Kamis, 14 Januari 2010

elisitasi

Elisitasi merupakan proses penambahan elisitor pada sel tumbuhan dengan tujuan untuk menginduksi dan meningkatkan pembentukan metabolit sekunder. Elisitor terdiri atas dua kelompok, yaitu elisitor abiotik dan elisitor biotik (Logemann 1995). Selain itu, elisitasi merupakan suatu respon dari suatu sel untuk menghasilkan metabolit sekunder. Dalam hal ini adanya interaksi patogen dengan inang akan menginduksi pembentukan fitoaleksin pada tumbuhan. Fitoaleksin itu sendiri merupakan senyawa antibiotik yang mempunyai berat molekul rendah, dan dibentuk pada tumbuhan tinggi sebagai respons terhadap infeksi mikroba patogen. Senyawa yang merupakan bagian dari mekanisme tersebut dapat dianalogikan dengan antibody yang terbentuk sebagai respons imun pada hewan (Yoshikawa&Sugimito, 1993). Elisitor selain dapat menginduksi sentesis fitoaleksin, ternyata dapat juga menginduksi sintesis metabolit sekunder yang bukan fitoaleksin pada kultur kalus dan sel (Eilert et al 1986).
Kegunaan elisitasi yaitu merangsang suatu tanaman untuk menghasilkan fitoaleksin. Suatu tanaman dapat menghasilkan fitoaleksin jika tanaman tersebut mendapatkan cekaman. Cekaman tersebut dapat berupa serangan ataupun perlukaan pada sel tanaman. Sel tersebut akan merespon serangan dengan mekanisme pertahanan, dan zat yang dihasilkan dari mekanisme pertahanan tersebut merupakan fitoaleksin.
Hubungan elisitasi dengan teknik kultur jaringan tanaman memberikan korelasi positif. Elisitor dalam hal ini merupakan serangan atau pemacu yang dapat meningkatkan metabolit sekunder yaitu dengan cara perlukaan baik secara endogen maupun eksogen. Misalnya pada perlukaan secara endogen yaitu keluarnya asam jasmonic sehingga selnya merespon bahwa telah terjadi luka, kemudian sel tersebut mengeluarkan pertahanan dirinya yang disebut fitoaleksin. Pada perlukaan secara eksogen, misalnya terjadi infeksi akibat mikroba patogen. Akibatnya dinding sel menjadi rusak lalu ada mekanisme dari fitoaleksin untuk meregenerasi sel-sel yang rusak tersebut.
Metode elisitasi digunakan saat kita ingin memproduksi metabolit sekunder yang menghasilkan fitoaleksin dan enzim spesifik penghasil metabolit sekunder serta medium paling tepat sudah diketahui agar berhasil meningkatkan produksi metabolit sekunder. Serta menghasilkan biomassa dalam jumlah besar dan dalam waktu yang relatif singkat yang jika secara konvensional tidak bisa dilakukan.
Elisitasi memiliki banyak keuntungan diantaranya merangsang tanaman untuk memproduksi fitoaleksin untuk pertahanan dirinya, dapat memproduksi metabolit sekunder dalam skala besar yang relatif singkat, dapat menginduksi sintesis dan aktivitas enzim, serta ada peningkatan secara nyata bagi senyawa yang diharapkan. Sedangkan kerugian elisitasi adalah tidak semua metabolit sekunder yang dihasilkan berupa fitoaleksin sehingga dapat mengganggu peningkatan produksi metabolit sekunder. Selain itu, karena pemberian elisitor yang menyebabkan luka sehingga nutrisi yang terdapat dalam tanaman digunakan untuk menutupi luka, akibatnya tidak ada nutrisi yang digunakan untuk pertumbuhan sel. serta jika penambahan elisitor terlalu banyak, justru akan mengurangi pertumbuhan sel, hal itu disebabkan adanya pengaruh feedback inhibition.


DAFTAR PUSTAKA

Aprianita, 1999, Pengaruh Pemberian Homogenat Jamur Pythium aphanidermatum (Edson) Fitzp. Terhadap kandungan Ajmalisin dalam Kultur Kalus Berakar C. roseus (L) G. Don. Tesis Magister, Jurusan Biologi, Institut Teknologi Bandung. Cosmo, F. and M. Misawa, 1995, Plant cell and tissue culture : Alternatives for metabolites production, Biotechnology Advances, 3, 425- 453.

Eilert, U., F. Constable, and W.G.W. Kurz, 1986, Elicitor stimulation of monoterpene indole alkaloid formation in suspension cultures of Catharanthus roseus, J. Plant Phys., 126, 11-22.

Endress, R., 1994, Plant Cell Biotechnology, Springer – Verlag., Berlin.

Fitriani, A., 1988, Pengaruh Pemberian Homogenat Jamur Pythium aphanidermatum (Edson) Fitzp. terhadap Kandungan Ajmalisin dalam Kultur Kalus Catharanthus roseus (L) G. Don. Tesis Magister, Jurusan Biologi, Institut Teknologi Bandung.

Funk, C., K. Gugler and P. Brodelius, 1987, Increased secondary product formation in plant cell suspension cultures after treatment with a yeast carbohydrate preparation (elicitor), J. Phytochem., 26:2, 401-405.

George, E. F. and P. H. Sherrington, 1984, Plant Propagation by Tissue Culture, Eastern Press Exegetic Ltd., England.

Hashimoto, T. and Y. Yamada, 1994, Alkaloid biogenesis: molecular aspect, J. Plant Mol. Biol.,
45, 257-285.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ayo tulis komentar donk