Selasa, 02 Maret 2010

Pengaruh Cara Pemberian Terhadap Absorbsi Obat

Obat adalah bentuk sediaan tertentu dari bahan obat yang digunakan pada organisme hidup dan dapat menimbulkan respon pada pemakainya. Disini kita mempelajari tentang farmakologi yang dapat didefinisikan secara sempit sebagai ilmu tentang interaksi antara senyawa kimia dan sistem biologi.
Kerja suatu obat merupakan hasil dari banyak sekali proses dan umumnya ini didasari suatu rangkaian reaksi yang dibagi tiga fase:
a. Fase farmaseutik
Fase ini meliputi hancurnya bentuk sediaan obat dan melarutnya bahan obat, dimana kebanyakan bentuk sediaan obat padat yang digunakan. Karena itu fase ini terutama ditentukan oleh sifat-sifat galenik obat.
b. Fase farmakokinetika
Fase ini termasuk bagian proses invasi dan proses eliminasi. Yang dimaksud dengan invasi adalah proses-proses yang berlangsung pada pengambilan suatu bahan obat dalam organisme,sedangkan eliminasi merupakan proses-proses yang menyebabkan penurunan konsentrasi obat dalam organisme.
c. Fase farmakodinamika
Fase farmakodinamik merupakan interaksi obat–reseptor dan juga proses-proses yang terlibat di mana akhir dari efek farmakologi terjadi. Dari bentuk kerja obat yang digambarkan, jelas bahwa ini tidak hanya bergantung pada sifat farmakodinamika bahan obat, tetapi juga tergantung pada:
> jenis dan tempat pemberian
> keterabsorpsian dan kecepatan absorpsi
> distribusi dalam organisme
> ikatan dan lokalisasi dalam jaringan
> biotransformasi
> keterekskresian dan kecepatan ekskresi

Suatu obat dapat diberikan baik pada permukaan tubuh, yakni pada kulit atau mukosa, maupun disuntikkan dengan bantuan alat perforasi ke dalam bagian tubuh. Tempat pemberian, cara pemberian dan bentuk sediaan obat diatur menurut:
> sifat fisika dan kimia obat
> munculnya kerja dan lama kerja yang diinginkan
> tempat obat seharusnya bekerja
Apabila diinginkan kerja yang cepat maka harus dipilih suatu cara pemberian yang pada cara ini periode laten antara waktu pemberian dan munculnya kerja singkat yaitu dengan meniadakan absorpsi. Sebaliknya jika diinginkan kerja yang tertunda,umumnya yang mungkin ialah bentuk-bentuk pemberian yang melalui absorpsi.
Agar dapat diabsorpsi,obat harus dalam bentuk larutan. Obat yang diberikan dalam larutan akan lebih cepat diabsorbsi daripada yang harus larut dulu dalam cairan badan sebelum diabsorpsi. Absorbsi obat dilakukan dengan menembus membran yang memisahkan obat di tempat pemberian dengan tempat tempat kerja obat.
Pejalanan obat itu sendiri didalam tubuh melalui 4 tahap (disebut fase farmakokinetik), yaitu:
A. Absorpsi
Yaitu pengambilan obat dari permukaan tubuh atau dari tempat-tempat tertentu dalam organ dalaman ke dalam aliran darah atau system pembuluh limfe. Dari aliran darah atau sistem pembuluh limfe terjadi distribusi obat ke dalam organisme keseluruhan. Karena obat baru berkhasiat apabila berhasil mencapai konsentrasi yang sesuai pada tempat kerjanya maka suatu absorbsi yang cukup merupakan syarat untuk suatu efek terapeutik,sejauh obat tidak digunakan secara intravasal atau tidak langsung dipakai pada tempat kerjanya. Dikatakan cukup apabila kadar obat yang telah diabsorpsi tidak melewati batas KTM, yaitu Kadar Toksik Minimum, namun masih berada di dalam batas KEM, yaitu Kadar Efektif Minimum.













B. Distribusi
Yaitu proses penyebaran zat aktif yang telah masuk ke peredaran darah ke seluruh tubuh, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
C. Metabolisme dan Ekskresi ( Eleminasi ).
Obat harus melalui proses metabolisme dahulu agar dapat dikeluarkan dari badan. Dimana pada saat inilah badan berusaha merubahnya menjadi metabolit yang bersifat hidrofil agar mudah dikeluarkan melalui sistem ekskresi, misal lewat anus, paru, kulit, dan ginjal.
Obat pada awalnya akan menembus barrier membrane atau biasa disebut sebagai sawar absorbsi. Sawar absorbsi yaitu batas pemisah antara lingkugan dalam dan lingkungan luar, ialalah membrane permukaan sel. Absorpsi dan sama halnya distribusi dan ekskresi tidak mungkin tetjadi tanpa suatu transport melalui membrane. Penetrasi senyawa melalui membrane dapat terjadi sebagai:
> difusi ( pasif murni )
> difusi terfasilitasi ( melalui pembawa )
> transport aktif
> pinositosis, fagositosis, dan persorpsi.
Absorbsi kebanyakan obat terjadi secara pasif melalui difusi. Kecepatan absorpsi dan kuosien absorpsi bergantung pada banyak factor. Diantaranya yang terpenting adalah:
a. sifat fisikokimia bahan obat terutama sifat stereokimia dan kelarutannya
b. besar partikel dan jenis permukaan
c. sediaan obat
d. dosis
e. rute pemberian dan tempat pemberian
f. waktu kontak dengan permukaan absorbsi
g. besarnya luas permukaan yang mengabsorbsi
i. nilai pH dalam darah yang mengabsorbsi
j. integritas membrane
k. aliran darah organ yang mengabsorbsi
Zat aktif obat harus dibuat suatu bentuk yang cocok serta dipilih pula rute penggunaan obat yang sesuai agar tujuan pengobatan dapat tercapai. Pemberian obat dapat melalui cara :
1. Per oral
Cara per oral merupakan salah satu cara pemberian obat melalui mulut. Cara ini merupakan cara pemberian obat yang paling umum dilakukan karena mudah, aman, dan murah. Kerugiannya adalah banyak factor yang dapat mempengaruhi bioavailibilitasnya. Dimana bioavailibilitasnya adalah jumlah obat dalam persen terhadap dosis yang mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh maupun aktif.


Adapun kerugian yang ditimbulkan dari cara per oral adalah beberapa jenis obat dapat rusak oleh adanya enzim saluran cerna, dan perlu kerjasama dari penderita; tidak dapat dilakukan bila pasien koma. Absorpsi obat secara oral dipengaruhi oleh absorpsi, ionisasi, kecepatan aliran darah, bentuk sediaan, integritas fungsional cerna, pengaruh makanan dan obat lain, dan bagi bentuk padat sangat dipengaruhi oleh kecepatan disintegrasi dan disolusi.
2. Sublingual
Pemberian dengan sublingual adalah cara pemberian obat melalui mukosa mulut. Keuntungan cara pemberian ini adalah obat lebih cepat diabsorpsi dibandingkan dengan pemberian secara per oral, kerugian dari cara pemberian ini adalah tidak dapat digunakan untuk obat-obatan yang rasanya pahit dan tidak enak sehingga jenis obat yang dapat diberikan secara sublingual terbatas.
3. Per rectal
Per rectal biasanya diberikan pada penderita muntah-muntah, tidak sadar, dan bagi pasien pasca bedah. Umumnya metabolisme lintas pertamanya hanya 59%. Namun per rectal memiliki efek mengiritasi mukosa rectum, absorpsi tidak lengkap dan tidak teratur
Cara parental antara lain secara suntikan
Secara garis besar memiliki keuntungan:
a. Efek lebih cepat dan teratur
b. Dapat diberikan pada pasien yang tidak koperatif
c. Berguna pada keadaan darurat
Adapun kerugiannya, adalah
a. Cara asepsis, rasa nyeri
b. Bahaya penularan hepatitis serum
c. Sukar dilakukan sendiri, tidak ekonomis
Cara suntikan bisa bermacam-macam diantaranya intravena, subcutan, intramuscular, intraperitonial
4. Intra vena
Biasanya tidak mengalami absorpsi, kadar diperoleh dengan cepat, tepat dan dapat disesuaikan respon serta dapat digunakan untuk larutan iritatif. Namun, cara pemberian intravena biasanya efek toksik mudah terjadi, dan tidak dapat ditarik jika terjadi kesalahan perhitungan dosis, juga bagi obat yang larut dalam larutan minyak tidak boleh diberikan karena mengendapkan konstituen darah, serta bagi intravena penyuntikan dengan cara perlahan-lahan sambil mengawasi respon.




5. Intra muscular
Kelarutan dalam air menentukan kecepatan absorpsi dimana absorpsi di deltoid atau vastas lateralis ari pada gluteus maksimus, dan biasanya bagi obat yang berupa larutan minyak atau suspensi diabsorpsi sangat lambat dan konstan, selain itu cara intramuscular diberikan apabila obat terlalu iritatif jika diberikan secara subcutan.
6. Sub cutan
Pemberian dengan cara menginjeksikan obat ke bawah jaringan kulit pada tengkuk mencit. Cara ini termasuk cara parental (di luar saluran pencernaan pemberian obat secara subcutan dapat menghindari first pass effect di lambung dan usus. Daerah subcutan mempunyai suplai yang baik dan kapiler-kapiler dan pembuluh limpa.
7. Intra peritoneal
Obat diinjeksikan pada rongga perut tanpa terkena usus atau terkena hati, karena dapat mengakibatkan kematian. Di dalam rongga perut ini obat diabsorpsi secara cepat karena pada mesentrium banyak mengandung pembuluh darah. Dengan demikian absorbsinya lebih cepat dibandingkan per oral dan intramuskular. Obat yang diberikan secara intra peritoneal akan diabsorpsi pada sirkulasi portal sehingga akan dimetabolisme di dalam hati sebelum mencapai sirkulasi sistemik.
Pentothal  yang biasa disebut Natrium-thiopental merupakan obat yang termasuk golongan barbiturate. Turunan barbiturate bekerja dengan menekan transmisi sinaptik pada system pengaktifan retikula di otak dengan cara mengubah permeabilitas membrane sel, sehingga mengurangi rangsangan polisinaptik dan menyebabkan deaktivasi korteks serebral. Sandberg (1951) membuat postulat bahwa untuk memberi efek penekanan system saraf pusat, turunan asam barbiturate harus bersifat asam lemah dan mempunyai nilai koefisien partisi lemak/air dengan batas tertentu. (Kimia Medisinal 2, Siswandono MS dan Dr. Bambang Soekardjo, SU., 2000: hlm 232).
Struktur Na-thiopental
H N SNa

C2H5 N
CH3{CH2}2CH

CH3 O

Transport aktif-sedatif di dalam darah merupakan fase dinamis molekul-molekul obat masuk dan keluar jaringan pada kecepatan yang bergantung pada :
a. aliran darah
b. perubahan konsentrasi,
c. permeabilitas

Kecepatan masuknya ke dalam system saraf pusat menentukan cepat kerjanya pada sistem saraf pusat tersebut.
Barbiturat bekerja pada seluruh sistem saraf pusat, walaupun pada setiap tempat tidak sama kuatnya. Dosis nonanestesi terutama menekan respon pasca sinaps. Bariturat memperlihatkan beberapa efek yang berbeda pada eksitasi dan inhibisi transmisi sinaptik. Barbiturat bekerja pada seluruh sistem saraf pusat, walaupun pada setiap tempat tidak sama kuatnya. Kapasitas barbiturate membantu kerja GABA sebagian menyerupai kerja benzadiazepin, namun pada dosis tinggi barbiturt menimbulkan depresi sistem saraf pusat yang berat.
Thiopental, obat anestesi sistemik turunan tiobarbiturat, mempunyai awal dan masa kerja yang sangat singkat, sehingga dimasukan dalam golongan barbiturate dengan kerja sangat singkat. Thiopental berdifusi sangat cepat keluar dari otak dan jaringan lain yang mendapat aliran darah banyak dan selanjutnya mengalami redistribusi menuju otot bergaris, lemak, dan akhirnya ke seluruh jaringan tubuh. Dengan barbiturate, keseimbangan plasma otak terjadi dengan cepat, karena kelarutan dalam lipid yang tinggi. Thiopental berdifusi sangat cepat keluar dari otak dan jaringan lain yang mendapat aliran darah banyak dan selanjutnya mengalami redistribusi menuju otot bergaris, lemak, dan akhirnya ke seluruh jaringan tubuh. Oleh karena perpindahannya yang cepat dari jaringan otak, maka satu dosis thiopental lama kerjanya sangat pendek.
Metabolisme thiopental jauh lebih lambat bila dibandingkan redistribusinya dan terutama terjadi di hati. Kurang dari 1% dari dosis thiopental yang diberikan mengalami eliminasi dalam bentuk tidak berubah lewat ginjal. Thiopental mengalami metabolisme dengan kecepatan 12%-16% per jam dalam tubuh manusia setelah pemberian dosis tunggal. Dalam dosis tinggi, thiopental menyebabkan tekanan darah arteri, volume sekuncup, dan curah jantung yang efeknya bergantung pada dosis.
Thiopental (pKa = 7,6), mempunyai nilai koefisien partisi lemak/air = 100. dalam plasma darah yang mempunyai pH = 7,4, thiopental terdapat dalam bentuk tidak terionisasi kurang lebih 50%, yang mempunyai kelarutan dalam lemak sangat besar. Thiopental yang berada dalam plasma darah dengan cepat terdistribusi dan dihimpun dalam depo lemek; makin lama makin banyak sehingga kadar obat dalam plasma menurun secara drastic. Untuk mencapai keseimbangan, thiopental yang berada pada jaringan otak masuk kembali ke plasma darah sehingga kadar anestesi tidak tercapai lagi dan efek anestesi seger berakhir (masa kerja obat singkat)
Masa kerja thiopental tidak bergantung pada kecepatan distribusinya. Setelah 3 jam pemberian, kadar thiopental dalam depo lemak 10 kali lebih besar disbanding kadar obat dalam plasma. Dalam lambung tikus, pada pH 1 penyerapannya 46%. Sedangkan pada pH 8 penyerapannya 34%. (Kimia Medisinal, Siswandono MS dan Dr. Bambang Soekardjo, SU.,1995: hlm 10)

Indikasi Pentothal anestesi sebelum pemberian anestesi lain, juga sebagai anestesi tunggal untuk operasi singkat. Kontra indikasi : kehilangan rasa sakit secara sempurna, status asmatikus, porfiria, laten, atau monifes. Hati-hati pada hipertensi sedang, penyakit kardiovaskuler parah, bertambahnya tekanan intrakarnial, asma, miestemia gravis, dan anemia parah. Efek samping dari obat ini dapat berupa depresi pernafasan, depresi otot jantung, artemia jantung, bersin, batuk, bronkostamus, dan laringospasmus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ayo tulis komentar donk