Selasa, 02 Maret 2010

Hibiscus sabdarrifa L. (Rosela)

I. PENDAHULUAN

Industri pangan pada saat ini masih banyal menggunakan zat warna sintetis yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk bahan pangan. Hal ini sangat merugikan konsumen karena dapat mengganggu kesehatan. Padahal masih banyak tanaman yang berpotensi sebagai sumber zat warna alami. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai sumber zat warna alami adalah rosella (Retno Endang dkk, 2008).
Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa) adalah suatu spesies tanaman dari genus Hibiscus. Tanaman ini dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 2-2,5 meter. http://www.apoteker.info/Pojok%20Herbal/rosela.htm. Masyarakat umumnya telah mengenal kenaf atau rosela (Hibiscus cannabinus) sebagai tanaman penghasil serat karung dan hibiscus rosasinensis yang dikenal dengan sebutan kembang sepatu. Rosella merah (Hibiscus sabdariffa) adalah anggota keluarga Hibiscus yang relatif jarang dikenal orang. Rosella merah dikenal dengan beberapa nama berbeda di beberapa negara, yaitu Jamaican Sorrel (India Barat), Oseille Rouge (Perancis), Quimbombo Chino (Spanyol), Karkade (Afrika Utara), dan Bisap(Sinegal).
http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=12&aid=417
Rosella (Hibiscus sabdariffa) ditemukan oleh ahli botani yang berasal dari Belanda bernama M. De L’Obel pada tahun 1576. tanaman ini ditemukan di halaman sebuah rumah di Pulau Jawa. Padahal rosella berasal dari India, sehingga diduga tanaman ini dibawa oleh pedagang India saat datang ke Indonesia sekitar abad ke-14.
Rosella dibudidayakan melalui beberapa tahapan, yaitu :
a. Persemaian
Sebelum disemaikan, biji direndam selama satu hari satu malam lalu dipilih yang tenggelam dengan bentuk butiran-butiran yang baik. Biji dapat langsung disemaikan pada lahan persemaian yang sudah diolah dan diairi. Setelah tumbuh maka bisa dipindah ke polybag atau jika sudah besar langsung dipindah ke lahan produksi.
b. Persiapan Lahan
Persiapan lahan dilakukan dengan pembajakan tanah secara membujur dan melintang. Tanah dicampur pupuk dasar berupa pupuk kandang. Lahan dilarik dengan jarak antar larik 1,5 meter. Lahan tanam berhubungan dengan warna yang dihasilkan dari tanaman rosela, yaitu :
- Lahan tanam di lereng pegunungan : warna yang dihasilkan adalah merah agak kehitam-hitaman.
- Lahan tanam di pekarangan : warna yang dihasilkan adalah merah kurang cerah.
- Lahan tanam di sawah dan dataran rendah : warna yang dihasilkan adalah merah cerah dan dapat dijadikan standar untuk ekspor.
c. Penanaman
Untuk lahan yang langsung dari biji maka setiap lubang tanam diisi 2-3 biji. Sedangkan untuk penanaman bibit yang telah disemaikan di polybag maka setiap lubang tanam diisi 1-2 bibit.
d. Pemupukan
Pemupukan pada lahan sebelum ditanami adalah dengan pupuk kandang, sedangkan pada umur 3 dan 7-8 minggu setelah tanam dipupuk urea sebanyak 30-40 gram tiap tanam.
e. Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit yang paling banyak menyerang rosela adalah hama kutu daun dan penyakit Phytopthora. Penanganannya adalah dengan penyemprotan obat anti kutu ataupun berbagai jenis pestisida.
f. Pemeliharaan
Selama pertumbuhan tanaman perlu diwaspadai keberadaan gulma yang akan berdampak negatif, oleh karena itu dilakukan penyiangan dengan frekuensi sesuai kondisi lahan.
g. Panen
Tanaman rosella mulai menghasilkan bunga pada umur 120 hari dan dapat dipanen secara terus-menerus dalam jangka waktu 3 bulan sebelum akhirnya diganti bibit baru. Tiap batang tanaman rosela dapat menghasilkan 1,5 kg bunga basah. Pemanenan menggunakan gunting untuk memotong tangkai bunga,kemudian dilakukan pemisahan biji. http://www.bloggaul.com/handysand/readblog/83138/rosela-merah-berkhasiat
Pemanenan rosella juga berdasarkan pada macam musim, yaitu :
- musim hujan : 5-7 bulan
- musim kemarau : 4 bulan
Sistem pemanenan yaitu pemanenan dapat dilakukan pada saat muda ataupun tua, akan tetapi pemanenan dilakukan pada saat yang cepat akan menghasilkan warna dan kualitas yang bagus. Ciri-ciri yang dimaksud tepat pada waktunya adalah bila biji telah berwarna kuning atau ke arah hitam. Jika panen pada saat muda maka 22 kg berat basah menjadi 1 kg kering dan menghasilkan warna yang agak kehitaman. Namun jika panen pada saat tua maka 18-20 kg berat basah menjadi 1 kg kering dan menghasilkan warna merah cerah.
http://www.bloggaul.com/
h. Penjemuran
Penjemuran merupakan penentu keberhasilan seseorang yang menanam rosela. Jika hasil jemuran kering sesuai waktu yang ditentukan maka akan menghasilkan warna dan aroma yang khas. Sistem penjemuran terbagi menjadi dua, yaitu :
- Matahari : lama penjemuran 2-3 hari
- Oven : lama pengeringan 12 jam
http://www.bloggaul.com/
i. Produksi
Produksi tanaman rosella dalam keadaan normal setiap hektar mampu menghasilkan 2-3 ton.
http://www.bloggaul.com/handysand/readblog/83138/rosela-merah-berkhasiat





II. PEMBAHASAN

A. KLASIFIKASI TANAMAN
Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn.) adalah tanaman dari keluarga sejenis kembang sepatu. Rosella merah merupakan tanaman yang berbentuk herba tahunan dengan tinggi mencapai 0.5-2.4 meter. Batang tanaman berbentuk bulat, berkayu lunak, tegak bercabang-cabang berwarna merah. Pada setiap tangkai daun yang berwarna hijau hanya terdapat satu lembaran daun (daun tunggal) dengan tulang daun menjari. Daun berbentuk bulat telur dengan ujung yang tumpul dan tepi daun bergerigi. Pada setiap tangkai bunga yang keluar ari ketiak daun hanya terdapat satu bunga (bunga tunggal) dengan panjang kelopak kurang dari 1 cm, berbulu, dan berwarna merah, dengan pangkal yang saling berlekatan.
Klasifikasi
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Malvales
Suku : Malvaceae
Marga : Hibiscus
Jenis : Hibiscus sabdarrifa L.
Nama umum/dagang : Mrambos hijau
Nama daerah :
Jawa : Garnet balonda (Sunda) Mrambos {Jawa Tengah)
Maluku : Kasturi roriha (Ternate)
Nama asing : Jamaican Sorell (India Barat), Oseille Rouge (Perancis),
Quimbombo Chino (Spanyol), Karkade (Afrika Utara), dan Bisap
(Sinegal)



Habitus Tanaman
Batang : Semak. tegak, tinggi 0,5-3,00 m, Bulat, tegak, percabangan simpodial, berkayu, merah.
Daun : Tunggal, bulat telur, pertulangan menjari, ujung tumpul, tepi beringgit, pangkal berlekuk, panjang 6-15 cm, lebar 5-8 cm, tangkai panjang 4-7 cm, penampang bulat, hijau.
Bunga : Tunggal. di ketiak daun, kelopak terdiri delapan sampai
sebelas daun kelopak, berbulu, panjang 1 cm.pangkal berlekatan, merah.
Mahkota bunga berbentuk corong, terdiri dari lima daun mahkota,
panjang 3-5 cm. Tangkai benang sari panjang ± 5 mm, putik bentuk
tabung, kuning, merah.
Buah : Kotak, bentuk kerucut, berambut, terbagi menjadi lima
ruang, merah.
Biji : Bentuk ginjal, berbulu, panjang ± 5 mm, lebar ± 4 mm,
masih muda putih, setelah tua abu-abu.
Akar : Tunggang, putih.






B. ASAL TANAMAN
Berasal dari India Barat, Afrika dan Timur Tengah. Di Indonesia Rosella dikenal tahun 1922, sebenarnya Rosella sudah ditemukan sejak tahun 1576. Pewarna alami dari rosella diambil pada kelopak Rosella yang berwarna merah.

C. KANDUNGAN KIMIA
Menurut DEP.KES.RI.No.SPP.1065/35.15/05, setiap 100 gr rosella mengandung 260-280 mg vitamin C, vitamin D, B1 dan B2. kandungan lainya adalah kalsium 486 mg, omega 3, Magnesium, beta karotin serta asam amino esensial seperti lysine dan arginine. Bunga rosella juga kaya akan serat yang bagus untuk kesehatan saluran pencernaan.
Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa) mempunyai kelopak bunga yang berwarna merah. Kelopak bunga (kaliks) inilah yang banyak digunakan sebagai bahan pembuatan minuman dan makanan serta sumber pewarna alami. Kelopak bunga rosella selain mempunyai warna yang menarik juga mempunyai rasa yang sangat asam. Antosianin merupakan pigmen alami yang memberi warna merah pada seduhan kelopak bunga rosella dan berkhasiat sebagai antioksidan. Perbandingan kadar antosianin yang bersifat antioksidan dapat dilihat pada dua jenis rosella, meskipun berasal dari satu spesies. Rosella Sudan berwarna pekat kehitaman, sedangkan rosella Taiwan berwarna merah darah. Rosella Sudan rasanya lebih asam dan lebih pekat sehingga kelopak keringnya dapat digunakan hingga 2-3 kali seduh, sedangkan rosela Taiwan hanya dapat digunakan sekali seduh. Semakin pekat warna merah pada kelopak rosela, rasanya semakin asam. Kandungan antosianinnya semakin banyak sehingga kadar antioksidannya juga tinggi. Namun kadar antioksidan dalam kelopak rosella menjadi berkurang jika dikeringkan dengan proses pemanasan (dipanggang dalam oven). Kadar senyawa berkhasiat yang terkandung dalam rosela berada pada tingkat tertinggi jika dikonsumsi dalam bentuk segar.
Selain antosianin, rosela juga kaya akan protocatechuic acid. Kelopak bunga yang dikeringkan mengandung berbagai jenis senyawa flavonoid, seperti gosipetin, hibisetin, dan sabdaretin. Zat warna utama tanaman yang dahulu dilaporkan sebagai senyawa hibisin, sekarang telah dikenali sebagai dafnifilin. Rosela juga mengandung sejumlah kecil senyawa delfinidin 3-monoglukosida, sianidin 3-monoglukosida (krisantenin), dan delfinidin.
Kandungan kelopak segar dalam 100 gram yaitu :
- Air 9,2 g - Zat besi 8,98 mg
- Protein 1,145 g - Karotena 0,029 mg
- Lemak 2,61 g - Thiamine 0,117 mg
- Serat 12,0 g - Riboflavin 0,277 mg
- Abu 6,90 g - Niacin 3,765 mg
- Kalsium 1,263 mg - Asam askorbat 6,7 mg
- Fosforus 273,2 mg

D. MANFAAT
Bunga Rosela Merah menurut penelitian yang telah ada memiliki berbagai khasiat untuk kesehatan. Dewasa ini tanaman Rosella banyak dimanfaatkan untuk zat warna alami. Selain itu secara tradisional dapat digunakan untuk mengatasi batuk, lesu, demam, dan gusi berdarah. Ekstrak kuncup bunga rosela merah juga dipercaya mampu bekerja sebagai penahan kekejangan (antispasmodik), anticacing (antihelmintik), dan antibakteria. Khasiat lain dari herba ini sebagai antiseptik, mengatasi lemah syahwat, penyejuk (astringent), dan menurunkan kadar penyerapan alkohol. Manfaat lain dari Rosella sebagai berikut:
1. Dapat mengurangi kepekatan/kekentalan darah
2. Membantu proses pencernaan
3. Mencegah peradangan pada saluran kencing dan ginjal
4. Penyaring racun pada tubuh
5. Mencegah kekurangan Vitamin C
6. Melancarkan peredaran darah
7. Melancarkan buang air besar


E. PENELITIAN ROSELA YANG PERNAH DILAKUKAN
Sepanjang 2006, dilakukan penelitian kandungan antioksidan pada teh kelopak merah itu. Hasilnya, rosela di Amerika terdapat 1,7 mmol/prolox antioksidan. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan kumis kucing yang antioksidannya teruji klinis meluruhkan batu ginjal. Itu diperoleh dengan menggerus 3 kuntum rosela menjadi 1,5 gram bubuk dan diberi air 200 ml. Kemudian hasilnya dimasukkan ke spektrofotometer. Alat itu menganalisis seluruh kandungan kimia berdasarkan panjang gelombang yang dibiaskan larutan. Dengan adanya antioksidan, sel-sel radikal bebas yang merusak inti sel dapat dihilangkan. Itu sebabnya rosela memiliki efek antikanker. Yang paling berperan adalah antosianin. Antosianin berperan menjaga kerusakan sel akibat peyerapan sinar ultraviolet berlebih sebab antosianin melindungi sel-sel tubuh dari perubahan akibat radikal bebas.
Hasil penelitian Hui-Hsuan Lin dari Institute of Biochemistry and Biotechnology, Chung Shan Medical University, Taichung, Taiwan. Ia membuktikan rosela di Sudan bersifat antikanker lambung manusia. Penelitiannya menemukan antioksidan rosela membunuh sel kanker dengan metode sitotoksis dan apoptosis. Penelitian lain oleh De-Xing Hou di Jepang. Peneliti Department of Biochemical Science and Technology, Faculty of Agriculture, Kagoshima University menemukan delphinidin -sambubioside, antosianin rosela yang ampuh mengatasi kanker darah alias leukemia. Cara kerjanya dengan menghambat terjadinya kehilangan membran mitokondria dan pelepasan sitokrom dari mitokondria ke sitosol.
Cara lain menemukan senyawa aktif rosela di Belanda ditempuh John McIntosh. Periset dari Institute of Food, Nutrition and Human Health, Massey University, Selandia Baru itu mengekstrak rosela dengan mengeringkan kelopak bunga pada suhu 50 oC selama 36 jam. Tiga gram hasil pengeringan rosela diencerkan dalam 300 ml air. Larutan itu dimasukkan ke tabung spektofotometer dan diuji dengan panjang gelombang 520 nm. Hasil penelitian menunjukkan rosela mengandung 51% antosianin dan 24% antioksidan lain.
Khasiat rosela tak sebatas antikanker. Fungsi rosela sebagai antikejang otot diteliti M. B. Al, ahli tanaman Medicinal and Aromatic Herbs Research Institute, National Council for Research Khartoum, Sudan. Hasil injeksi 2,5 ml ekstrak gerusan 125 mg rosela kering terbukti menghambat kejang pada berbagai otot. Antara lain, otot aorta kelinci, otot rahim tikus, otot diafragma pada babi, dan perut rahim katak.
Chau-Jong Wang, dari Institute of Biochemistry and Biotechnology, College of Medicine, Chung Shan Medical University, Taichung, Taiwan menemukan khasiat lain rosela. Hasil penelitiannya ekstrak rosela kering melindungi liver tikus yang telah diinduksi Carbon tetrachloride (CCl4), perusak hati. Setelah diberikan 1-5% rosela selama 9 minggu, kerusakan hati seperti steasis dan fibrosis turun. Metode kerjanya menurunkan Aspartate Aminotransferase (AST) dan Alanine Aminotransferase (ALT), memperbaiki jumlah glutationin yang berkurang, serta menghambat meningkatnya jumlah lemak peroksida akibat injeksi perusak hati. Selain antosian, kandungan rosela yang lain dalam 100 gram rosela kering mengandung sejumlah asam amino dan mineral yang diperlukan tubuh. Seperti protein 1,145 g, lemak 2,61 g, serat 12,0 g, kalsium 1.263 mg, fosfor 273,2 mg, besi 8,98 mg, karoten0,029 mg, tiamin 0,117 mg, riboflavin 0.277 mg, dan niasin 3,765 mg. Sedangkan asam lemaknya ada 18, seperti asam askorbat 6,7 mg, arginin 3,6 mg, sistein 1,3 mg, histidin 1,5 mg, isoleusin 3,0 mg, leusin 5,0 mg, lisin 3,9 mg metionin 1,0 mg, fenilalanin 3,2 mg, threonine 3,0 mg, tryptophan 2,2 mg, valine 3,8 mg, asam aspartat 16,3 mg, asam glutamat 7,2 mg, alanin 3,7 mg, glisin 3,8 mg, proline 5,6 mg, dan serin 3,5 mg.

F. CARA ISOLASI
Proses ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut metanol yang mengandung 1% asam hidroklorida pekat. Ekstrak dipantau dengan kromatografi kertas. Fraksinasi ekstrak dilakukan dengan metode ekstraksi cair-cair, lalu difraksinasi lebih lanjut dengan kromatografi kolom, dipantau dengan kromatografi kertas. Kemurnian isolat diuji dengan kromatografi kertas satu dimensi dengan berbagai fase gerak yang berbeda kepolarannya dan dengan kromatografi kertas dua dimensi. Isolat yang diperoleh dikarakterisasi dengan spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak dan diidentifikasi dengan penambahan pereaksi aluminium (III) klorida. Kaliks rosel mengandung senyawa golongan flavonoid dan steroid/triterpenoid. Isolat yang diperoleh merupakan suatu senyawa antosianin turunan sianidin yang memiliki gugus 3-hidroksil yang tersubstitusi, 5-hidroksil, 7-hidroksil, 3’-hidroksil yang tersubstitusi, dan 4’-hidroksil.


G. APLIKASI
Bagian tanaman yang dapat diproses menjadi produk pangan adalah kelopak bunganya. Kelopak bunga tanaman ini berwarna merah tua, tebal dan berair (juicy) kelopak bunga rosella merah yang rasanya sangat asam ini biasanya dibuat menjadi juice, teh, jeli, saus, sirup, manisan dan lain-lain. Pembuatan teh rosella dapat dilakukan dengan sekitar 3-4 kuntum bunga rosella segar, cuci bersih, kemudian seduh dengan air panas, tekan-tekan kelopak bunganya hingga air berwarna merah, saring. Tambahkan air jeruk nipis dan madu.
Bunga rosella juga dapat digunakan sebagai bahan baku selai, warnanya yang merah menyala menghasilkan selai yang menyehatkan dengan warna yang menarik. Dibuat dengan mencampurkan kelopak bunga segar dengan tepung maizena, air dan gula pasir. Dapat ditambahkan air jeruk nipis dan vanilla untuk menambah citarasa. Dapat juga diolah menjadi sup, dengan mencampurkan kelopak rosella segar, dengan gula pasir dan air.
Selain dalam keadaan segar, untuk mempermudah dan meningkatkan daya simpannya, saat ini bunga rosella lebih dikenal dalam bentuk kering seperti halnya Teh Merah Rosella, yang tinggal seduh dengan air panas, saat akan disajikan. Untuk menghasilkan 12 liter sirup dibutuhkan 200 gram kelopak bunga rosela merah kering, 8 liter air, dan 12 kg gula pasir. Semua bahan selanjutnya direbus dan disaring. Setelah itu, sirup yang rasanya manis masam ini siap dikemas dan dikonsumsi sebagai minuman kesehatan. http://www.bloggaul.com/handysand/readblog/83138/rosela-merah-berkhasiat


III. DAFTAR PUSTAKA

http://www.apoteker.info/Pojok%20Herbal/rosela.htm.
http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=12&aid=417
http://www.bloggaul.com/handysand/readblog/83138/rosela-merah-berkhasiat
Retno, E., dkk., 2008. Ekstraksi Zat Warna Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus Sabdariffa . L) Sebagai Alternatif Pewarna Alami Bahan Pangan. http://rosela-info.blogspot.com/2008/09/ekstraksi-zat-warna-kelopak-bunga.html

I. PENDAHULUAN

Industri pangan pada saat ini masih banyal menggunakan zat warna sintetis yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk bahan pangan. Hal ini sangat merugikan konsumen karena dapat mengganggu kesehatan. Padahal masih banyak tanaman yang berpotensi sebagai sumber zat warna alami. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai sumber zat warna alami adalah rosella (Retno Endang dkk, 2008).
Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa) adalah suatu spesies tanaman dari genus Hibiscus. Tanaman ini dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 2-2,5 meter. http://www.apoteker.info/Pojok%20Herbal/rosela.htm. Masyarakat umumnya telah mengenal kenaf atau rosela (Hibiscus cannabinus) sebagai tanaman penghasil serat karung dan hibiscus rosasinensis yang dikenal dengan sebutan kembang sepatu. Rosella merah (Hibiscus sabdariffa) adalah anggota keluarga Hibiscus yang relatif jarang dikenal orang. Rosella merah dikenal dengan beberapa nama berbeda di beberapa negara, yaitu Jamaican Sorrel (India Barat), Oseille Rouge (Perancis), Quimbombo Chino (Spanyol), Karkade (Afrika Utara), dan Bisap(Sinegal).
http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=12&aid=417
Rosella (Hibiscus sabdariffa) ditemukan oleh ahli botani yang berasal dari Belanda bernama M. De L’Obel pada tahun 1576. tanaman ini ditemukan di halaman sebuah rumah di Pulau Jawa. Padahal rosella berasal dari India, sehingga diduga tanaman ini dibawa oleh pedagang India saat datang ke Indonesia sekitar abad ke-14.
Rosella dibudidayakan melalui beberapa tahapan, yaitu :
a. Persemaian
Sebelum disemaikan, biji direndam selama satu hari satu malam lalu dipilih yang tenggelam dengan bentuk butiran-butiran yang baik. Biji dapat langsung disemaikan pada lahan persemaian yang sudah diolah dan diairi. Setelah tumbuh maka bisa dipindah ke polybag atau jika sudah besar langsung dipindah ke lahan produksi.
b. Persiapan Lahan
Persiapan lahan dilakukan dengan pembajakan tanah secara membujur dan melintang. Tanah dicampur pupuk dasar berupa pupuk kandang. Lahan dilarik dengan jarak antar larik 1,5 meter. Lahan tanam berhubungan dengan warna yang dihasilkan dari tanaman rosela, yaitu :
- Lahan tanam di lereng pegunungan : warna yang dihasilkan adalah merah agak kehitam-hitaman.
- Lahan tanam di pekarangan : warna yang dihasilkan adalah merah kurang cerah.
- Lahan tanam di sawah dan dataran rendah : warna yang dihasilkan adalah merah cerah dan dapat dijadikan standar untuk ekspor.
c. Penanaman
Untuk lahan yang langsung dari biji maka setiap lubang tanam diisi 2-3 biji. Sedangkan untuk penanaman bibit yang telah disemaikan di polybag maka setiap lubang tanam diisi 1-2 bibit.
d. Pemupukan
Pemupukan pada lahan sebelum ditanami adalah dengan pupuk kandang, sedangkan pada umur 3 dan 7-8 minggu setelah tanam dipupuk urea sebanyak 30-40 gram tiap tanam.
e. Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit yang paling banyak menyerang rosela adalah hama kutu daun dan penyakit Phytopthora. Penanganannya adalah dengan penyemprotan obat anti kutu ataupun berbagai jenis pestisida.
f. Pemeliharaan
Selama pertumbuhan tanaman perlu diwaspadai keberadaan gulma yang akan berdampak negatif, oleh karena itu dilakukan penyiangan dengan frekuensi sesuai kondisi lahan.
g. Panen
Tanaman rosella mulai menghasilkan bunga pada umur 120 hari dan dapat dipanen secara terus-menerus dalam jangka waktu 3 bulan sebelum akhirnya diganti bibit baru. Tiap batang tanaman rosela dapat menghasilkan 1,5 kg bunga basah. Pemanenan menggunakan gunting untuk memotong tangkai bunga,kemudian dilakukan pemisahan biji. http://www.bloggaul.com/handysand/readblog/83138/rosela-merah-berkhasiat
Pemanenan rosella juga berdasarkan pada macam musim, yaitu :
- musim hujan : 5-7 bulan
- musim kemarau : 4 bulan
Sistem pemanenan yaitu pemanenan dapat dilakukan pada saat muda ataupun tua, akan tetapi pemanenan dilakukan pada saat yang cepat akan menghasilkan warna dan kualitas yang bagus. Ciri-ciri yang dimaksud tepat pada waktunya adalah bila biji telah berwarna kuning atau ke arah hitam. Jika panen pada saat muda maka 22 kg berat basah menjadi 1 kg kering dan menghasilkan warna yang agak kehitaman. Namun jika panen pada saat tua maka 18-20 kg berat basah menjadi 1 kg kering dan menghasilkan warna merah cerah.
http://www.bloggaul.com/
h. Penjemuran
Penjemuran merupakan penentu keberhasilan seseorang yang menanam rosela. Jika hasil jemuran kering sesuai waktu yang ditentukan maka akan menghasilkan warna dan aroma yang khas. Sistem penjemuran terbagi menjadi dua, yaitu :
- Matahari : lama penjemuran 2-3 hari
- Oven : lama pengeringan 12 jam
http://www.bloggaul.com/
i. Produksi
Produksi tanaman rosella dalam keadaan normal setiap hektar mampu menghasilkan 2-3 ton.
http://www.bloggaul.com/handysand/readblog/83138/rosela-merah-berkhasiat





II. PEMBAHASAN

A. KLASIFIKASI TANAMAN
Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn.) adalah tanaman dari keluarga sejenis kembang sepatu. Rosella merah merupakan tanaman yang berbentuk herba tahunan dengan tinggi mencapai 0.5-2.4 meter. Batang tanaman berbentuk bulat, berkayu lunak, tegak bercabang-cabang berwarna merah. Pada setiap tangkai daun yang berwarna hijau hanya terdapat satu lembaran daun (daun tunggal) dengan tulang daun menjari. Daun berbentuk bulat telur dengan ujung yang tumpul dan tepi daun bergerigi. Pada setiap tangkai bunga yang keluar ari ketiak daun hanya terdapat satu bunga (bunga tunggal) dengan panjang kelopak kurang dari 1 cm, berbulu, dan berwarna merah, dengan pangkal yang saling berlekatan.
Klasifikasi
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Malvales
Suku : Malvaceae
Marga : Hibiscus
Jenis : Hibiscus sabdarrifa L.
Nama umum/dagang : Mrambos hijau
Nama daerah :
Jawa : Garnet balonda (Sunda) Mrambos {Jawa Tengah)
Maluku : Kasturi roriha (Ternate)
Nama asing : Jamaican Sorell (India Barat), Oseille Rouge (Perancis),
Quimbombo Chino (Spanyol), Karkade (Afrika Utara), dan Bisap
(Sinegal)



Habitus Tanaman
Batang : Semak. tegak, tinggi 0,5-3,00 m, Bulat, tegak, percabangan simpodial, berkayu, merah.
Daun : Tunggal, bulat telur, pertulangan menjari, ujung tumpul, tepi beringgit, pangkal berlekuk, panjang 6-15 cm, lebar 5-8 cm, tangkai panjang 4-7 cm, penampang bulat, hijau.
Bunga : Tunggal. di ketiak daun, kelopak terdiri delapan sampai
sebelas daun kelopak, berbulu, panjang 1 cm.pangkal berlekatan, merah.
Mahkota bunga berbentuk corong, terdiri dari lima daun mahkota,
panjang 3-5 cm. Tangkai benang sari panjang ± 5 mm, putik bentuk
tabung, kuning, merah.
Buah : Kotak, bentuk kerucut, berambut, terbagi menjadi lima
ruang, merah.
Biji : Bentuk ginjal, berbulu, panjang ± 5 mm, lebar ± 4 mm,
masih muda putih, setelah tua abu-abu.
Akar : Tunggang, putih.






B. ASAL TANAMAN
Berasal dari India Barat, Afrika dan Timur Tengah. Di Indonesia Rosella dikenal tahun 1922, sebenarnya Rosella sudah ditemukan sejak tahun 1576. Pewarna alami dari rosella diambil pada kelopak Rosella yang berwarna merah.

C. KANDUNGAN KIMIA
Menurut DEP.KES.RI.No.SPP.1065/35.15/05, setiap 100 gr rosella mengandung 260-280 mg vitamin C, vitamin D, B1 dan B2. kandungan lainya adalah kalsium 486 mg, omega 3, Magnesium, beta karotin serta asam amino esensial seperti lysine dan arginine. Bunga rosella juga kaya akan serat yang bagus untuk kesehatan saluran pencernaan.
Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa) mempunyai kelopak bunga yang berwarna merah. Kelopak bunga (kaliks) inilah yang banyak digunakan sebagai bahan pembuatan minuman dan makanan serta sumber pewarna alami. Kelopak bunga rosella selain mempunyai warna yang menarik juga mempunyai rasa yang sangat asam. Antosianin merupakan pigmen alami yang memberi warna merah pada seduhan kelopak bunga rosella dan berkhasiat sebagai antioksidan. Perbandingan kadar antosianin yang bersifat antioksidan dapat dilihat pada dua jenis rosella, meskipun berasal dari satu spesies. Rosella Sudan berwarna pekat kehitaman, sedangkan rosella Taiwan berwarna merah darah. Rosella Sudan rasanya lebih asam dan lebih pekat sehingga kelopak keringnya dapat digunakan hingga 2-3 kali seduh, sedangkan rosela Taiwan hanya dapat digunakan sekali seduh. Semakin pekat warna merah pada kelopak rosela, rasanya semakin asam. Kandungan antosianinnya semakin banyak sehingga kadar antioksidannya juga tinggi. Namun kadar antioksidan dalam kelopak rosella menjadi berkurang jika dikeringkan dengan proses pemanasan (dipanggang dalam oven). Kadar senyawa berkhasiat yang terkandung dalam rosela berada pada tingkat tertinggi jika dikonsumsi dalam bentuk segar.
Selain antosianin, rosela juga kaya akan protocatechuic acid. Kelopak bunga yang dikeringkan mengandung berbagai jenis senyawa flavonoid, seperti gosipetin, hibisetin, dan sabdaretin. Zat warna utama tanaman yang dahulu dilaporkan sebagai senyawa hibisin, sekarang telah dikenali sebagai dafnifilin. Rosela juga mengandung sejumlah kecil senyawa delfinidin 3-monoglukosida, sianidin 3-monoglukosida (krisantenin), dan delfinidin.
Kandungan kelopak segar dalam 100 gram yaitu :
- Air 9,2 g - Zat besi 8,98 mg
- Protein 1,145 g - Karotena 0,029 mg
- Lemak 2,61 g - Thiamine 0,117 mg
- Serat 12,0 g - Riboflavin 0,277 mg
- Abu 6,90 g - Niacin 3,765 mg
- Kalsium 1,263 mg - Asam askorbat 6,7 mg
- Fosforus 273,2 mg

D. MANFAAT
Bunga Rosela Merah menurut penelitian yang telah ada memiliki berbagai khasiat untuk kesehatan. Dewasa ini tanaman Rosella banyak dimanfaatkan untuk zat warna alami. Selain itu secara tradisional dapat digunakan untuk mengatasi batuk, lesu, demam, dan gusi berdarah. Ekstrak kuncup bunga rosela merah juga dipercaya mampu bekerja sebagai penahan kekejangan (antispasmodik), anticacing (antihelmintik), dan antibakteria. Khasiat lain dari herba ini sebagai antiseptik, mengatasi lemah syahwat, penyejuk (astringent), dan menurunkan kadar penyerapan alkohol. Manfaat lain dari Rosella sebagai berikut:
1. Dapat mengurangi kepekatan/kekentalan darah
2. Membantu proses pencernaan
3. Mencegah peradangan pada saluran kencing dan ginjal
4. Penyaring racun pada tubuh
5. Mencegah kekurangan Vitamin C
6. Melancarkan peredaran darah
7. Melancarkan buang air besar


E. PENELITIAN ROSELA YANG PERNAH DILAKUKAN
Sepanjang 2006, dilakukan penelitian kandungan antioksidan pada teh kelopak merah itu. Hasilnya, rosela di Amerika terdapat 1,7 mmol/prolox antioksidan. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan kumis kucing yang antioksidannya teruji klinis meluruhkan batu ginjal. Itu diperoleh dengan menggerus 3 kuntum rosela menjadi 1,5 gram bubuk dan diberi air 200 ml. Kemudian hasilnya dimasukkan ke spektrofotometer. Alat itu menganalisis seluruh kandungan kimia berdasarkan panjang gelombang yang dibiaskan larutan. Dengan adanya antioksidan, sel-sel radikal bebas yang merusak inti sel dapat dihilangkan. Itu sebabnya rosela memiliki efek antikanker. Yang paling berperan adalah antosianin. Antosianin berperan menjaga kerusakan sel akibat peyerapan sinar ultraviolet berlebih sebab antosianin melindungi sel-sel tubuh dari perubahan akibat radikal bebas.
Hasil penelitian Hui-Hsuan Lin dari Institute of Biochemistry and Biotechnology, Chung Shan Medical University, Taichung, Taiwan. Ia membuktikan rosela di Sudan bersifat antikanker lambung manusia. Penelitiannya menemukan antioksidan rosela membunuh sel kanker dengan metode sitotoksis dan apoptosis. Penelitian lain oleh De-Xing Hou di Jepang. Peneliti Department of Biochemical Science and Technology, Faculty of Agriculture, Kagoshima University menemukan delphinidin -sambubioside, antosianin rosela yang ampuh mengatasi kanker darah alias leukemia. Cara kerjanya dengan menghambat terjadinya kehilangan membran mitokondria dan pelepasan sitokrom dari mitokondria ke sitosol.
Cara lain menemukan senyawa aktif rosela di Belanda ditempuh John McIntosh. Periset dari Institute of Food, Nutrition and Human Health, Massey University, Selandia Baru itu mengekstrak rosela dengan mengeringkan kelopak bunga pada suhu 50 oC selama 36 jam. Tiga gram hasil pengeringan rosela diencerkan dalam 300 ml air. Larutan itu dimasukkan ke tabung spektofotometer dan diuji dengan panjang gelombang 520 nm. Hasil penelitian menunjukkan rosela mengandung 51% antosianin dan 24% antioksidan lain.
Khasiat rosela tak sebatas antikanker. Fungsi rosela sebagai antikejang otot diteliti M. B. Al, ahli tanaman Medicinal and Aromatic Herbs Research Institute, National Council for Research Khartoum, Sudan. Hasil injeksi 2,5 ml ekstrak gerusan 125 mg rosela kering terbukti menghambat kejang pada berbagai otot. Antara lain, otot aorta kelinci, otot rahim tikus, otot diafragma pada babi, dan perut rahim katak.
Chau-Jong Wang, dari Institute of Biochemistry and Biotechnology, College of Medicine, Chung Shan Medical University, Taichung, Taiwan menemukan khasiat lain rosela. Hasil penelitiannya ekstrak rosela kering melindungi liver tikus yang telah diinduksi Carbon tetrachloride (CCl4), perusak hati. Setelah diberikan 1-5% rosela selama 9 minggu, kerusakan hati seperti steasis dan fibrosis turun. Metode kerjanya menurunkan Aspartate Aminotransferase (AST) dan Alanine Aminotransferase (ALT), memperbaiki jumlah glutationin yang berkurang, serta menghambat meningkatnya jumlah lemak peroksida akibat injeksi perusak hati. Selain antosian, kandungan rosela yang lain dalam 100 gram rosela kering mengandung sejumlah asam amino dan mineral yang diperlukan tubuh. Seperti protein 1,145 g, lemak 2,61 g, serat 12,0 g, kalsium 1.263 mg, fosfor 273,2 mg, besi 8,98 mg, karoten0,029 mg, tiamin 0,117 mg, riboflavin 0.277 mg, dan niasin 3,765 mg. Sedangkan asam lemaknya ada 18, seperti asam askorbat 6,7 mg, arginin 3,6 mg, sistein 1,3 mg, histidin 1,5 mg, isoleusin 3,0 mg, leusin 5,0 mg, lisin 3,9 mg metionin 1,0 mg, fenilalanin 3,2 mg, threonine 3,0 mg, tryptophan 2,2 mg, valine 3,8 mg, asam aspartat 16,3 mg, asam glutamat 7,2 mg, alanin 3,7 mg, glisin 3,8 mg, proline 5,6 mg, dan serin 3,5 mg.

F. CARA ISOLASI
Proses ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut metanol yang mengandung 1% asam hidroklorida pekat. Ekstrak dipantau dengan kromatografi kertas. Fraksinasi ekstrak dilakukan dengan metode ekstraksi cair-cair, lalu difraksinasi lebih lanjut dengan kromatografi kolom, dipantau dengan kromatografi kertas. Kemurnian isolat diuji dengan kromatografi kertas satu dimensi dengan berbagai fase gerak yang berbeda kepolarannya dan dengan kromatografi kertas dua dimensi. Isolat yang diperoleh dikarakterisasi dengan spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak dan diidentifikasi dengan penambahan pereaksi aluminium (III) klorida. Kaliks rosel mengandung senyawa golongan flavonoid dan steroid/triterpenoid. Isolat yang diperoleh merupakan suatu senyawa antosianin turunan sianidin yang memiliki gugus 3-hidroksil yang tersubstitusi, 5-hidroksil, 7-hidroksil, 3’-hidroksil yang tersubstitusi, dan 4’-hidroksil.


G. APLIKASI
Bagian tanaman yang dapat diproses menjadi produk pangan adalah kelopak bunganya. Kelopak bunga tanaman ini berwarna merah tua, tebal dan berair (juicy) kelopak bunga rosella merah yang rasanya sangat asam ini biasanya dibuat menjadi juice, teh, jeli, saus, sirup, manisan dan lain-lain. Pembuatan teh rosella dapat dilakukan dengan sekitar 3-4 kuntum bunga rosella segar, cuci bersih, kemudian seduh dengan air panas, tekan-tekan kelopak bunganya hingga air berwarna merah, saring. Tambahkan air jeruk nipis dan madu.
Bunga rosella juga dapat digunakan sebagai bahan baku selai, warnanya yang merah menyala menghasilkan selai yang menyehatkan dengan warna yang menarik. Dibuat dengan mencampurkan kelopak bunga segar dengan tepung maizena, air dan gula pasir. Dapat ditambahkan air jeruk nipis dan vanilla untuk menambah citarasa. Dapat juga diolah menjadi sup, dengan mencampurkan kelopak rosella segar, dengan gula pasir dan air.
Selain dalam keadaan segar, untuk mempermudah dan meningkatkan daya simpannya, saat ini bunga rosella lebih dikenal dalam bentuk kering seperti halnya Teh Merah Rosella, yang tinggal seduh dengan air panas, saat akan disajikan. Untuk menghasilkan 12 liter sirup dibutuhkan 200 gram kelopak bunga rosela merah kering, 8 liter air, dan 12 kg gula pasir. Semua bahan selanjutnya direbus dan disaring. Setelah itu, sirup yang rasanya manis masam ini siap dikemas dan dikonsumsi sebagai minuman kesehatan. http://www.bloggaul.com/handysand/readblog/83138/rosela-merah-berkhasiat


III. DAFTAR PUSTAKA

http://www.apoteker.info/Pojok%20Herbal/rosela.htm.
http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=12&aid=417
http://www.bloggaul.com/handysand/readblog/83138/rosela-merah-berkhasiat
Retno, E., dkk., 2008. Ekstraksi Zat Warna Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus Sabdariffa . L) Sebagai Alternatif Pewarna Alami Bahan Pangan. http://rosela-info.blogspot.com/2008/09/ekstraksi-zat-warna-kelopak-bunga.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ayo tulis komentar donk