Selasa, 02 Maret 2010

inflamasi

Inflamasi adalah usaha tubuh untuk menginaktivasi atau merusak organisme yang menyerang, menghilangkan zat iritan, dan mengatur derajat perbaikan jaringan. Inflamasi dicetuskan oleh mediator kimiawi dari jaringan yang rusak dan migrasi sel. Mediator kimiawi spesifik bervariasi dengan tipe proses peradangan dan meliputi amin, seperti histamine dan 5-hidroksitriptamin; lipid, seperti prostaglandin; peptida kecil, seperti bradikinin; dan peptida besar, seperti interleukin-1.
Inflamasi berasal dari kata “inflamare” yang berati membakar, merupakan respon jaringan hidup sebagai reaksi lokal atas keberadaan benda asing organisme hidup., dan adanya luka pada dirinya atau merupakan reaksi lokal terhadap udema yang dinyatakan dengan dilatasi mikrosirkulasi (pembuluh darah) dan cairan yang dikandungnya (leukosit dan cairan). Gejala umum reaksi inflamatoris yang dapat diamati adalah pemerahan (rubor), pembengkakan (tumor), panas meningkat (kalor), dan gangguan fungsional (Mutschler, 1991).
Nyeri disebabkan oleh rangsangan-rangsangan mekanis atau kimia (kalor atau listrik) yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan lepasnya zat-zat tertentu yang disebut mediator-mediator nyeri. Mediator-mediator ini merangsang reseptor nyeri pada ujung-ujung syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan-jaringan. Dari tempat ini rangsangan dialirkan melalui saraf sensorik ke susunan saraf pusat melalui sumsum tulang belakang ke thalamus (opticus) dan kemudian ke pusat nyeri ke dalam otak besar dan ini dirasakan sebagai rasa nyeri.
Mediator-mediator nyeri yang terpenting adalah prostaglandin, serotonin, plasmakinin, histamine , dan ion-ion kalium. Prostaglandin dilepaskan menyebabkan bertambahnya vasodilatasi, permeabilitas kapiler, nyeri dan demam. Histamine menyebabkan dilatasi arteriol dan meningkatkan permeabilitas kapiler dan rasa nyeri.
Biasanya respon peradangan dimulai oleh antigen, misal virus, bakteri, protozoa, atau fungus oleh trauma. Kerusakan sel yang menyebabkan peradangan menyebabkan pelepasan enzim lisozim dari leukosit melalui kerja atas membran sel, kemudian arakidonat dilepaskan dari senyawa precursor oleh fosfolipase. Enzim siklooksigenase mengubah asam arakidonat menjadi endoperoksida yang aktif secara biologis dan bermasa hidup singkat. Senyawa ini cepat diubah menjadi prostaglandin dan tromboksan (Katzung, 1989).
Mekanisme obat AINS (Anti Inflamasi Non Steroid) adalah menghambat system siklooksigenase yang menyebabkan pemecahan asam arakidonat menjadi prostaglandin. Sikloksigenase terdiri dua macam isoenzim, yaitu COX-1 dan COX-2 dengan berat molekul dan daya enzimatis yang sama. COX-1 banyak terdapat dalam jaringan, antara lain platelet darah, ginjal, dan saluran pencernaan. COX-1 esensial ditemukan pada mamalia dan dapat dikatakan sebagai enzim “house keeping”, berbeda dengan COX-2 yang diaktivasi oleh kerusakan jaringan. COX-2 dalam keadaan normal tidak terdapat dalam jaringan, tetapi dibentuk selama radang dan kadarnya di dalam sel meningkat sampai 80 kali.

Perbedaan COX-1 dan COX-2
Ciri COX-1 COX-2
Sekuen asam amino
Keberadaan
Tempat
Inhibitor

Isoleusin
House keeping
GI (utama)
Indomethacin, Sulindac
Valin
Dinduksi selama inflamasi
Jaringan inflamasi
Celecoxibs, Etodolax, Meloxicam, Rofecoxib
(hambat aktivitas)
Dexamethazone
(hambat ekspresi gen)



Proses-proses yang terjadi pada proses inflamasi :
o Eksudasi
Fase primer pada inflamasi adalah perubahan structural pada dinding vascular. Perubahan ini mengakibatkan peningkatan permeabelitas pembuluh darah yang membiarkan protein kaya cairan menembus dinding vascular (udema dan kemerahan)
o Infiltrasi
Leukosit, makrofag, dan limfosit di bawah pengaruh kemotaksik, memasuki area inflamasi (fase primer). Beberapa dari sel tersebut mengandung enzim lisosom yang mampu menelan dan mencerna partikel-partikel asing (fagositosis)
o Proliferasi
Limfosit dan makrofag mengalami transformasi menjadi lapisan pembatas sel yang antara lain mampu mensintesis antibodi-antibodi (fase sekunder)
Katzung, B.G. 1997. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi IV. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ayo tulis komentar donk