Kamis, 14 Januari 2010

pencucian

Pendahuluan
Panen merupakan salah satu rangkaian tahapan dalam proses budidaya tanaman obat. Waktu, cara pemanenan dan penanganan bahan setelah panen merupakan periode kritis yang sangat menentukan kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Oleh karena itu waktu, cara panen dan penanganan tanaman yang tepat dan benar merupakan faktor penentu kualitas dan kuantitas (Sembiring, 2007). Pasca panen sendiri merupakan kelanjutan dari proses panen terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan alam. Pengelolaan pascapanen meliputi kegiatan penyortiran, pencucian, pengolahan hasil (pengupasan kulit serta pengirisan), pengeringan, pengemasan, sampai pada penyimpanan. Tujuan pengelolaan pascapanen tanaman obat adalah sebagai berikut:
1. Mencegah kerugian karena perlakuan prapanen yang tidak tepat.
2. Menghindari kerusakan akibat waktu dan cara panen yang tidak tepat.
3. Mengurangi kerusakan pada saat pengumpulan, pengemasan, dan pengangkutan saat pendistribusian hasil panen.
4. Menghindari kerusakan karena teknologi pascapanen yang kurang tepat.
5. Menekan penyusutan kuantitatif dan kualitatif hasil.
6. Terjaminnya suplai bahan baku produksi tanaman obat meskipun tidak pada musimnya.
7. Pengolahan limbah yang dapat memberikan nilai tambah bagi produsen simplisia, contoh sisa-sisa hasil pengolahan simplisia untuk pembuatan pupuk kompos.
8. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya alam dan menjamin kelestariannya.
Untuk memulai proses pasca panen perlu diperhatikan cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan tanaman yang ideal setelah dilakukan proses panen tanaman tersebut. Selama proses pasca panen sangat penting diperhatikan kebersihan dari alat-alat dan bahan yang digunakan, juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan seperti masker dan sarung tangan (Sembiring, 2007). Hal ini diatur dalam Pedoman CPOTB dalam Lampiran Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor :HK.00.05.4.1380
BAB 6. SANITASI DAN HIGIENE
6.3. Peralatan
6.3.1. Prosedur sanitasi peralatan hendaklah dirancang dengan tepat agar dapat
dicegah pencemaran peralatan oleh bahan pembersih atau bahan untuk
sanitasi.
6.3.2. Peralatan sebelum dipakai hendaklah diperiksa lagi untuk memastikan kebersihannya.
6.3.3. Peralatan setelah digunakan hendaklah dibersihkan baik bagian luar maupun bagian dalam sesuai dengan prosedur, serta dijaga dan disimpan dalam kondisi bersih dan diberi tanda.
6.3.4. Peralatan yang dapat dipindah-pindahkan pembersihan dan penyimpanannya hendaklah dilakukan dalam ruangan yang terpisah dari ruangan pengolahan (Sampurno, 2005).
Tujuan dari pasca panen ini untuk menghasilkan simplisia tanaman obat yang bermutu, efek terapinya tinggi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Salah satu pengelolaan pascapanen yang penting adalah pencucian, seperti yang tertera pada Pedoman CPOTB dalam Lampiran Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor :HK.00.05.4.1380
BAB 7. PENYIAPAN BAHAN BAKU
7.6. Simplisia yang telah dicuci hendaklah dikeringkan lebih dahulu dengan cara yang tepat sehingga tidak terjadi perubahan mutu dan mencapai kadar air yang dipersyaratkan (Sampurno, 2005).

Pembahasan
Pencucian bertujuan menghilangkan kotoran-kotoran dan mengurangi mikroba-mikroba yang melekat pada bahan, baik yang terikut saat pemanenan maupun saat pengangkutan, seperti yang tertera pada Pedoman CPOTB dalam Lampiran Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor :HK.00.05.4.1380
BAB 8. PENGOLAHAN DAN PENGEMASAN
8.2. Pencemaran
8.2.1. Pencemaran fisik, kimiawi atau jasad renik terhadap produk yang dapat merugikan kesehatan atau mempengaruhi mutu suatu produk tidak boleh terjadi.
8.2.2. Pencemaran khamir, kapang dan atau kuman non patogen terhadap produk meskipun sifat dan tingkatannya tidak berpengaruh langsung pada kesehatan hendaklah dicegah sekecil mungkin sampai dengan persyaratan batas yang berlaku (Sampurno, 2005).
Pencucian harus segera dilakukan setelah panen karena dapat mempengaruhi mutu bahan. Pencucian menggunakan air bersih seperti air dari mata air, sumur atau PAM. Bahan simplisia yang mengadung zat yang mudah larut di dalam air yang mengalir, pencucian agar dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Menurut Frazier (1978), pencucian sayur-sayuran satu kali dapat menghilangkan 25% dari jumlah mikroba awal, jika dilakukan pencucian sebanyak tiga kali, jumlah mikroba yang tertinggal hanya 42% dari jumlah mikroba awal. Pencucian tidak dapat membersihkan simplisia dari semua mikroba karena air pencucian yang digunakan biasanya mengandung juga sejumlah mikroba (Anonim, 1985).
Cara sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah mikroba awal simplisia. Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan tersebut dapat mempercepat pertumbuhan mikroba. Bakteri yang umum terdapat dalam air adalah Pseudomonas, Proteus, Micrococcus, Bacillus, Streptococcus, Enterobacter,dan Escherichia. Pada simplisia akar, batang atau buah dapat pula dilakukan pengupasan kulit luarnya untuk mengurangi jumlah mikroba awal karena sebagian besar jumlah mikroba biasanya terdapat pada permukaan bahan simplisia. Bahan yang telah dikupas tersebut mungkin tidak memerlukan pencucian jika cara pengupasannya dilakukan dengan tepat dan bersih (Anonim, 1985).
Perlakuan pasca panen seperti pada pencucian yang sering menambahkan zat tertentu, misal untuk tujuan memperbaiki warna, meningkatkan sterilitas bahan atau lainnya seringkali merubah pH dari bahan yang diproses. Kadang kadang perubahan pH justru merubah fungsi dari suatu enzim. Jika pada suatu pH tertentu suatu enzim mengubah substrat (zat yang diubah menjadi sesuatu yang baru) menjadi hasil akhir, maka perubahan pH dapat membalik aktivitas enzim tersebut menjadi pengubah hasil akhir kembali menjadi substrat.
Pada kasus rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza), pada saat pencucian sering diberikan atau ditambahkan air kapur dengan harapan, simplisianya nanti akan berwarna kuning cerah sehingga menarik minat untuk dibeli. Tetapi ternyata penambahan air kapur pada proses cucian, telah menyebabkan perubahan pH yang berakibat mengaktifkan enzim tertentu dan merubah zat Kurkumin yang ada menjadi Asam ferulat.
Bila kotoran agak sulit dihilangkan maka dapat ditambahkan deterjen. Sementara pencucian dilakukan sudah dengan efektif menghilangkan kotoran, maka disinfektan dapat ditambahkan untuk mengendalikan bakteri dan beberapa jamur pembusuk. Klorin adalah bahan kimia yang umum ditambahkan untuk pengendalian mikroorganisme tersebut. Namun klorin efektif bila larutan dijaga pada pH netral. Perlakuan klorin dengan konsentrasi 100-150 ppm dapat membantu mengendalikan patogen selama operasi lebih lanjut.
Pencucian dengan air sungai tidak dianjurkan karena dikhawatirkan air telah mengalami pencemaran. Pencucian juga tidak boleh menggunakan air sadah yang mengandung logam Mg karena dapat mempengaruhi kandungan senyawa kimia dalam simplisia. Misalnya, pada simplisia yang mengandung flavonoid, yaitu apigenin pada parsley (Petroselinum crispum). Adanya cemaran logam Mg berkontribusi dalam menyebabkan ketidakstabilan zat warna yang terdapat pada simplisia daun parsley tersebut, yaitu mempercepat memudarnya zat warna. Untuk menghilangkan kesadahan air dapat ditambahkan natrium karbonat atau tri-natrium-fosfat.
Untuk menghindari menyebarnya spoilage (bakteri heterotrof pembusuk), pencucian dapat menggunakan cairan yang mengandung sabun non ionik untuk membersihkan kotoran dan larutan bakterisida atau bakteristatik berupa klor halogen untuk menekan bakteri dan jamur/yeast pada simplisia yang pengeringannya lama (lebih dari 3 hari) (Siswanto, Yuli Widiyastuti. 1997). Selain itu, bahan simplisia juga dicuci dengan PK (Kalium Permanganat ) 10% sebagai desinfektan, tawas dan kaporit. Tapi mencuci dengan zat tersebut perlu dipertimbangankan bagaimana kandungan dan kualitas bahan simplisia setelah itu (Anonim, 1985).
Pada saat pencucian perhatikan air cucian dan air bilasannya, jika masih terlihat kotor ulangi pencucian/pembilasan sekali atau dua kali lagi. Perlu diperhatikan bahwa pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mung-kin untuk menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam bahan. Pencucian bahan dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain :
a. Perendaman bertingkat
Perendaman biasanya dilakukan pada bahan yang tidak banyak mengandung kotoran seperti daun, bunga, buah dll. Proses perendaman dilakukan beberapa kali pada wadah dan air yang berbeda, pada rendaman pertama air cuciannya mengandung kotoran paling banyak. Saat perendaman kotoran-kotoran yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Metoda ini akan menghemat penggunaan air, namun sangat mudah melarutkan zat-zat yang terkandung dalam bahan.
b. Penyemprotan
Penyemprotan biasanya dilakukan pada bahan yang kotorannya banyak melekat pada bahan seperti rimpang, akar, umbi dan lain-lain. Proses penyemprotan dilakukan dengan menggunakan air yang bertekanan tinggi. Untuk lebih meyakinkan kebersihan bahan, kotoran yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Proses ini biasanya meng-gunakan air yang cukup banyak, namun dapat mengurangi resiko hilang/larutnya kandungan dalam bahan.
c. Penyikatan (manual maupun otomatis)
Pencucian dengan menyikat dapat dilakukan terhadap jenis bahan yang keras/tidak lunak dan kotorannya melekat sangat kuat. Pencucian ini memakai alat bantu sikat yang digunakan bentuknya bisa bermacam-macam, dalam hal ini perlu diperhatikan kebersihan dari sikat yang digunakan. Penyikatan dilakukan terhadap bahan secara perlahan dan teratur agar tidak merusak bahannya. Pembilasan dilakukan pada bahan yang sudah disikat. Metode pencucian ini dapat menghasilkan bahan yang lebih bersih dibandingkan dengan metode pencucian lainnya, namun meningkatkan resiko kerusakan bahan, sehingga merangsang tumbuhnya bakteri atau mikroorganisme (Sembiring, 2007).
Berikut adalah cara-cara pencucian untuk masing-masing bagian tanaman yang akan dijadikan simplisia:
1. Pencucian rimpang
Rimpang dibersihkan dari akar, batang, dan daunnya, lalu dibawa ke tempat pencucian. Rimpang direndam dalam bak pencucian selama 2-3 jam. Selanjutnya, rimpang dicuci sambil disortasi. Setelah bersih, rimpang segera ditiriskan dalam rak peniris selama kurang lebih satu hari. Penirisan sebaiknya dilakukan di dalam ruangan atau di tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung.
2. Pencucian daun
Daun-daun yang telah dipetik dan disortasi selanjutnya dicuci dengan air bersih sampai benar-benar bersih dengan menggunakan air mengalir. Daun yang telah bersih ditempatkan pada keranjang atau bakul bamboo dan segera ditiriskan di tempat teduh.
3. Pencucian korteks dan kayu
Potongan-potongan cabang atau batang hasil pemanenan dicuci dengan air bersih. Bila perlu, kulit luarnya dikelupas menggunakan benda kasar atau pisau. Kemudian simplisia ditiriskan di tempat teduh hingga bahan tersebut bebas dari air bekas cucian.
4. Pencucian bunga
Bunga-bunga yang sudah terkumpul dibawa ke tempat pencucian, lalu dicuci dengan air bersih. Setelah dicuci harus segera ditiriskan dengan cara diangin-anginkan di tempat teduh sampai air bekas cucia hilang. Selanjutnya, dihilangkan tangkai bunga dan daun yang terikut saat panen.
5. Pencucian biji
Biji yang sudah diperoleh dicuci untuk menghilangkan kulit buah yang lunak. Pencucian menggunakan bakul pencucian, setelah itu bahan ditiriskan.
6. Pencucian buah
Pencucian buah dilakukan dengan mencelupkannya dalam air bersih. Setelah itu, ditiriskan sampai air mengering. Di negara-negara maju, biasanya pencucian buah dilakukan sekaligus dengan proses pengawetan. Caranya, memberikan zat tertentu pada simplisia yang dapat memperlambat proses pematangan buah (Trisnawati, Yani. 1993).
Bahan yang telah dicuci kemudian ditiriskan untuk mengurangi atau menghilangkan kandungan air. Dengan penirisan diharapkan bagian tanaman yang akan dijadikan simplisia tidak ditumbuhi jamur. Penirisan harus dilakukan segera setelah pencucian. Penirisan dilakukan dengan cara menghamparkan simplisia pada para-para yang dilapisis kawat atau tempat lain yang dibawahnya berlubang-lubang agar air dapat menetes. Penirisan sebaiknya dilakukan pada tempat yang agak teduh. Apabila setelah pencucian tidak dilakukan penirisan dan langsung dilakukan pengeringan, maka akan menimbulkan fermentasi atau pembusukan.



Kesimpulan
1. Dalam penanganan pasca panen, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah proses pencucian, karena pencucian merupakan penanganan awal yang penting, yang menentukan kehigienisan tahap selanjutnya.
2. Yang perlu diperhatikan dalam proses pencucian,adalah sumber air yang digunakan harus benar-benar bebas dari mikroorganisme,dan bahan kimia yang berbahaya.
3. Pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin untuk menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam bahan.
4. Proses pencucian mempengaruhi mutu dan kualitas dari simplisia.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta
Anonim, 2009, Tersedia online: http://www.mangga.info/files/PenangananPascaPanen.pdf, Diakses pada 12 September 2009.
Anonim, 2009, Tersedia online : http://balittro.litbang.deptan.go.id/pdf/edisikhusus/2006_02/edisi_khusus_2006_02_05.pdf, Diakses pada 12 September 2009.
Anonim, 2009, Tersedia online : http://staff.unud.ac.id/~madeutama/wp-content/uploads/2009/06/5-penanganan-pascapanen.pdf, Diakses pada 12 September 2009
Sampurno. 2005. Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik. Badan POM RI. Jakarta
Sembiring, Bagem. 2007. Teknologi Penyiapan Simplisia Terstandar Tanaman Obat. Warta Puslitbangbun vol.13(2). Bogor
Siswanto, Yuli Widiyastuti. 1997. Penanganan Hasil Panen Tanaman Obat Komersial. Trubus Agriwidya. Ungaran
Trisnawati, Yani. 1993. Pembudidayaan Tomat Secara Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta

1 komentar:

  1. hai mba aku mau nanya kalo di jakarta atau jawa barat kira2 tempat untuk mencuci sayur dimana ya? boleh kasih rekomendasi? terimakasih banyak dan sukses terus ya mba :)

    BalasHapus

ayo tulis komentar donk