Selasa, 02 Maret 2010

Xanthylium

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dewasa ini penggunaan pewarna alami mengalami peningkatan, terlebih setelah periode 1994. Semenjak ditemukannya berbagai macam penyakit berbahaya yang berbagai bidang, baik industri makanan, tekstil, kosmetik, obat, dan lain sebagainya membuat penelitian terhadap sumber-sumber pewarna alami semakin diminati.
Salah satu pewarna alami yang banyak digunakan saat ini adalah antosianin. Senyawa ini merupakan pigmen poliphenol terbanyak dalam tanaman. Beberapa senyawa antosian menghasilkan warna kuning hingga merah. Salah satu senyawa yang biasa digunakan untuk pewarna makanan atau minuman adalah xanthylium.
Xanthylium diperoleh dari hasil sintesis antara glioxylic acid dengan (+) catechin. Xanthylium umumnya digunakan dalam pewarna minuman (wine). Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kestabilan senyawa ini sangat dipengaruhi oleh temperatur, oksigen, pH, sinar dan beberapa enzim. Makalah ini disusun untuk membahas ketidakstabilan intensitas warna dari xanthylium terhadap perubahan pH.

B. PERUMUSAN MASALAH
1. Darimana asal zat warna xanthylium?
2. Bagaimana pengaruh pH terhadap stabilitas xanthylium?
3. Bagaimana aplikasi zat warna xanthylium di bidang farmasi?

C. TUJUAN PENULISAN
Umum:mengenalkan zat warna xanthylium pada masyarakat
Khusus: mengetahui stabilitas zat warna xanthylium pada perubahan pH.







PEMBAHASAN

Pewarna alami adalah zat warna yang didapatkan dari alam. Penggunaan pewarna alami makin meningkat didasarkan pada :
1. pewarna alami memiliki daya tarik karena image aman dan sehat yang ditampilkannya, serta umumnya tersedia dalam jumlah yang banyak.
2. perkembangan pewarna alami dari sumber alam mengalami peningkatan sebagai pengganti pewarna sintetik.
3. banyaknya efek samping yang tidak diharapkan dari pewarna sintetik menyebabkan peralihan ke pewarna alami yang dinilai lebih ramah lingkungan.
Salah satu golongan pewarna alam yang banyak dijumpai dalam tumbuhan adalah antosianin. Antosianin merupakan pigment polifenol yang banyak terdapat dalam tanaman. Adanya pigmen kuning membuat orang tergelitik untuk melakukan penelitian pada kerangka Xanthylium, seperti yang dilaporkan oleh Dangles dan Brouillard (1994). Pigmen Xanthylium merupakan hasil sintesis dari reaksi yang melibatkan asam glyoxylic dan (+)- catechin. Aplikasi pigmen Xanthylium antara lain pada pewarnaan anggur dan banyak digunakan sebagai pewarna makanan dengan warna merah muda terutama untuk produk-produk alkalis.
Garam Xantilium akan mengalami perubahan warna pada lingkungan pH yang berbeda. Perubahan warna diukur dengan spektrofotometer UV Visible berdasarkan pergeseran panjang gelombang, sedangkan intensitas warnanya digambarkan dengan harga absorbansi. Pada pH asam terbukti menimbulkan intensitas yang relative lebih stabil yang ditunjukkan pada grafik 4. Berdasarkan grafik, intensitas warna stabil jika absorbansi yang tampak pada spectra UV dan Visibel menghasilkan serapan yang tidak jauh berbeda, yaitu terlihat pada pH asam. Sedangkan pada pH basa, tampak adanya perbedaan serapan antara UV dan Visible. Pernyataan tersebut didukung penelitian yang dilakukan oleh Saffi (2004), dimana pada pH 2,2-5,6 memiliki koefisien ekstingsi molar maksimal dan konstan, serta serapan warna akan meningkat pada pH 5,6-8,9.
SUMBER
Xanthyllium dibuat dari sintesis asam glioksilat dan katekin. Asam glioksilat atau asam oksoasetat merupakan senyawa organik dengan rumus kimia C2H2O3. Sinonim lain asam ini adalah, asam formilformat dan asam oksoetanoat. Senyawa ini memiliki gugus aldehida dan asam karboksilat. Alkil ester asam glioksilat disebut alkil asam glioksilat. Senyawa ini dibentuk dengan oksidasi organik asam glioksilat atau ozonolisis asam maleat. Asam glioksilat berupa cairan dengan titik leleh -93°C dan titik didih 111 °C. Ia tersedia secara komersial sebagai monohidrat atau larutan dalam air. Sedangkan katekin bisa diisolasi dari daun Camellia sinensis
Seperti disebutkan sebelumnya xanthylium diperoleh dari hasil sintesis antara asam glyocylic dengan katekin. Reaksi ini dikonduksi pada larutan hidroalkoholik ( H20-EtOH 9/1 v/v). Setelah diinkubasi pada suhu 40 C selama 2,5 jam akan timbul dimer warna dari 2 unit katekin yang saling berikatan pada posisi 8 yang dihubungkan oleh jembatan karboksimetin. Reaksi ini kemudian diuji melalui metode semi preparatif HPLC, perubahan yang terjadi di monitor pada larutan aquoeus pH 3,5. Untuk spektrofotometri digunakan spektrometer GBC 111 UV-Vis dengan Quatz cell tebal 10 mm dan dilengkapi dengan GBC Scan Master manager software.

Setelah diisolasi, diteliti karakteristik spektra dan dintensitas warnanya yang dipengaruhi oleh perubahan pH. Telah diamati pergesaeran batokromik dari panjang gelombang visibel terhadap variasi pH asam sampai basa, sedangkan pnjanag gelombang absorbansi UV tidak mengalami perubahan yang berarti. Peningkatan yang menyertai pada intensitas panjang gelombang absorbsi visibek juga diamati. Warna pink yang mucul pada pH basa memungkinkan senyawa xanthylium digunakan sebagai pewarna pink pada produk alkali/basa.















Struktur Xanthylium (http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.chemicalbook.com)








Asam glioksilat
(http://images.google.co.id/images?gbv=2&hl=id&sa=3&q=asam+glioksilat)












Katekin
(id.wikipedia.org)


KEGUNAAN

Xanthylium banyak digunakan dalam industri pembuatan anggur (wine ) sebagai bahan pewarna. Baik wine putih ataupun wine merah. Karena itu, xanthylium juga ditemukan dalam ekstrak anggur. Yang banyak digunakan adalah xanthylium hasil sintesis tadi, berupa pigmen kuningnya .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ayo tulis komentar donk