksan

TRICLOSAN DALAM SABUN
Bahan uji
A. Triclosan
B. Sari kloroformik sabun
Fase diam – Silika gel 60 F254
Fase gerak - Kloroform

PK TRIKLOSAN DALAM DEODORAN
CUPLIKAN
HCl 1 N  menghidrolisis?
Parafin cair
Metanol
CAMPURAN
Natrium sulfat anhidrat

LARUTAN  apakah semua larut?
Disuntikkan ke kolom KCKT

PK Zn PIRITION DALAM SHAMPO

CUPLIKAN
larutan Na edetat
dikloroetana

Fase Air Fase Dikloroetana
sentrifugasi
tembaga (II) sulfat
kloroform
Larutan Endapan Spektrofotometri



KESIMPULAN
Preparasi sangat menentukan keberhasilan analisis
Perhatian yang sama harus ditujukan baik pada sifat zat uji maupun bahan dasar sediaan
Jika memungkinkan dihindari prosedur dengan reaksi pengendapan

POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)
Polymerase Chain Reaction (PCR) is a technique4 widely used in molecular biology.

It derives its name from one of its key components, a DNA polymerase used to amplify a piece of DNA by invitro enzymatic replication.

As PCR progresses a DNA generated is used as a template of replication. This sets in motion a chain reaction in which the DNA template is exponentially amplified.

With PCR it is possible to amplify a single or few copies of DNA across several orders of magnitude, generating millions or more copies of the DNA piece.

PCR can be extensively modified to perform a wide array of genetic manipulation.

Almost all PCR application employ a heat-stable DNA polymerase such Taq polymerase, an enzyme originally isolated from the bacterium Thermus aquaticus.

The vast majority of PCR methods use thermal cycling i.e alternately heating and cooling the PCR sample to a defined series of temperature step.

Developed by Karry Mullis1n 1984, PCR is now a common and often indisposible technique used in medical and biological research labs for a variety of applications.

This include DNA cloning for sequencing, DNA-based phylogeny or functional analysis of gene, the diagnosis of hereditary diseases, the identification of finger prints (used in forensic sciences and paternity testing), and the detection and diagnosis of infectious diseases.

In 1993 Mullis won Noble prize in chemistry for his work in PCR.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ayo tulis komentar donk