Kamis, 14 Januari 2010

penyimpanan

PENYIMPANAN
A. Tujuan
Panen merupakan salah satu rangkaian tahapan dalam proses budidaya tanaman obat. waktu, cara pemanenan dan penanganan bahan setelah panen merupakan periode kritis yang sangat menentukan kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Oleh karena itu waktu, cara panen dan penanganan tanaman yang tepat dan benar merupakan faktor penentu kualitas dan kuantitas tak terkecuali tahap penyimpanan.

Tanaman obat

Pemanenan

Pembersihan  kotoran

Airpencucian

Sortasi  rusak, busuk

Penirisan/kering angin

Pengirisan

Pengeringan energy surya/ oven 40-50°C

Pengemasan

Penyimpanan

Skema: Penanganan Pasca Panen
(Rostiana dkk., 2005)
Secara umum tujuan Penyimpanan antara lain:
1. Melindungi simplisia dari kerusakan baik secara kimia maupun fisik.
2. Memudahkan proses produksi sehingga tidak terlalu banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk produksi lagi.
3. Menjaga keaslian khasiat dari simplisia.
4. Menyediakan simplisia dalam jumlah yang cukup jika pada suatu saat dibutuhkan dalam jumlah yang banyak.
Ketersediaan bahan alam sangat bergantung pada waktu panen. Tetapi, tidak selalu setelah waktu panen itu simplisia langsung akan digunakan. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan bahan dalam jangka waktu sampai dengan kembali panen perlu dilakukan penyimpanan bahan. Penyimpanan bahan dilakukan dengan cara tertentu. Selama penyimpanan, ada kemungkinan terjadi kerusakan yang dapat menyebabkan penurunan kualitas bahan, bahkan menjadi bersifat toksik sehingga tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
Selama penyimpanan ada kemungkinan terjadi kerusakan pada simplisia. Kerusakan tersebut mengakibatkan kemunduran mutu, sehingga simplisia yang bersangkutan tidak memenuhi syarat yang ditentukan. Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena berbagai faktor luar dan dalam, antara lain:
1. Cahaya
Cahaya dapat menimbulkan perubahan kimia pada simplisia, misalnya isomerasi, polimerasi, rasemisasi, dsb.
2. Oksigen udara
Senyawa tertentu dalam simplisia dapat mengalami perubahan kimia oleh pengaruh oksigen udara, sehingga terjadi oksidasi yang akan berpengaruh pada bentuk simplisia.
3. Reaksi kimia intern
Reaksi kimia intern dapat menyebabkan perubahan kimia dalam simplisia, misalnya enzim, polimerisasi, oto-oksidasi, dsb
4. Dehidrasi
Bila kelembaban luar lebih rendah dari simplisia, maka simplisia secara perlahan-lahan akan kehilangan sebagian airnya sehingga semakin mengecil.
5. Penyerapan air
Simplisia yang higroskopik bila disimpan dalam wadah terbuka akan menyerap lengas udara sehingga menjadi kempal, basah, atau mencair
6. Pengotoran
Pengotoran dapat disebabkan oleh berbagai sumber, misalnya debu atau pasir, ekskresi hewan, bahan-bahan asing dan fragmen wadah.
7. Serangga
Serangga dapat menimbulkan kerusakan dan pengotoran pada simplisia. Pengotoran tidak hanya berupa kotoran serangga tetapi juga sisa-sisa metamorfosa, seperti cangkang telur, bekas kepompong, bekas kulit serangga, dsb.
8. Kapang
Bila kadar air dalam simplisia terlalu tinggi, maka simplisia dapat berkapang. Kerusakan yang timbul tidak hanya terbatas pada jaringan simplisia tetapi juga merusak susunan kimia zat yang dikandung dan bahkan kapang dapat mengeluarkan toksin yang mengganggu kesehatan (Anonim, 1985).

Penyebab kerusakan simplisia yang utama adalah air dan kelembaban, sehingga agar dapat disimpan dalam waktu lama, simplisia harus dikeringkan sampai kering agar kandungan airnya tidak menyebabkan kerusakan yang merugikan. Oleh karena itu pada penyimpanan simplisia perlu diperhatikan hal-hal yang dapat mengakibatkan kerusakan simplisa, yaitu cara pengepakan, pembungkusan dan pewadahan, persyaratan gudang simplisia, cara sortasi dan pemeriksaan mutu, serta cara pengawetannya (Anonim, 1985)

B. Pengemasan
Pengemasan ialah kegiatan mewadahi, membungkus, memberi etiket dan atau kegiatan lain yang dilakukan terhadap produk ruahan untuk menghasilkan produk jadi.
Bahan pengemas ialah semua bahan yang digunakan untuk pengemasan produk ruahan untuk menghasilkan produk jadi. (Anonim, 1991)
Cara pengemasan simplisia tergantung pada jenis simplisia dan tujuan pengguan pengemasan. Bahan dan bentuk pengemasan harus sesuai, dapat melindungi dari kerusakna simplisia, dan dengan memperhatikan segi pemanfaatan ruang pengangkutan maupun penyimpanannya.
Wadah harus bersifat tidak beracun dan tidak bereaksi ( inert) dengan isinya sehingga tidak menyebabkan terjadinya reaksi serta penyimpangan warna, bau, rasa dan sebagainy apada simplisia. Selain dari itu wadah harus melindungi simplisia dari cemaran mikroba. Kotoran dan serangga serta mempertahankan senyawa aktif yang mudah menguap atau mencegah pengaruh sinar, masuknya uap air dan gas-gas lainnya yang dapat menurunkan mutu simplisia. Untuk simplisia yang tidak tahan terhadap sinar misalnya yang mengandung banyak vitamin, pigmen dan minyak, diperlukan wadah yang melindungi simplisia terhadap cahaya, misalnya aluminum foil, plastic atau botol yang berwarna gelap, kaleng dan sebagainya
Bungkus yang paling lazim digunakan untuk simplisia ialah karung goni. Sering juga digunakan karung atau kantong plastic, peti atau drum dari kayu atau karton dan drum atau kaleng besi berlapis. Beberapa jenis simplisia terutama yang berbentuk cairan dikemass dalam botol atau guci porselen.
Simplisia yang berasal dari akar, rimpang, umbi, kulit akar, kulit batang, kayu, daun, herba, buah, biji, dan bunga sebaiknya dikemas dalam karung plastic. Simplisia dari daun atau herba umumnya dimampatkan lebih dulu dalam bentuk yang mampat dan padat, dinungkus dalam karung plastic dan dijahit.
Simplisia yang mudah menyerap uap air udara perlu dibungkus rapat untuk mencegah terjadinya penyerapan kelembaban tersebut. sesudah dikeringkan sampai cukup kering dibungkus dengan karung atau kanting plastic, peti, drum, atau kaleng besi berlapis. Pada penyimpanannya simplisia tersebut dimasukkan dalam wadah yang tertutup rapat dan sering kali perlu diberi kapur tohor sebagai bahan pengering.
Gom dan damar dikemass dalam wadah drum, peti yang terbuat dari karton, kayu atau besi berlapis sedangkan simplisia yang aroma atau baunya perlu dipertahankan harus dikemas dalam peti kayu berlapis timah atau kertas timah.
Kaleng atau aluminium dpat digunakan sebagai wadah untuk simplisia kering, terutama jika diperlukan penutupan secara vakum. Akan tetapi kaleng dan aluminium bersifat korosif dan mudah bereaksi dengan bahan yang disimpan didalamnya. Sehingga kaleng atau aluminium biasanya harus diberi lapisan khusus misalnya lapisan oleo resin, vinil, malam, atau bahan lain.
Sifat wadah gelas yang menguntungkan adalah inert, tetapi penggunaan wadah gelas terbatas karena gelas mudah pecah dan berat sehingga menyulitkan dalam pengangkutan. Kertas atau karton tidak dapat digunakan sebagai pembungkus simplisia secara sempurna oleh karena itu biasanya bahan pembungkus kertas perlu dilapis lagi dengan lilin, damar, lak, atau plastic untuk mencegah keluar masuknya gas atau uap air. Plastic biasanya digunakan untuk membungkus simplisia kering, tetapi penggunaan plastic juga mempunyai kelemahan yaitu plastic tidak than panas dan mudah terjadi pengembunan uap air didalamnya jika suhu diturunkan. Aluminum foil banyak digunakan untuk membungkus bahan-bahan kerinh karena sifat-sifatnya yang menguntungkan diantaranya mudah dilipat-lipat, ringan, serta dapat mencegah keluar masuknya uap air dan zat-zat yang mudah menguap lainnya.
Dalam WHO Guidelines on Good Agricultural and Collection Practices (GACP) for Medicinal Plants ada beberpa hal yang harus diperhatikan terkait pengemasan dan pelabelan:
a) Simplisia harus dikemas sesegera mungkin untuk mencegah rusaknya simplisia serta untuk melindungi dari serangan hewan dan kontaminan lainnya.
b) Pengukuran kontrol kualitas yang berkelanjutan harus dilakukan untuk mengeliminasi bahan yang tidak sesuai standar, kontaminan serta benda asing lain selama tahap akhir pengepakan.
c) Simplisia harus disimpan dalam wadah yang kering seperti box, kantung, tas atau wadah lainnya yang sesuai dengan standard operating procedures serta peraturan nasional dan regional tentang produsen dan Negara pengguna.
d) Bahan yang digunakan untuk pengepakan seharusnya tidak menyebabkan pencemaran, bersih, kering, dan tidak rusak serta cocok dengan persyaratan mutu bahan simplisia. Bahan simplisia yang rentan harus disimpan dalam wadah/container yang kaku. Jika memungkinkan, pengemasan dilakukan berdasarkan kesepakatan supplier dan pembeli.
e) Bahan pengemas yang dapat digunakan kembali sebaiknya didisinfeksi terlebih dahulu sebelum dipakai kembali untuk menghindari kontaminasi bahan simplisia sebelumnya.
f) Semua bahan pengemas harus disimpan di tempat yang bersih dan kering, terhindar dari gangguan hewan, ternak dan kontaminan lainnya.
g) Label pada kemasan harus menuliskan dengan jelas nama ilmiah dari tanaman, bagian tanaman, tempat asal dipanennya tanaman tersebut, tanggal pemanenan, nama penanam dan informasi kuantitatif lainnya.
h) Catatan harus selalu tercantum dalam kemasan batch, dan mencantumkan nama ilmiah, daerah asal pemanenan, nomer batch, berat, dan tanggal. Catatan harus disimpan dalam waktu tiga tahun (anonim, 2003)
C. Etiket
Di dalam pedoman cara pembuatan obat yang baik yang dikeluarkan oleh BPOM RI (Sampurno,2005) disebutkan bahwa dokumen penyimpanan dan distribusi yang terpenting adalah kartu persediaan dan catatan distribusi.Hendaklah diadakan kartu persediaan yang berisi catatan atau system dokumentasi lain tentang jumlah yang diterima,dikeluarkan dan yang tersedia untuk tiap bahan awal,produk antara,produk ruahan dan produk jadi.
1. kartu persediaan hendaklah memuat ;
a. nama dan atau nomer kode bahan atau produk
b. tanggal penerimaan,pengeluaran dan penyerahan
c. jumlah penerimaan atau penyerahan dan persediaan
d. nomor bets
e. lokasi penyimpanan
f. status bahan atau produk,apakah dikarantina diluluskan atau ditolak
2. Untuk tiap kelompok bahan awal,produk antara,produk ruahan atau produk jadi sebaiknya dibuat kartu persediaan dengan menggunakan warna yang berbeda.
D. Persyaratan gudang
Penyimpanan simplisia dapat dilakukan di ruang biasa (suhu kamar) ataupun di ruang ber AC. Ruang tempat penyimpanan harus bersih, udaranya cukup kering dan ber-ventilasi. Ventilasi harus cukup baik karena hama menyukai udara yang lembab dan panas. Perlakuan sim-plisia dengan iradiasi sinar gamma dosis 10 kGy dapat menurunkan jumlah patogen yang dapat mengkontaminasi simplisia tanaman obat (Berlinda dkk, 1998). Dosis ini tidak merubah kadar air dan kadar minyak atsiri simplisia selama penyimpanan 3 - 6 bulan. Jadi sebelum disimpan pokok utama yang harus diperhati-kan adalah cara penanganan yang tepat dan higienes (Anonim, 2008). Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai tempat penyimpanan simplisia adalah :
1. Gudang harus terpisah dari tem-pat penyimpanan bahan lainnya ataupun penyimpanan alat dan dipelihara dengan baik (Sembiring, 2007)
2. Gudang penyimpanan harus bersih dan tertutup, agar tidak ada mikroorganisme yang masuk dan terhindar dari kontaminan.
3. Ventilasi udara cukup baik dan bebas dari kebocoran atau ke-mungkinan masuk air hujan (sirkulasi udara baik) (Sembiring, 2007)
4. Suhu gudang tidak melebihi 300C atau suhu kamar jika melebihi suhu tersebut simplista akan rusak dan jika kurang dari suhu kamar mikroorganisme dapat tumbuh dalam simplista.
5. Kelembaban udara sebaiknya di-usahakan serendah mungkin (650 C) untuk mencegah terjadinya penyerapan air. Kelembaban udara yang tinggi dapat memacu pertumbuhan mikroorganisme se-hingga menurunkan mutu bahan baik dalam bentuk segar maupun kering.
6. Masuknya sinar matahari secara langsung menyinari simplisia harus dicegah agar tidak merusak simplisia / sinar matahari tidak boleh leluasa masuk ke dalam gudang
7. Masuknya hewan, baik serangga maupun tikus yang sering me-makan simplisia yang disimpan harus dicegah.
8. konstruksi dibuat sedemikian rupa disesuaikan dengan jenis simplisia (Anonim, 1994)
9. terdapat alas dari kayu yang baik (hati-hati karena balok kayu sangat disukai rayap) atau bahan lain untuk meletakkan simplisia yang sudah dipak tadi(Anonim, 1994)
10. Pengeluaran simplisia yang disimpan harus dilaksanakan dengan cara mendahulukan bahan yang disimpan Iebih awal (“First in — First out” = FIFO) (Anonim, 1994)

Penyimpanan produk jadi sebelum dijual
Jamu yang siap dijual disimpan terlebih dahulu dalam rak-rak besar secara teratur. Gudang penyimpanan jamu harus kering dan tidak lembab sehingga tidak menurunkan kualitas jamu yang telah dihasilkan. Rak-rak penyimpanan tidak boleh menempel pada dinding, tetapi harus ada sedikit jarak sehingga jamu tersebut tidak menjadi lembab ( Anonim,2007).

Gb.1 Rak Penyimpanan Obat Tradisional ( Anonim,2007)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1985, Cara Pembuatan Simplisia , Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.
Anonim, 1986, Materia Medika Indonesia, Jilid VI, Departemen kesehatan RI, Jakarta.
Anonim, 1991, Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik, Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan RI, Jakarta, tersedia Online: http://www.pom.go.id/public/hukum_perundangan/pdf/SK_Menkes_659.pdf
Anonin, 1994, Kondifikasi peraturan perundang-undangan obat tradisional jilid I, Direktorat pengawassan obat tradisional direktorat jenderal pengawasan obat dan makanan, Depkes RI, Jakarta
Anonim, 2003, WHO Guidelines on Good Agricultural and Collection Practices (GACP) for Medical Plants, World Health Organization: Geneva
Anonim, 2007, Industri jamu Tradisional. Bank Sentral Republik Indonesia. Jakarta. Tersedia online :http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=51314&idrb=45501, Diakses pada tanggal 9 September 2009 11.16 WIB.
Rostiana, O., Rosita, S.M.D., Rahardjo, M., Taryono, 2005, Budidaya Tanaman Kencur, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika.
Sampurno, 2005, Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik, Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI, Jakarta. Tersedia Online: http://www.pom.go.id/public/hukum_perundangan/pdf/LAMP_CPOTB.pdf
Sembiring, Bagem, 2007, Teknologi Penyiapan Simplisia Terstandar Tanaman Obat, Warta Puslitbangbun Vol.13 No. 2. Tersedia online: http://balittro.litbang.deptan.go.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=75, diakses pada 9 september 2009
Seabaugh,K. and Smith, M., 1996, USP Open Conference on Botanicals for Medical and Dietary Uses: Standards and Information Issues, The United States Pharmacopeial Convention, Inc., Rockville, Maryland

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ayo tulis komentar donk