Selasa, 12 Januari 2010

INSTALASI PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI FARMASI

I. PENDAHULUAN
Peningkatan kebutuhan akan obat di Indonesia telah menyebabkan peningkatan jumlah dan kegiatan industri farmasi. Peningkatan jumlah dan kegiatan industri farmasi ini tentu saja akan mempengaruhi kehidupan lingkungan yang bersinggungan langsung maupun berdekatan dengan lokasi industri farmasi tersebut. Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara 1988 disebutkan bahwa: Dalam pembangunan industri harus selalu diusahakan untuk memelihara kelestarian lingkungan dan mencegah pencemaran serta perusakan lingkungan hidup dan pemborosan penggunaan sumber alam. Dalam Undang-undang No. 4 Tahun. 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab III, Pasal 5, Ayat (2) ditegaskan bahwa: Setiap orang berkewajiban memelihara lingkungan hidup dan mencegah serta menanggulangi kerusakan dan pencemarannya. Ketentuan ini masih banyak dilanggar oleh kalangan industri.
Industri farmasi adalah industri yang menghasilkan produk yang memiliki nilai terapetik bagi manusia dan /atau hewan. Produk-produk tersebut antara lain:
1. Senyawa kimia dan produk botani yang digunakan dalam pengobatan,
2. Sediaan farmasi (tablet, kapsul, sirup, injeksi, salep, krim, infus, dll.),
3. Produk diagnostik in vitro dan in vivo,
4. Produk biologi seperti vaksin dan sera.
Proses dan kegiatan yang dilakukan industri farmasi sangat beragam, tergantung dari produk yang dihasilkan. Masing-masing industri farmasi tersebut menghasilkan limbah yang berlainan dengan karakteristik yang berlainan pula. Limbah dapat diartikan sebagai produk sampingan yang dihasilkan dari suatu aktivitas produksi. Berikut adalah karakteristik dan limbah yang dihasilkan dari masing-masing industri farmasi:
Jenis Industri Farmasi Karakteristik Limbah Limbah
Industri Farmasi Sintesis Kimia Jenis, komposisi dan jumlah limbah sangat kompleks dan beragam tergantung pada reaksi kimia dan pemurnian yang terlibat dalam proses.
Limbahnya mengandung senyawa organik dan anorganik yang toksik, kandungan BOD dan COD tinggi. • Senyawa asam, basa, garam dan katalis (logam Serat, sianida, dll)
• Pelarut organik yang digunakan dalam pe-murnian
• Deterjen yang digunakan dalam pencucian alat-alat
Industri Farmasi Ekstraksi Bahan Alam Limbah bahan padat tinggi (ampas).
Kadar BOD dan COD bisa rendah, tetapi kandungan pelarut organiknya tinggi. • Ampas bahan alam yang digunakan
• Pelarut-pelarut
• Uap pelarut
• Air limbah, berupa air pencucian bahan dan peralatan serta tumpahan
Industri Farmasi Fermentasi Nilai BOD dan COD limbah tinggi. • Medium fermentasi
• Sel dan misel dalam bentuk padat
• Pelarut organik untuk ekstraksi
• Senyawa kimia dan pelarut pada pemurnian / kristalisasi
• Air limbah, berupa air pencucian bahan dan peralatan serta tumpahan
Industri Farmasi Formulasi Sediaan Farmasi Limbah relatif sama dengan limbah domestik / rumah tangga. • Produk yang gagal dan terbuang
• Tumpahan bahan-bahan
• Debu (pencampuran dan pencetakan tablet)
• Air buangan dari pencucian alat dan sterilisasi
• Buangan dari laboratorium
• Bahan kemasan yang tidak terpakai
Riset dan pengembangan
Limbahnya mengandung senyawa organik dan anorganik • Bahan kimia, pelarut yang digunakan, bangkai hewan, jaringan, dan air buangan cucian peralatan, alat laboratorium, dll.


Limbah industri farmasi dapat berupa senyawa kimia toksik maupun non toksik, baik dalam bentuk padat, cair, maupun uap. Namun kebanyakan limbah industri farmasi digolongkan sebagai limbah berbahaya dan beracun serta membutuhkan pengolahan lebih lanjut untuk menghindari resiko pencemaran lingkungan.

II. SKEMA INSTALASI PENGOLAHAN LIMBAH


Konsep sistem
1 Lumpur primer 12
post-thickener

2 septic sludge 13 HUBER Sludge Gallow
3 Lumpur sekunder 14
ROTAMAT® Screw Press RoS 3 - sludge dewatering...mengurangi kandungan air dalam lumpur dari pencucian tanaman dalam proses industri


4 ROTAMAT® Sludge Screening Plant Ro 3.1 - septage receiving
15 Belt Filter Press HUBER Bogenpress BS - sludge thickening
5 Screenings


16
ROTAMAT® Screw Conveyor Ro 8 + Dosing Screw with Tank RoSF 7
Terdapat keranjang kawat baji berbentuk silinderT
Air mengalir melewati keranjang sementara padatan tertarik di keranjang sambil berputar. Selanjutnya penghilangan air dari lumpur kemudian berpindah pada Screw Press dengan penambahan tekanan.

6 pre-thickener 17 KULT® Middle Temperature Dryer BT+ - fungsinya adalah untuk mengeringkan lumpur dan kotoran air pembuangan
7 STRAINPRESS® Sludgecleaner SP - sludge screening
18 Quenscher

8


ROTAMAT® Disc Thickener RoS 2S - sludge thickening. Memisahkan bagian flokulasi lumpur dengan filtrat. Plat buffle, memindahkan dari reaktor flokulasi melewati jari-jari radius.
Fleksibilitas mendukung lumpur terpisah. Membuka alur sehingga dengan mudah air mengalir melewati lapisan filter.meningkatkan proses penyaringan. cakraFilter terus memerus berputar secara kontinu.alat prngerik mendorong lumpur dari cakra dan filter dicuci kembali dengan batang penyemprot.
19 Biofilter
9 HUBER Sludge Squeezer HSS - sludge desintegration. Menghomogenkan kotoran lumpur, menggunakan alat mekanik, sehingga dapat memisahkan bagian yang padat dengan yang cair kemudian dialirkan
20 incinieration sludge2energy - thermal utilisation
10 anaerobic digester 21 power/heat cogen.


11. gas holder
22 polymere station

III. PEMBAHASAN
Industri farmasi adalah salah satu penyumbang limbah terbesar dalam lingkungan terutama berkaitan dengan limbah cair. Hal ini dikarenakan industri farmasi dalam proses produksinya menggunakan berbagai macam pereaksi kimia. Kegiatan utama industri farmasi adalah mengolah bahan baku menjadi produk berupa obat atau bahan baku obat, namun akibat pengolahan ini terbentuk pula limbah. Adanya limbah industri farmasi, terutama limbah cairnya akan berkaitan erat dengan masalah pencemaran lingkungan; khususnya pencemaran badan air yang disebabkan oleh limbah cair yang dibuang tanpa proses pengolahan terlebih dahulu. Berkaitan dengan kegiatan yang berjalan di industri farmasi, sebaiknya limbah industri farmasi diolah terlebih dahulu agar tidak mencemari lingkungan. Dengan demikian diperlukan adanya fasilitas atau instalasi pengolahan limbah sehingga pada saat ke lingkungan limbah industri tersebut telah memenuhi kriteria baku mutu yang telah ditetapkan.
Di samping komponen yang umum terdapat dalam limbah industri, dalam limbah industri farmasi akan terdapat senyawa obat yang terlibat dalam proses. Setelah masuk ke lingkungan atau di tempat pengolahan limbah, obat akan mengalami hal sebagai berikut :
• Mengalami biodegradasi sempurna
• Mengalami biodegradasi sebagian atau menjadi senyawa lain (metabolit)
• Tahan lama terhadap penguraian (persisten)

Dalam proses pengolahan limbah industri farmasi, diperlukan suatu instalasi pengolah limbah sehingga saat dibuang ke lingkungan, limbah tersebut telah memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan. Pengolahan limbah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pemilihan teknologi pengolahan limbah yang tepat dapat didasarkan pada:
1. Karakteristik limbah, misalnya kandungan senyawa organik (BOD dan COD), bahan padat tersuspensi, derajat degradabilitas, komponen toksisnya dan jumlah limbah yang dibuang per harinya.
2. Mutu baku lingkungan terutama perairan tempat pembuangan limbahnya dan mutu baku limbah yang berlaku.
3. Biaya operasional pengolahan.
4. Lahan yang harus disediakan.
Proses pengolahan air limbah serta urutan prosesnya :
a. Pretreatment : saringan kasar, pemisah pasir, bak penampung dan homogenizer aliran/pencemar, pemisah lemak dan minyak
b. Primary treatment : proses netralisasi, koagulasi, flotasi, sedimentasi, dan filtrasi
c. Secondary treatment : untuk menurunkan organik terlarut, misalnya sistem lumpur aktif lagoon anaerobik, aerated lagoon, stabilisasi, trackling filter
d. Tertiary treatment : klarifikasi dalam bentuk koagulasi dan sedimentasi, filtrasi, adsorpsi karbon aktif, penukar ion, membran osmosis, desinfektasi, dan filtrasi membran
e. Pengolahan lumpur : misalnya dalam bentuk digestion atau wet combustion, pemekatan atau flotasi lumpur, sentrifugasi, drying bed dan lagooning
f. Pembuangan lumpur : dalam bentuk pembakaran, insinerasi, sanitary landfill serta pembuangan ke laut
g. Pembuangan effluent (hasil pengolahan) misalnya ke sungai, danau, laut, ke dalam tanah, injeksi ke sumur dalam, penguapan dan pembakaran.

Untuk meminimalisasi limbah dapat dilakukan dengan cara mengurangi sumber penghasil limbah (source reduction) dan daur ulang (recycling and reuse).
Pengurangan Sumber Limbah Daur Ulang
 Penggantian/substitusi bahan baku untuk mengurangi jumlah, volume dan toksisitas limbah
 Limbah yang dikeluarkan digunakan kembali (re-use), di daur ulang (recycling), atau diambil kembali (recovery
 Modifikasi proses, bertujuan untuk efisiensi proses yang potensial mengeluarkan limbah dan sekaligus mengganti dan memutakhirkan proses yang ramah lingkungan
 Dalam hal ini limbah dihilangkan cemarannya dan diperoleh bahan yang relatif berharga

 Good Operating Practices, dapat membantu mengurangi limbah dan kehilangan bahan yang tumpah, tercecer, dan bocor. Meliputi materials handling, waste management and plan management


Untuk menangani limbah industri farmasi, dibutuhkan suatu metode pembuangan yang tepat. Metode pembuangan tersebut antara lain adalah:
1. Pengembalian ke donatur atau pabrik pembuat
2. Landfill (mengubur) terencana dan Sanitary landfill sangat terencana
Cara ini untuk mencegah terjadinya kebocoran zat kimia ke lingkungan. Landfill yang benar terdiri dari lubang kosong yang jauh dari badan air dan lokasinya berada di atas permukaan air. Limbah yang dihasilkan setiap hari dipadatkan dan ditutup dengan lapisan tanah untuk mempertahankan kondisi saniter.

3. Imobilisasi limbah; encapsulation (penyegelan limbah dan inertization)
Enkapsulasi yaitu menjadikan limbah farmasi ke dalam bentuk padat dalam drum, plastik, atau baja. Sedangkan inertisasi adalah bentuk lain dari enkapsulasi dengan pelepasan materi, kertas, kardus, dan plastik kemasan dari limbah farmasi.

4. Saluran pembuangan air kotor
5. Pembakaran dalam kontainer terbuka untuk limbah farmasi dalam jumlah sedikit
6. Insinerasi suhu sedang
7. Insinerasi suhu tinggi
8. Penguraian kimia
Berikut tabel mengenai metode pembuangan limbah industry farmasi :
Metode pembuangan Tipe perbekalan farmasi keterangan
Pengembalian ke donatur atau perusahaan, pengiriman lintas negara untuk pembuangan. Semua sisa perbekalan farmasi, terutama antineoplastik Biasanya tidak praktis (prosedur lintas Negara biasanya menghabiskan waktu)
Insinerasi suhu tinggi
Dengan suhu jauh di atas 1200° C Limbah padat, semi padat, bubuk, antineoplastik, zat yang diawasi Mahal, terutama untuk incinerator dengan tujuan khusus. Pemanfaatan pabrik yang adamungkin lebih praktis.
Insinerasi suhu sedang
Dengan incinerator bilik ganda pada suhu minimum 850°C Jika tidak ada incinerator suhu tinggi, limbah padat, semi padat, bubuk, zat yang diawasi. Antineoplastik paling baik dibakar pada suhu tinggi
Imobilisasi
Encapsulation (penyegelan) limbah Limbah padat, semi padat, bubuk, cairan, antineoplastik, zat yang diawasi.
Inertization Limbah padat, semi padat, bubuk, cairan, antineoplastik, zat yang diawasi.
Landfill
Sanitary landfill sangat terencana Limbah padat, semi padat, dan bubuk tak diolah dalam jumlah terbatas.Pembuangan limbah farmasi dianjurkan melalui imobilisasi. Plastik PVC.
Landfill terencana Limbah padat, semi padat,dan bubuk. Sebaiknya setelah imobilisasi. Plastik PVC.
Tempat pembuangan terbuka tak terencana dan tak terkendali Sebagai pilihan terakhir limbah padat, semi padat, tak diolah (harus segera ditutupi dengan limbah perkotaan). Lebih baik dilakukan imobilisasi limbah padat, semipadat, bubuk. Tidak untuk mengolah zat yang diawasi
Saluran pembuangan air limbah Cairan encr, sirup, cairan intravena; sejumlah kecil disinfektan. Tidak dianjurkan untuk antineoplastik berikut disinfektan dan antiseptic tak diencerkan.
Badan air berarus deras Cairan encr, sirup, cairan intravena; sejumlah kecil disinfektan. Tidak dianjurkan untuk antineoplastik berikut disinfektan dan antiseptic tak diencerkan.
Pembakaran dalam container terbuka Sebagai pilihan terakhir: kemasan, kertas, kardus. Tidak sesuai untuk plastic PVC atau perbekalan farmasi.
Penguraian kimia Tidak dianjurkan kecuali tenaga ahli kimia dan bahan kimianya tersedia. Tidak praktis untuk jumlah diatas 50 kg.

Dalam pembuangan limbah industri farmasi, diperlukan suatu pemilahan. Tujuan pemilahan adalah memisahkan limbah farmasi ke dalam kategori-kategori yang memerlukan metode pembuangan berbeda. Metode pembuangan secara aman yang direkomendasikan akan bergantung terutama pada label dosis sediaan farmasi dalam obat-obatan.
Prioritas utama proses pemilahan adalah memisahkan perbekalan Farmasi yang dikelompokkan sebagai zat yang diawasi (mis. narkotika), obat antineoplastik (sitotoksik antikanker), dan semua produk non-farmasi lain yang berbahaya dan mungkin tercampur dalam perbekalan farmasi. Semuanya harus disimpan di ruang khusus yang terpisah dan aman sebelum pembuangan masing-masing secara aman.
Sisa perbekalan farmasi yang tak diinginkan lebih lanjut harus dipilah ke dalam beberapa kategori berdasarkan kandungan dosisnya (kapsul, bubuk, larutan, suppositoria, sirup, tablet).

Kategori
Metode pembuangan Keterangan
Padat
Semi padat
Bubuk

Landfill
Encapsulation limbah
Inertization limbah
Insinerasi suhu sedang dan suhu tinggi Tidak lebih dari 1% limbah harian perkotaan dapat dibuang dalam bentuk yang tidak diolah (tidak diimobilisasi ke landfill)
cairan


Saluran pembuangan limbah
Insinerasi suhu tinggi
Antineoplastik jangan ke saluran air kotor
Ampul Penggilingan atau penggerusan ampul dan membuang cairan yang dilarutkan ke saluran pembuangan air kotor
Antineoplastik jangan ke saluran air kotor
Obat-obatan anti infeksi Encapsulation limbah
Inertization limbah
Insinerasi suhu sedang dan suhu tinggi

Antibiotic cair dapat dilarutkan dengan air, didiamkan selama beberapa minggu, kemudian dibuang ke saluran air kotor
antineoplastik Pengembalian ke donatur atau pabrik yang membuat
Inertization limbah
Insinerasi suhu tinggi
Penguraian kimia
Tidak boleh ke landfill kecuali menjalani encapsulation
Jangan ke saluran air kotor
Jangan pembakaran suhu sedang

Obat-obatan yang diawasi Encapsulation limbah
Inertization limbah
Insinerasi suhu sedang dan suhu tinggi
Jangan ke landfill kecuali menjalani encapsulation
Kanister aerosol Landfill
Encapsulation limbah

Jangan dibakar ; dapat meledak
Disinfektan Buang ke selokan atau badan air yang arusnya deras ; sejumlah kecil disinfektan yang telah dilarutkan (maksimal 50 liter per hari di bawah pengawasan)


Plastic PVC,
kaca Landfill

Jangan dibakar dalam container terbuka
Kertas,
kardus
Daur ulang, pembakaran, landfill

IV. DAFTAR PUSTAKA
Anonima, 2009, Pengolahan Limbah Industri Farmasi, tersedia online, http://download.fa.itb.ac.i d/filenya/Handout%20Kuliah/Farmasi%20Lingkungan/Limbah%20Industri%20Farmasi.pdf, diakses 25 November 2009
Anonimb, 2009, Residu Farmasi, http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.tu-harburg.de/aww/publikationen/pdf/paper_hammer_kiev.pdf&prev=/translate_s%3Fhl%3Did%26q%3Dskema%2Bpengolahan%2Blimbah%2Bindustri%2Bfarmasi%26tq%3Dwaste%2Btreatment%2Bscheme%2Bpharmaceutical%2Bindustry%26sl%3Did%26tl%3Den%26start%3D10, tersedia online, diakses 25 November 2009
Anonimc, 2009, Teknologi Pengolahan Limbah, tersedia online http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-limbah-b3/, diakses 25 November 2009
Anonimd, 2009, Pengantar Pengolahan Limbah, tersedia online http://kuliah.ftsl.itb.ac.id/wp-content/uploads/2009/03/pengantar- pengolahan-air-limbah-compatibility-mode1.pdf, diakses 25 November 2009
Salmiyatun, 2003, Panduan Pembuangan Limbah Perbekalan Farmasi, penerbit Buku Kedokteran EGC

5 komentar:

ayo tulis komentar donk